Pernyataan seorang tokoh agama asal Jawa Tengah, Ahmad Eko Nuryanto, mendadak menjadi pusat perhatian warganet setelah ucapannya yang mengaitkan bencana alam di Aceh dengan isu permintaan kemerdekaan beredar luas di media sosial. Potongan video dan kutipan pernyataannya viral, memicu gelombang reaksi emosional dari berbagai kalangan.
Dalam narasi yang beredar, Aceh disebut sebagai Serambi Mekah, namun pada saat yang sama dikaitkan dengan isu separatisme. Pernyataan tersebut kemudian ditafsirkan sebagai anggapan bahwa bencana alam yang terjadi merupakan bentuk murka atau laknat Tuhan. Pengaitan ini langsung menyulut kontroversi karena menyentuh dua isu sensitif sekaligus, yakni bencana alam dan identitas politik suatu daerah.
Reaksi publik di ruang digital pun mengalir deras. Banyak pengguna media sosial mengecam keras pernyataan tersebut karena dinilai menyudutkan masyarakat Aceh secara kolektif. Warganet menilai narasi semacam itu berbahaya karena menyederhanakan persoalan kompleks menjadi kesimpulan moral yang menyalahkan korban. Selain itu, pengaitan bencana dengan isu politik dianggap tidak memiliki dasar ilmiah maupun landasan teologis yang kuat.
Tak sedikit pula yang menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk generalisasi yang berpotensi memecah belah persatuan. Aceh, menurut banyak warganet, adalah wilayah dengan sejarah panjang dan kompleks, sehingga tidak adil jika bencana alam yang terjadi di sana dikaitkan dengan stigma tertentu. Kritik juga datang dari mereka yang mengingatkan bahwa bencana merupakan fenomena alam yang dipengaruhi faktor geologis dan lingkungan, bukan semata persoalan moral atau politik.
Di tengah gelombang kecaman, ada pula sebagian kecil warganet yang mencoba melihat pernyataan itu sebagai pandangan personal yang bersifat subjektif. Kelompok ini berpendapat bahwa setiap tokoh memiliki kebebasan berpendapat, meski tidak semua pandangan harus disepakati. Namun suara semacam ini relatif tenggelam di tengah dominasi kritik tajam yang memenuhi linimasa.
Secara umum, reaksi publik lebih banyak berisi seruan agar tokoh agama lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan ke ruang publik. Banyak yang mengingatkan bahwa ucapan figur publik memiliki dampak luas, terutama ketika menyangkut isu sensitif seperti bencana alam, keimanan, dan identitas daerah. Kesalahan narasi dikhawatirkan dapat melukai perasaan korban dan memperkeruh suasana sosial.
Hingga saat ini, potongan pernyataan tersebut masih terus diperbincangkan dan memicu diskusi panjang di media sosial. Perdebatan bukan hanya soal isi ucapan, tetapi juga tentang batas etika berbicara di ruang publik, tanggung jawab moral tokoh agama, serta bahaya mengaitkan musibah dengan stigma politik atau wilayah tertentu.
_____________
liputansembilan