Stres sering menjadi pemicu utama perubahan emosi seseorang, termasuk ketika ditagih utang. Sejumlah psikiater menjelaskan bahwa respons marah atau menjadi lebih galak saat diingatkan soal kewajiban finansial bukan semata soal sikap buruk, tetapi berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri secara psikologis.
Saat seseorang memiliki utang, apalagi dalam kondisi ekonomi tertekan, muncul rasa terancam terhadap harga diri dan rasa aman. Tagihan dianggap sebagai pengingat kegagalan atau ketidakmampuan memenuhi tanggung jawab. Otak kemudian mengaktifkan respons "fight or flight". Dalam banyak kasus, yang muncul adalah reaksi "fight" berupa kemarahan, nada tinggi, atau sikap defensif.
Dalam kacamata psikiatri, utang bisa memicu kecemasan kronis. Ketika kecemasan menumpuk, toleransi emosi menjadi menurun. Hal kecil seperti pesan pengingat pembayaran bisa terasa seperti serangan personal. Rasa malu juga berperan besar. Alih-alih mengakui kesulitan, sebagian orang memilih menyerang balik agar tidak terlihat lemah.
Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep ego defense mechanism atau mekanisme pertahanan ego. Salah satunya adalah proyeksi, yakni ketika seseorang memindahkan rasa bersalah atau takutnya kepada orang lain. Penagih utang dianggap sebagai penyebab tekanan, padahal sumber stres berasal dari kondisi finansialnya sendiri.
Selain itu, ada faktor budaya. Di masyarakat yang sangat menjunjung harga diri dan reputasi, masalah utang bisa terasa memalukan. Ketika identitas diri terancam, reaksi emosional cenderung lebih intens. Rasa kehilangan kontrol atas situasi keuangan membuat sebagian orang berusaha merebut kembali kontrol melalui kemarahan.
Psikiater juga menyoroti bahwa tekanan finansial berkepanjangan dapat memengaruhi kesehatan mental secara serius, mulai dari gangguan tidur, mudah tersinggung, hingga depresi. Dalam kondisi demikian, kemampuan berpikir rasional menurun. Respons emosional menjadi lebih dominan dibanding pertimbangan logis.
Namun para ahli menegaskan, memahami alasan psikologis bukan berarti membenarkan perilaku kasar. Solusi yang disarankan adalah komunikasi terbuka dan realistis. Mengakui kesulitan, menyusun ulang jadwal pembayaran, serta mencari dukungan profesional dapat membantu meredakan ketegangan.
Bagi pihak yang menagih, pendekatan empatik juga dinilai lebih efektif daripada tekanan agresif. Sementara bagi yang berutang, mengelola stres dan menerima kondisi dengan jujur menjadi langkah awal agar emosi tidak terus meledak setiap kali topik utang muncul.
_____________
liputansembilan