Guru yang Dikeroyok Siswa Tak Datang Mediasi, Drama SMK Negeri 3 Berbak Makin Panas
Ads
scroll to continue with content

Menu Atas

Header Menu

HEADLINES
.....

Guru yang Dikeroyok Siswa Tak Datang Mediasi, Drama SMK Negeri 3 Berbak Makin Panas

Jumat, 16 Januari 2026

Ads

Gambar Berita

Aparat kepolisian bersama Dinas Pendidikan Provinsi Jambi turun tangan langsung menangani konflik yang pecah antara seorang guru dan siswa di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kasus yang sempat membuat dunia pendidikan setempat geger itu kini dimediasi dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Polres Tanjab Timur, TNI, kejaksaan, hingga pejabat dinas pendidikan.

Proses mediasi digelar di ruang majelis guru sekolah tersebut dan bertujujuan meredam ketegangan sekaligus mencari jalan keluar yang adil bagi semua pihak. Kapolres Tanjung Jabung Timur AKBP Ade Chandra menyatakan pihaknya menyesalkan terjadinya insiden yang mencoreng citra pendidikan. Ia menegaskan kepolisian masih mendalami kronologi kejadian agar memperoleh gambaran yang utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas.

Meski forum mediasi sudah digelar, suasana tetap terasa janggal karena sosok utama yang terlibat dalam insiden, guru bernama Agus Saputra, tidak hadir. Ketidakhadirannya ini bahkan tercatat sebagai yang kedua kalinya setelah sebelumnya juga mangkir dari undangan serupa. Hal tersebut menimbulkan tanda tanya di kalangan pihak sekolah maupun aparat yang sedang berupaya menyelesaikan persoalan.

Akibat konflik itu, kegiatan belajar mengajar di SMK Negeri 3 Berbak sempat dihentikan sementara. Langkah ini diambil untuk mencegah situasi makin memanas serta memberi ruang bagi proses klarifikasi dan penyelesaian. Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Harmonis, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut dan menegaskan akan dilakukan evaluasi menyeluruh.

Dinas Pendidikan, kata Harmonis, tidak menutup mata terhadap tuntutan siswa dan sejumlah tenaga pendidik yang meminta agar guru yang bersangkutan tidak lagi mengajar di sekolah itu. Semua tuntutan akan ditelaah sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku, sehingga keputusan yang diambil nantinya memiliki dasar yang jelas dan tidak menimbulkan polemik baru.

Di sisi lain, seorang siswa yang mengaku menjadi korban menyebutkan bahwa keributan bermula dari kesalahpahaman di dalam kelas. Situasi itu kemudian memicu emosi siswa lain hingga berujung pada aksi kekerasan. Versi ini kini menjadi salah satu bahan yang sedang digali oleh aparat untuk memastikan rangkaian peristiwa yang sebenarnya.

Pihak sekolah berharap konflik tersebut tidak berlarut-larut dan bisa segera diselesaikan melalui jalur mediasi. Kembalinya suasana kondusif dianggap penting agar aktivitas belajar mengajar dapat berjalan normal tanpa bayang-bayang ketegangan. Di tengah sorotan publik, kasus ini menjadi pengingat betapa rapuhnya relasi di lingkungan pendidikan jika komunikasi dan pengelolaan emosi tidak berjalan dengan baik.

_____________

Punya Kabar Menarik?

Bagikan di LiputanSembilan.com GRATIS! 🚀

Langsung tulis dan kirim tanpa login atau buat akun.


Apakah di sekitar kamu ada prestasi membanggakan, kisah inspiratif, atau acara penting yang jarang terliput media? Atau ingin mempromosikan produk dan jasa secara luas?


💡 LiputanSembilan.com membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengirimkan berita secara GRATIS!

✅ Berita tentang prestasi lokal, kisah unik, atau kejadian penting di komunitas Anda
✅ Promosi barang atau jasa untuk menjangkau lebih banyak orang

📢 Jangan lewatkan kesempatan ini! Kirim berita kamu sekarang dan jadilah bagian dari LiputanSembilan.com!


Kirim Berita