AS Pernah Salah Tembak 290 Warga Sipil, Kini Iran Balas Serangan?
Ads
scroll to continue with content

Menu Atas

Header Menu

HEADLINES
.....

AS Pernah Salah Tembak 290 Warga Sipil, Kini Iran Balas Serangan?

Senin, 02 Maret 2026

Ads

Gambar Berita

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah serangan bertubi-tubi dilaporkan menghantam wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari waktu setempat. Serangan itu disebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi lainnya. Situasi langsung berubah drastis ketika Teheran merespons dengan menggempur pangkalan militer AS di berbagai titik Timur Tengah dan meluncurkan rudal balistik serta drone ke wilayah Israel.

Di tengah eskalasi terbaru ini, memori lama soal tragedi kelam hubungan AS-Iran kembali mencuat. Sejarah mencatat bagaimana ketegangan kedua negara pernah berujung pada insiden memilukan yang mengguncang dunia penerbangan sipil internasional.

Peristiwa itu terjadi pada 3 Juli 1988. Kapal perang Amerika Serikat, USS Vincennes, mendeteksi objek di radar saat berpatroli di Selat Hormuz. Komandannya, Kapten William C. Rogers III, mengira objek tersebut adalah jet tempur F-14 Iran yang dinilai mengancam. Tanpa verifikasi tambahan, dua rudal diluncurkan.

Belakangan terungkap, sasaran itu bukan pesawat militer. Yang ditembak jatuh adalah Iran Air Penerbangan 655, pesawat komersial jenis Airbus A300 yang tengah menempuh rute rutin dari Bandar Abbas menuju Dubai. Pesawat tersebut berada di jalur penerbangan sipil resmi dan membawa 290 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Tak satu pun selamat.

Puing-puing pesawat ditemukan berserakan di perairan Selat Hormuz setelah otoritas Iran kehilangan kontak. Dunia internasional bereaksi keras. Pemerintah Iran menuduh AS melakukan pelanggaran serius terhadap hukum internasional karena menembak jatuh pesawat sipil. Namun pada awalnya, Pentagon bersikeras bahwa target yang ditembak adalah pesawat tempur.

Seiring tekanan global, pihak AS mengakui terjadi kesalahan identifikasi. Ketua Kepala Staf Gabungan saat itu, Laksamana William J. Crowe Jr., menyampaikan penyesalan, tetapi tidak ada permintaan maaf resmi. Presiden AS kala itu, Ronald Reagan, justru membela awak kapal dan menyebut tindakan tersebut sebagai upaya bela diri di tengah situasi konflik kawasan.

Kasus ini kemudian dibawa ke Mahkamah Internasional. Pada 1992, Washington sepakat membayar kompensasi sebesar 61,8 juta dolar AS kepada keluarga korban, tanpa pengakuan kesalahan hukum. Hingga kini, tragedi Iran Air 655 tetap menjadi simbol fatalnya kesalahan militer yang merenggut ratusan nyawa sipil dan memperdalam luka dalam hubungan kedua negara.

_____________

Punya Kabar Menarik?

Bagikan di LiputanSembilan.com GRATIS! 🚀

Langsung tulis dan kirim tanpa login atau buat akun.


Apakah di sekitar kamu ada prestasi membanggakan, kisah inspiratif, atau acara penting yang jarang terliput media? Atau ingin mempromosikan produk dan jasa secara luas?


💡 LiputanSembilan.com membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengirimkan berita secara GRATIS!

✅ Berita tentang prestasi lokal, kisah unik, atau kejadian penting di komunitas Anda
✅ Promosi barang atau jasa untuk menjangkau lebih banyak orang

📢 Jangan lewatkan kesempatan ini! Kirim berita kamu sekarang dan jadilah bagian dari LiputanSembilan.com!


Kirim Berita