Sejumlah guru besar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mendadak merasa "kecele" setelah menerima undangan dialog bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara. Undangan itu tercantum dalam surat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang memuat delapan nama profesor UGM. Namun kenyataannya, tidak semua nama tersebut tercatat dalam daftar Sekretariat Negara, sehingga beberapa guru besar gagal masuk ke lokasi acara.
Dari delapan nama yang tercantum, hanya sebagian kecil yang benar-benar bisa melewati gerbang Istana. Ada pula yang memilih tidak datang karena meragukan efektivitas forum tersebut. Guru Besar Ilmu Perencanaan Kota Fakultas Teknik UGM, Bakti Setiawan, misalnya, memutuskan absen. Ia menilai jumlah peserta yang sangat banyak membuat dialog sulit berjalan substansial. Dalam pandangannya, ratusan orang dalam satu forum tidak mungkin semuanya mendapat kesempatan menyampaikan masukan secara langsung kepada presiden.
Bakti juga mengaku lebih memilih menyampaikan kritik dan pemikirannya melalui tulisan di jurnal akademik ketimbang hadir di forum yang menurutnya tidak jelas tujuannya. Ia bahkan mendengar kabar bahwa beberapa koleganya yang sudah berangkat ke Jakarta tetap tak bisa masuk Istana, meski namanya tercantum dalam undangan resmi Kemendiktisaintek.
Salah satu guru besar UGM yang mengalami langsung kejadian itu menceritakan betapa frustrasinya situasi yang dihadapi. Ia tiba di Jakarta sehari sebelum acara, setelah mengurus tiket pesawat secara mendadak. Namun, sesampainya di lokasi, namanya tidak ditemukan dalam daftar sehingga ia ditolak masuk. Padahal, staf UGM telah membantu proses registrasi sesuai ketentuan yang tercantum dalam undangan.
Lebih mengejutkan lagi, panitia disebut sempat menyarankan agar profesor tersebut menggunakan nama kampus lain supaya bisa lolos masuk. Tawaran itu ditolaknya, dan ia memilih kembali ke hotel. Selain persoalan daftar nama, panitia juga mengubah jadwal acara secara tiba-tiba dari pukul 13.00 menjadi 08.00–12.00, dengan pemberitahuan baru dikirim sehari sebelumnya melalui pesan WhatsApp.
Dalam pesan tersebut, panitia juga menetapkan sejumlah aturan ketat. Peserta diwajibkan membawa surat undangan, harus berangkat menggunakan bus yang disediakan pada pukul lima pagi, serta dilarang membawa gawai, jam tangan pintar, atau alat perekam. Yang diperbolehkan hanya buku dan alat tulis. Menurut sang profesor, dari delapan guru besar UGM yang diundang, hanya tiga orang yang benar-benar bisa masuk Istana, bahkan salah satunya disebut belum resmi bergelar profesor.
Surat undangan yang beredar mencantumkan sekitar 180 guru besar dari berbagai perguruan tinggi. Mereka dijadwalkan bertemu Presiden Prabowo untuk membahas peran kampus dalam mendukung Asta Cita Prabowo-Gibran. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari Istana maupun Kemendiktisaintek terkait kekacauan undangan tersebut.
_____________
liputansembilan