Kebijakan pendidikan tinggi di China kembali mencuri perhatian dunia setelah muncul laporan bahwa mahasiswa doktoral kini bisa meraih gelar PhD tanpa harus menulis disertasi setebal ratusan halaman. Alih-alih fokus pada karya tulis akademik yang panjang dan sering kali hanya berakhir di rak perpustakaan, sistem baru ini mendorong mahasiswa menciptakan produk nyata yang bisa langsung dimanfaatkan.
Laporan yang ramai dibahas menyebut pemerintah China mulai lelah dengan tradisi disertasi panjang yang dinilai kurang berdampak langsung pada masyarakat dan industri. Selama ini, banyak riset doktoral dianggap terlalu teoritis, sulit diakses publik, dan jarang diterapkan secara konkret. Karena itu, pendekatan baru diarahkan pada inovasi berbasis produk dan solusi praktis.
Dalam skema ini, mahasiswa doktoral dapat memperoleh gelar jika berhasil mengembangkan produk, teknologi, atau inovasi yang terbukti memiliki nilai guna dan potensi komersial. Artinya, keberhasilan tidak lagi semata diukur dari jumlah halaman dan sitasi ilmiah, tetapi dari dampak nyata terhadap dunia usaha dan kebutuhan sosial.
Kebijakan tersebut disebut sebagai bagian dari strategi besar China memperkuat daya saing teknologi dan industri dalam jangka panjang. Negara itu memang dikenal agresif mendorong riset terapan, terutama di bidang kecerdasan buatan, energi, manufaktur canggih, dan bioteknologi. Perubahan standar kelulusan doktoral ini dinilai sejalan dengan ambisi tersebut.
Namun, wacana ini juga memicu perdebatan. Sebagian kalangan akademisi khawatir penghapusan disertasi tradisional bisa menggerus kedalaman kajian ilmiah dan melemahkan fondasi teoritis. Mereka menilai riset dasar tetap penting sebagai pijakan inovasi jangka panjang. Tanpa landasan teori yang kuat, produk mungkin cepat lahir, tetapi berisiko kurang kokoh secara ilmiah.
Di sisi lain, banyak pihak memuji langkah ini sebagai terobosan berani. Model pendidikan doktoral yang lebih aplikatif dianggap mampu menjembatani kesenjangan antara kampus dan industri. Mahasiswa tidak lagi sekadar menghasilkan dokumen akademik, melainkan prototipe, paten, atau sistem yang bisa langsung diuji di pasar.
Perubahan ini juga dinilai sebagai sinyal bahwa dunia pendidikan tinggi tengah mengalami transformasi global. Di era persaingan teknologi yang ketat, negara-negara berlomba menciptakan inovator, bukan hanya penulis jurnal. China tampaknya ingin memastikan setiap riset doktoral berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemandirian teknologi nasional.
Meski demikian, detail implementasi kebijakan ini masih menjadi perhatian. Publik bertanya-tanya apakah model baru tersebut akan berlaku untuk semua bidang studi atau hanya sektor tertentu yang berorientasi teknologi dan industri.
_____________
liputansembilan