Ketua Tim Pembela Ulama dan Aktivis, Eggi Sudjana, akhirnya buka suara soal keputusannya menemui mantan Presiden Joko Widodo yang belakangan memicu tanda tanya publik. Ia menegaskan langkah tersebut bukan tindakan spontan, melainkan hasil pergulatan batin yang panjang dan penuh pertimbangan. Pengakuan itu disampaikan lewat pesan WhatsApp yang dibacakan Reffly Harun dalam sebuah acara talk show politik pada pertengahan Januari dua ribu dua puluh enam.
Dalam pesannya, Eggi menyebut sejak empat bulan sebelumnya banyak pihak sudah mendorongnya untuk mendatangi Jokowi, namun semua ajakan itu ia tolak. Ia mengaku baru mengubah sikap setelah merenungi ayat-ayat Al-Qur'an, khususnya Surah Taha ayat empat puluh satu hingga empat puluh enam. Dari sanalah, menurut Eggi, muncul keyakinan bahwa pertemuan tersebut adalah sebuah panggilan ideologis, bukan sekadar urusan pribadi atau politik.
Eggi yang saat ini berstatus tersangka dalam perkara tudingan ijazah palsu Jokowi bahkan menggunakan analogi yang sangat provokatif. Ia mengibaratkan Jokowi sebagai sosok Firaun dalam konteks kekuasaan, merujuk pada kisah Nabi Musa dan Nabi Harun yang diperintahkan Tuhan untuk mendatangi penguasa zalim demi menyampaikan peringatan. Dalam tafsir Eggi, pesan utama ayat itu bukan soal siapa yang benar atau salah, melainkan kewajiban moral untuk tetap menegur penguasa, sekalipun penuh risiko.
Ia mengutip bagian ayat yang memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara dengan lemah lembut kepada Firaun, dengan harapan sang penguasa mau sadar dan kembali ke jalan yang benar. Bagi Eggi, itu menjadi landasan spiritual mengapa ia akhirnya memutuskan melangkah ke rumah Jokowi, meski dirinya berada dalam posisi hukum yang tidak menguntungkan.
Eggi juga menyinggung ketakutan Nabi Musa saat harus berhadapan dengan Firaun, yang kemudian dijawab Tuhan dengan jaminan perlindungan. Ia menafsirkan kisah itu sebagai dorongan agar tidak gentar menghadapi kekuasaan, selama niatnya adalah menyampaikan kebenaran. Dengan cara ini, Eggi menempatkan kunjungannya sebagai bentuk keberanian moral, bukan upaya mencari perlindungan atau kompromi politik.
Pernyataan ini langsung memantik beragam reaksi. Sebagian menilai Eggi sedang membangun narasi religius untuk membenarkan langkah yang kontroversial, sementara yang lain melihatnya sebagai ekspresi keyakinan pribadi yang ekstrem. Di tengah statusnya sebagai tersangka dan ketegangan isu seputar Jokowi, pertemuan tersebut kini dibaca sebagai drama politik yang sarat simbol dan tafsir.
Eggi sendiri tampak tak terlalu peduli dengan penilaian publik. Ia menegaskan bahwa kunjungannya adalah kewajiban ideologis, dan siapa pun boleh percaya atau tidak. Bagi dirinya, yang penting pesan sudah disampaikan, dan itu, menurut keyakinannya, sejalan dengan perintah yang ia pahami dari kitab suci.
_____________
liputansembilan