Industri Tekstil Teriak! Lebih 20 Bank Tolak Kredit di Tengah Gempuran Impor Ilegal
Ads
scroll to continue with content

Menu Atas

Header Menu

HEADLINES
.....

Industri Tekstil Teriak! Lebih 20 Bank Tolak Kredit di Tengah Gempuran Impor Ilegal

Rabu, 24 Desember 2025

Ads

Gambar Berita

Industri tekstil nasional kembali menghadapi tantangan berat di tengah tekanan ekonomi akibat maraknya produk impor ilegal yang membanjiri pasar domestik. Kondisi tersebut berdampak langsung pada sulitnya pelaku usaha tekstil mengakses pembiayaan perbankan, meski pemerintah telah menggelontorkan dana besar untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor riil, termasuk industri tekstil nasional.

Keluhan tersebut disampaikan oleh PT Mayer Indah Indonesia melalui kanal Debottlenecking Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah. Persoalan ini bahkan langsung disidangkan oleh Menteri Keuangan dalam forum resmi di Kantor Kementerian Keuangan. General Manager PT Mayer Indah Indonesia, Melisa Suria, mengungkapkan bahwa perusahaannya telah mendatangi lebih dari 20 bank untuk mengajukan kredit modal kerja sebesar Rp4 miliar, namun seluruh pengajuan tersebut ditolak dengan alasan sektor tekstil masuk kategori berisiko tinggi.

Menurut Melisa, kondisi keuangan perusahaan semakin tertekan sejak pandemi Covid-19 melanda. Selama lima tahun terakhir, tabungan perusahaan terkuras untuk bertahan hidup di tengah penurunan permintaan dan pembatasan aktivitas masyarakat. Tak hanya itu, perusahaan juga menanggung tunggakan BPJS Ketenagakerjaan hampir Rp1 miliar yang terus bertambah akibat denda bulanan, memperparah beban keuangan di tengah lemahnya arus kas.

Dampak pandemi juga membuat omzet perusahaan anjlok hingga 50 persen karena minimnya kegiatan hajatan dan pesta. Harapan bangkit pascapandemi pun belum terwujud akibat derasnya barang impor murah yang menekan industri konveksi dalam negeri. Banyak pelanggan lama, terutama di kawasan Tanah Abang, terpaksa menghentikan produksi dan memulangkan para penjahit karena tidak mampu bersaing dari sisi harga.

Ironisnya, penolakan pembiayaan juga datang dari bank yang telah menjadi mitra lebih dari 15 tahun. Perbankan menilai industri tekstil sedang mengalami kondisi "bleeding" sehingga dianggap tidak layak dibiayai. Padahal, sekitar 80 persen penjualan perusahaan masih mengandalkan pasar domestik dan sisanya ekspor, meski kinerja ekspor ikut tertekan oleh konflik global dan lonjakan biaya kontainer.

Menjelang Lebaran, sinyal pemulihan mulai terlihat. Sejumlah konveksi kembali berproduksi dan memanggil para penjahit karena pesanan meningkat. Namun keterbatasan modal membuat pabrik hanya mampu memenuhi sebagian kecil permintaan. Kondisi ini dinilai berbahaya bagi keberlangsungan usaha tekstil jika tidak segera direspons melalui kebijakan pembiayaan yang lebih berpihak pada industri padat karya.

_____________

Punya Kabar Menarik?

Bagikan di LiputanSembilan.com GRATIS! 🚀

Langsung tulis dan kirim tanpa login atau buat akun.


Apakah di sekitar kamu ada prestasi membanggakan, kisah inspiratif, atau acara penting yang jarang terliput media? Atau ingin mempromosikan produk dan jasa secara luas?


💡 LiputanSembilan.com membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengirimkan berita secara GRATIS!

✅ Berita tentang prestasi lokal, kisah unik, atau kejadian penting di komunitas Anda
✅ Promosi barang atau jasa untuk menjangkau lebih banyak orang

📢 Jangan lewatkan kesempatan ini! Kirim berita kamu sekarang dan jadilah bagian dari LiputanSembilan.com!


Kirim Berita