Sebuah unggahan media sosial kembali memicu perbincangan setelah menyederhanakan berbagai persoalan hidup dengan satu resep tunggal: berjalan kaki 10.000 langkah. Dalam unggahan tersebut, pengguna menuliskan daftar masalah mulai dari depresi, kelebihan berat badan, tidak punya teman, mudah lelah, gangguan pencernaan, hingga rasa bosan, lalu menutup semuanya dengan jawaban yang sama—10.000 langkah. Klaim itu ditutup dengan kalimat tegas bahwa berjalan kaki adalah obat untuk segalanya.
Unggahan tersebut diperkuat dengan gambar perbandingan aktivitas otak. Di satu sisi ditampilkan kondisi otak setelah duduk diam, dengan dominasi warna biru dan hijau yang diasosiasikan dengan aktivitas rendah. Di sisi lain, ditampilkan otak setelah berjalan selama 20 menit, dengan warna kuning dan merah yang jauh lebih dominan, seolah menandakan lonjakan aktivitas dan energi. Visual ini langsung menyedot perhatian dan membuat pesan "jalan kaki menyembuhkan segalanya" terlihat ilmiah dan meyakinkan.
Respons publik pun terbelah. Sebagian warganet menyambutnya dengan antusias, menganggap berjalan kaki sebagai solusi murah, mudah, dan realistis di tengah gaya hidup sedentari. Banyak yang membagikan pengalaman pribadi, mengaku pikiran lebih jernih, mood membaik, dan tubuh terasa lebih ringan setelah rutin berjalan. Unggahan itu dianggap sebagai pengingat sederhana di tengah banjir motivasi rumit dan metode kesehatan yang mahal.
Namun tak sedikit pula yang menilai pesan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan kompleks. Depresi, kesepian, dan gangguan kesehatan dinilai tidak bisa diselesaikan hanya dengan hitungan langkah. Beberapa komentar menyebut unggahan ini berpotensi menimbulkan rasa bersalah baru, seolah masalah mental atau fisik muncul semata karena kurang bergerak. Kritik ini semakin kuat ketika kalimat-kalimatnya dianggap bernada menghakimi dan minim empati.
Di sisi lain, unggahan tersebut juga memicu diskusi soal obsesi angka 10.000 langkah. Banyak yang mempertanyakan dari mana standar itu berasal dan apakah benar berlaku universal. Sebagian menyebut angka tersebut lebih bersifat simbolis daripada medis, namun tetap efektif sebagai pemicu orang untuk bergerak lebih banyak. Dalam konteks media sosial, angka bulat dan repetitif dinilai lebih mudah viral dan melekat di ingatan.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana pesan kesehatan di era digital sering kali dibungkus dalam format provokatif dan simplistis. Dengan satu kalimat dan satu gambar, unggahan tersebut berhasil memicu emosi, perdebatan, dan refleksi. Antara inspirasi dan oversimplifikasi, pesan "jalan kaki adalah obat" kini berubah menjadi bahan gosip publik, bukan lagi sekadar ajakan hidup sehat, tetapi juga cermin cara media sosial mengemas solusi instan untuk masalah manusia yang jauh lebih rumit.
_____________
liputansembilan