Monumen macan putih yang berdiri di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, mendadak menjadi sorotan luas setelah perbincangannya ramai di media sosial. Patung yang terpasang di sebuah persimpangan jalan ini menarik perhatian karena tampil berbeda dari gambaran harimau pada umumnya. Unggahan video yang beredar memicu diskusi publik, namun juga membuka ruang dialog positif tentang kreativitas warga desa dan identitas lokal. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana monumen desa dapat menjadi pemantik percakapan publik, sekaligus menunjukkan kekuatan media sosial dalam mengangkat cerita dari wilayah Kabupaten Kediri.
Menanggapi viralnya patung tersebut, Pemerintah Kabupaten Kediri bergerak cepat memberikan klarifikasi. Kepala DPMPD Kabupaten Kediri, Agus Cahyono, memastikan pembangunan patung macan putih tidak menggunakan Dana Desa maupun APBDes. Informasi ini disampaikan untuk meluruskan asumsi yang berkembang di ruang digital. Menurutnya, keterbukaan informasi penting agar masyarakat memahami konteks pembangunan berbasis partisipasi. Langkah klarifikasi ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga transparansi publik dan membangun kepercayaan terhadap pembangunan desa.
Agus menjelaskan, pendanaan patung murni berasal dari swadaya masyarakat dan dukungan donatur. Pemilihan simbol macan putih memiliki makna kultural yang kuat bagi warga setempat, yang meyakini adanya figur penjaga desa dalam cerita turun-temurun. Sekretaris Desa Balongjeruk, Ardan Setiadi, menambahkan bahwa gagasan patung lahir dari musyawarah warga yang ingin menghadirkan ikon sebagai penanda wilayah. Kesepakatan ini menunjukkan kuatnya gotong royong, pelestarian kearifan lokal, serta semangat partisipasi warga.
Kepala Desa Balongjeruk, Safii'i, menyampaikan bahwa ia menyetujui pembangunan patung dengan pembiayaan pribadi senilai Rp3,5 juta. Dana tersebut digunakan untuk jasa pembuatan, alas patung, serta material, dengan sebagian bahan disumbangkan warga secara sukarela. Proses pengerjaan berlangsung sekitar satu bulan. Meski hasil akhirnya menuai beragam tanggapan, niat awalnya adalah memperkuat identitas desa. Pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga tentang pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, seniman lokal, dan aspirasi masyarakat.
Menindaklanjuti masukan publik, pemerintah desa memutuskan melakukan penyempurnaan dengan mengganti patung menggunakan desain baru yang lebih estetik dan mendekati wujud macan putih. Patung pengganti telah dipesan dari perajin di wilayah Ngadiluwih dengan ukuran yang sama dan target kemiripan minimal 90 persen. Langkah ini disambut positif sebagai bentuk responsif dan adaptif terhadap aspirasi publik. Ke depan, monumen ini diharapkan menjadi simbol kebanggaan desa yang memperkuat identitas desa, mendorong pariwisata lokal, serta menumbuhkan kolaborasi kreatif.
_____________
liputansembilan