Pidato mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di hadapan kader Partai Solidaritas Indonesia dibaca oleh pengamat politik sebagai lebih dari sekadar suntikan semangat. Di balik nada optimistis dan ajakan memenangkan partai, terselip kegelisahan politik yang dinilai cukup dalam, terutama menyangkut masa depan karier politik putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka.
Pengamat politik dari Politika Research & Consulting, Nurul Fatta, menilai pidato Jokowi sarat pesan berlapis. Ia melihat ada kecemasan serius dari Jokowi terkait peluang Gibran untuk kembali mendampingi Presiden Prabowo Subianto pada periode berikutnya. Menurutnya, posisi Gibran sebagai wakil presiden tidak otomatis aman untuk dua periode, meski kerap didengungkan di ruang publik.
Nurul menyoroti bagaimana Jokowi berulang kali menegaskan narasi Prabowo-Gibran dua periode. Pengulangan tersebut dinilai bukan sekadar optimisme politik, melainkan bentuk harapan yang masih penuh tanda tanya. Dalam politik kekuasaan, pengulangan pesan semacam itu justru bisa dibaca sebagai sinyal kegelisahan, bukan keyakinan penuh.
Dari titik itulah, Nurul membaca arah manuver Jokowi yang mulai tampak membesarkan PSI secara serius. PSI dinilai bukan lagi sekadar partai anak muda atau pelengkap demokrasi, tetapi disiapkan sebagai kendaraan politik alternatif. Jika skenario Prabowo-Gibran tidak berlanjut, PSI disebut bisa menjadi jalur cadangan bagi Gibran untuk melangkah sendiri ke kontestasi nasional.
Langkah ini juga dibaca sebagai pesan tersirat kepada elite politik lain. Jokowi dinilai sedang menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki opsi, pengaruh, dan daya tawar. Dalam politik, kecemasan kerap melahirkan langkah ofensif, termasuk dalam bentuk sinyal atau gertakan halus kepada pihak-pihak yang berpotensi menghambat kepentingannya.
Nurul juga menyoroti dinamika simbolik antara Jokowi dan Kaesang Pangarep di panggung Rakernas PSI. Interaksi keduanya, yang dibalut candaan dan semangat berlebihan, dinilai sebagai komunikasi politik yang sengaja dipertontonkan. Kaesang disebut seperti menyerap energi politik sang ayah, bahkan sampai menampilkan semangat yang terkesan total demi membesarkan PSI.
Hubungan politik ayah dan anak ini dianalogikan Nurul sebagai upaya menunjukkan "gading" ke hadapan publik. Sebuah simbol kekuatan, kepercayaan diri, sekaligus peringatan. Namun, di balik simbol itu, tersimpan pesan lain bahwa tidak ada kekuasaan yang sepenuhnya utuh dan abadi.
Menurut Nurul, persepsi publik bahwa Jokowi masih sangat kuat secara politik bisa saja benar saat ini, tetapi waktu dan dinamika kekuasaan bisa menggerusnya. Apa yang tampak solid hari ini, bisa berubah retak di kemudian hari.
_____________
liputansembilan