Perbincangan mengenai program Makan Bergizi Gratis atau MBG kembali menjadi sorotan publik setelah beredarnya unggahan dari seorang ibu murid di wilayah Tangerang Selatan. Unggahan tersebut menampilkan keluhan terkait pembagian MBG di salah satu SMK yang dinilai tidak sesuai dengan ekspektasi para orang tua. Keluhan ini dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu diskusi luas di kalangan wali murid maupun warganet.
Dalam unggahannya, ibu murid tersebut menjelaskan bahwa pembagian program MBG tidak lagi dilakukan setiap hari seperti sebelumnya. Makanan disebut dibagikan secara dirapel untuk satu minggu penuh. Paket yang diterima siswa berisi roti, dua butir telur, dan dua buah pisang. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya di kalangan wali murid karena menu tersebut dinilai tidak mencerminkan konsep makan bergizi harian bagi anak sekolah.
Sorotan semakin menguat ketika perbandingan dilakukan dengan anggaran MBG yang disebut mencapai Rp15 ribu per hari. Jika dihitung untuk lima hari, total anggaran seharusnya mencapai Rp75 ribu per siswa. Namun, paket yang dibagikan dinilai jauh dari nilai tersebut. Sejumlah orang tua menilai menu tersebut lebih menyerupai camilan ringan dibandingkan makanan bergizi yang mampu memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi siswa selama proses kegiatan belajar di sekolah.
Reaksi publik pun bermunculan di berbagai platform digital. Banyak warganet mempertanyakan mekanisme penyaluran dan pengawasan program pemerintah tersebut. Sebagian pihak menyarankan agar pelaksanaan MBG dievaluasi dan ditata ulang, terutama saat kegiatan sekolah libur, agar saat siswa kembali masuk, program dapat berjalan lebih optimal. Hingga kini, unggahan tersebut masih beredar luas dan memicu harapan agar pihak terkait memberikan klarifikasi serta melakukan evaluasi menyeluruh demi memastikan hak anak tetap terpenuhi.
_____________
liputansembilan