Indonesia kembali disorot komunitas global setelah laporan terbaru Bank Dunia tahun dua ribu dua puluh lima menempatkan negara ini di posisi kedua dunia dengan jumlah penduduk miskin terbanyak jika dihitung memakai garis kemiskinan internasional. Temuan tersebut terasa kontras dengan status Indonesia yang kini telah naik kelas sebagai negara berpendapatan menengah atas, sehingga memunculkan pertanyaan besar tentang kualitas kesejahteraan warganya.
Peringkat itu menandakan bahwa persoalan kemiskinan di Indonesia belum benar-benar teratasi. Di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dan berbagai program bantuan yang terus digulirkan, jumlah warga yang tergolong miskin menurut standar global masih sangat besar. Ini menunjukkan adanya jurang antara keberhasilan makroekonomi dan realitas kehidupan masyarakat di lapisan terbawah.
Bank Dunia menggunakan metodologi penghitungan yang berbeda dengan ukuran kemiskinan nasional. Pendekatan internasional tersebut menyesuaikan garis kemiskinan dengan biaya hidup, harga kebutuhan pokok, dan tingkat kesejahteraan di masing-masing negara. Dengan standar itu, gambaran yang muncul menjadi lebih luas karena memungkinkan perbandingan lintas negara, bukan sekadar melihat kondisi internal suatu wilayah.
Melalui metode ini, sebagian besar penduduk Indonesia masih dikategorikan miskin dalam konteks global. Dengan kata lain, meskipun data nasional menunjukkan tren penurunan kemiskinan, posisi Indonesia jika disejajarkan dengan standar dunia mengungkapkan bahwa daya beli dan kualitas hidup banyak warganya masih tertinggal. Perbedaan cara ukur inilah yang membuat situasi Indonesia tampak lebih mengkhawatirkan di mata internasional.
Faktor jumlah penduduk juga memperkuat dampak temuan tersebut. Sebagai salah satu negara berpenduduk terbesar di dunia, sedikit perubahan dalam garis kemiskinan saja dapat langsung memengaruhi jutaan orang. Akibatnya, Indonesia mudah menempati posisi atas dalam daftar negara dengan populasi miskin terbanyak meski secara persentase tidak selalu yang terburuk.
Laporan Bank Dunia turut menyoroti adanya kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat bawah. Angka-angka makro yang positif belum sepenuhnya berbuah pada peningkatan pendapatan riil, akses layanan publik, dan kualitas hidup secara merata. Banyak warga masih bergulat dengan biaya pendidikan, kesehatan, dan perumahan yang relatif mahal dibandingkan penghasilan mereka.
Para pengamat menilai kemiskinan di Indonesia tidak bisa dilihat semata dari besaran upah. Akses terhadap pekerjaan layak, jaminan sosial, layanan kesehatan, dan pendidikan yang berkualitas menjadi komponen penting dalam ukuran kemiskinan global. Ketika aspek-aspek ini belum terpenuhi, masyarakat tetap tergolong miskin meski tidak selalu tercatat demikian dalam statistik nasional.
Perbedaan harga antarwilayah, ketimpangan pembangunan, serta dominasi sektor informal ikut memperparah situasi. Banyak orang yang secara angka berada di atas garis kemiskinan nasional, namun tetap masuk kategori miskin internasional karena daya belinya rendah dan hidupnya rentan. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah, yang dituntut tidak hanya mengandalkan bantuan sosial, tetapi juga melakukan reformasi struktural dan pemerataan ekonomi yang lebih serius.
_____________
liputansembilan