Dalam pernyataannya kepada awak media, Gus Yahya menyebutkan bahwa ia datang ke istana untuk menyampaikan laporan kegiatan Nahdlatul Ulama (NU) kepada Presiden Prabowo. Ia juga menyampaikan harapan agar kerja sama antara pemerintah dan NU bisa terus berlanjut dengan arahan yang lebih jelas ke depannya.
"Kita sudah berjalan cukup jauh. Sekarang tinggal minta arahan Presiden, bagaimana langkah-langkah selanjutnya," ujar Gus Yahya sambil tersenyum.
Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa hubungan antara PBNU dan pemerintah akan terus dipererat, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, pendidikan, dan keagamaan di era pemerintahan baru ini. Apalagi, NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia kerap dilibatkan dalam berbagai program strategis nasional.
Selain Gus Yahya, Presiden Prabowo juga memanggil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dan Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BPPIK) Aris Marsudiyanto. Namun saat ditanya soal agenda pembahasannya, Brian memilih irit bicara. "Belum tahu, nanti ya," ujarnya singkat.
Pemanggilan sejumlah tokoh penting ini menandakan bahwa pemerintahan Prabowo mulai mengonsolidasikan kekuatan dari berbagai lini—baik dari sisi keagamaan seperti NU, maupun dari sisi sains dan pembangunan nasional.
Sementara netizen mulai berspekulasi di media sosial mengenai arah pertemuan ini. Banyak yang berharap kolaborasi NU dan pemerintah bisa menyentuh sektor pendidikan, perdamaian sosial, hingga pengembangan pesantren berbasis teknologi.
Tidak sedikit pula yang menduga bahwa ini adalah bagian dari manuver awal Prabowo dalam membangun koalisi kebangsaan yang melibatkan elemen-elemen besar masyarakat sipil.
Dengan belum adanya keterangan resmi dari pihak istana, publik tampaknya masih harus menunggu hasil konkret dari pertemuan hari ini. Tapi satu hal yang pasti, sinyal penguatan kolaborasi antara NU dan pemerintahan Prabowo sudah terlihat jelas dari kunjungan Gus Yahya.
_____________