Habib Rizieq Shihab menyampaikan pandangan kritis terhadap kebijakan pemerintah dalam menangani bencana alam di sejumlah wilayah Pulau Sumatera. Dalam ceramahnya, ia menilai terdapat ketidakkonsistenan sikap negara, khususnya terkait penetapan status bencana nasional dan penerimaan bantuan asing. Menurutnya, penanganan bencana seharusnya mengedepankan keselamatan dan kemanusiaan, bukan pertimbangan gengsi atau citra semata, terlebih ketika dampak bencana masih dirasakan masyarakat luas Habib_Rizieq_Shihab, bencana_nasional, dan Pulau_Sumatera.
Ia menyoroti sikap pemerintah yang dinilai enggan menerima bantuan asing, sementara pada saat yang sama tidak ragu mengambil utang luar negeri dalam jumlah besar. Menurut Habib Rizieq, kondisi darurat justru menuntut keterbukaan dan kerja sama seluas mungkin demi percepatan pemulihan. Ia menegaskan bahwa mengakui bencana nasional bukanlah bentuk kelemahan negara, melainkan langkah strategis agar sumber daya, baik nasional maupun internasional, dapat digerakkan secara optimal bantuan_asing, utang_luar_negeri, dan penanganan_bencana.
Dalam ceramah tersebut, Habib Rizieq juga mengajak jamaah melihat kembali pengalaman masa lalu. Ia menyinggung peristiwa tsunami di Nusa Tenggara Timur pada 1992, ketika pemerintah pusat di bawah Presiden Soeharto dengan cepat menetapkan status bencana nasional. Menurutnya, keputusan tegas tersebut membuat proses pemulihan berjalan lebih sederhana, terarah, dan minim polemik, sehingga masyarakat dapat segera bangkit dari keterpurukan tsunami_NTT_1992, Presiden_Soeharto, dan pemulihan_pascabencana.
Ia juga mengingatkan kembali tragedi tsunami Aceh 2004. Menurut Habib Rizieq, penetapan bencana nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hari yang sama menjadi kunci derasnya bantuan internasional yang masuk. Ia menilai respons cepat tersebut memperlihatkan bagaimana sinergi pemerintah, masyarakat, dan komunitas global mampu mempercepat pemulihan wilayah terdampak secara signifikan tsunami_Aceh_2004, Presiden_SBY, dan bantuan_internasional.
Menutup pernyataannya, Habib Rizieq mempertanyakan kondisi penanganan bencana saat ini ketika sebagian wilayah terdampak masih mengalami keterbatasan logistik, air bersih, dan listrik. Ia berharap pemerintah dapat lebih terbuka dan realistis dalam menilai kemampuan negara, sehingga bantuan yang dibutuhkan masyarakat tidak terhambat oleh pertimbangan nonteknis. Menurutnya, fokus utama harus tetap pada percepatan evakuasi, pemulihan infrastruktur, dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak logistik_bencana, air_bersih, dan pemulihan_infrastruktur.
_____________
liputansembilan