"Kami sudah melakukan ekspor ke Singapura dua kali," kata Kepala Desa Tinjul, Amren Zaini, pada Rabu (5/3/2025).
Selain Singapura, Batam dan Tanjungpinang juga menjadi pasar utama untuk hasil tambak udang ini. Setiap siklus panen yang berlangsung selama tiga bulan, tambak di Desa Tinjul dapat menghasilkan 80-100 ton udang vaname.
"Saat ini, pasar terbesar ada di Batam dan Tanjungpinang. Setiap siklus panen, yang berlangsung setiap tiga bulan, menghasilkan sekitar 80-100 ton," ujar Amren.
Amren menjelaskan bahwa awalnya tambak udang vaname di Desa Tinjul hanya memiliki satu kolam yang dibangun oleh pemerintah desa. Namun, seiring berjalannya waktu, usaha ini mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lingga dan Pemerintah Provinsi Kepri.
"Tambak ini dimulai dengan satu kolam yang dibangun oleh pemerintah Desa Tinjul, kemudian mendapat dukungan dari Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, dan Bupati Lingga, Muhammad Nizar," jelas Amren.
Pada awalnya, tambak udang hanya memiliki lima kolam. Namun kini jumlah kolam tersebut meningkat pesat menjadi 45 kolam. Lima kolam dikelola oleh pemerintah desa, sementara 40 kolam lainnya dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
"Alhamdulillah, kini sudah ada 45 tambak udang aktif di Desa Tinjul. Lima kolam dikelola oleh desa, sementara 40 kolam lainnya dikelola mandiri oleh masyarakat," tambahnya.
Lima tambak yang dikelola pemerintah desa telah membuka lapangan pekerjaan bagi tiga kelompok masyarakat dengan total sekitar 40 pekerja.
"Tambak udang ini dikelola oleh masyarakat Desa Tinjul, yang melibatkan tiga kelompok dengan total sekitar 40 pekerja," kata Amren.
Lebih lanjut, Amren menyebutkan bahwa perkembangan tambak udang vaname di Desa Tinjul juga merupakan bagian dari upaya ketahanan pangan yang digalakkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Selama dua tahun terakhir, tambak udang vaname di Desa Tinjul telah berkembang pesat. Kini, tambak udang ini juga menjadi bagian dari upaya ketahanan pangan yang didorong oleh Presiden Indonesia, Prabowo Subianto," ujarnya.
_____________