Oleh: Tri Prakoso, SH. MHP. - Ksatria Merah Jambu Foundation
China Shakes the World, Buku lama Jack Belden mengingatkan: revolusi tidak lahir dari ideologi semata, tetapi dari perut lapar dan negara yang kehilangan legitimasi. Sayangnya, kita hari ini justru membaca China tanpa sejarah.
Ada dua cara membaca Tiongkok hari ini. Cara pertama: dengan grafik. Pertumbuhan ekonomi, ekspor, surplus perdagangan, investasi global, kecerdasan buatan. Cara kedua: dengan ketakutan. Ancaman geopolitik, ekspansi militer, jebakan utang, otoritarianisme digital. Masalahnya, dua cara itu sama-sama malas.
Kita membaca Tiongkok seperti membaca laporan keuangan atau briefing keamanan. Kita lupa bahwa di balik semua itu ada sejarah panjang tentang kelaparan, perang, kehancuran negara, dan revolusi sosial yang brutal. Kita lupa bahwa negara kuat hampir selalu lahir dari penderitaan kolektif yang ekstrem.
Di sinilah China Shakes the World karya Jack Belden menjadi penting dan sekaligus memalukan bagi pembaca hari ini. Memalukan, karena buku yang ditulis puluhan tahun lalu ini justru lebih jujur, lebih dekat, dan lebih berani dalam membaca Tiongkok dibanding banyak analisis kontemporer yang terjebak dalam jargon geopolitik.
Revolusi Tidak Pernah Netral
Belden tidak datang ke Tiongkok sebagai akademisi yang aman di balik meja. Ia masuk ke wilayah perang, desa-desa, medan gerilya, dan masyarakat yang sedang retak. Dari struktur bukunya saja sudah terlihat jelas: ia tidak tertarik pada pidato elite, tetapi pada tanah, petani, perang rakyat, dan keruntuhan kekuasaan lama. Itu penting !!!.
Karena revolusi tidak pernah lahir dari ruang seminar. Ia lahir dari perut kosong, dari pajak yang mencekik, dari aparat yang korup, dari negara yang kehilangan wajah di hadapan rakyatnya. Belden memperlihatkan satu hal yang sering diabaikan: kemenangan Komunis di Tiongkok bukan semata hasil ideologi, tetapi hasil kegagalan total rezim lama dalam mempertahankan legitimasi. Chiang Kai-shek punya tentara, pengakuan internasional, dan dukungan global. Tapi ia tidak punya rakyat. Dan dalam sejarah, itu selalu cukup untuk kalah.
Negara Bisa Besar, Tapi Bisa Kosong
Salah satu pelajaran paling tajam dari buku ini sederhana: negara bisa terlihat kuat, tetapi sesungguhnya kosong. Kuomintang adalah negara yang secara formal sah. Ia diakui dunia, memiliki struktur militer, bahkan didukung kekuatan global. Tetapi di mata rakyatnya sendiri, ia telah kehilangan makna. Pajak tinggi, korupsi merajalela, dan ketidakmampuan melindungi masyarakat membuat negara berubah menjadi beban, bukan pelindung. Sebaliknya, kekuatan Komunis tumbuh dari bawah—dari desa, dari hubungan tanah, dari kemampuan memberi rasa keadilan (atau setidaknya harapan akan keadilan).
Belden tidak romantis. Ia tidak menulis propaganda. Ia hanya menunjukkan fakta sosial yang brutal: ketika negara gagal, siapa pun yang mampu mengorganisasi penderitaan rakyat akan menang. Itu hukum sejarah.
Dunia Barat Salah Membaca China dan Kita Ikut-ikutan
Dalam pengantar Owen Lattimore, ada kritik yang masih relevan sampai hari ini: banyak pengamat Barat gagal memahami Tiongkok karena terlalu sibuk membaca ideologi, bukan realitas sosial. Segala sesuatu disederhanakan: "ini proyek Moskwa", "ini komunisme internasional", "ini ekspansi ideologi".
Padahal, seperti ditunjukkan Belden, revolusi Tiongkok adalah produk sejarah internal yang panjang: ketimpangan agraria, kehancuran negara, invasi asing, dan kegagalan elite nasional. Kita hari ini mengulang kesalahan yang sama, hanya dengan istilah yang berbeda.
Kita menyebutnya "Belt and Road", "state capitalism", "authoritarian model". Kita sibuk memberi label, tetapi malas membaca akar. Kita lupa bahwa Tiongkok tidak tiba-tiba menjadi seperti sekarang. Ia dibentuk oleh trauma sejarah.
China Hari Ini: Kemenangan atau Konsekuensi?
Membaca Belden hari ini seperti membaca prolog dari cerita panjang yang belum selesai. Ya, Tiongkok hari ini adalah kekuatan ekonomi global. Ya, ia memiliki negara yang kuat, disiplin, dan terorganisir. Tapi pertanyaannya: apakah itu kemenangan murni, atau konsekuensi dari sejarah yang keras?
Belden membantu kita memahami bahwa kekuatan negara Tiongkok tidak lahir dari kompromi liberal, tetapi dari pengalaman eksistensial: hampir runtuh sebagai bangsa.
Negara yang pernah berada di ambang kehancuran akan selalu memiliki obsesi terhadap stabilitas. Dan stabilitas itu sering dibayar mahal: kontrol, disiplin, bahkan represi. Di sinilah banyak pembaca hari ini gagal. Mereka melihat Tiongkok sebagai "model" atau "ancaman", tanpa memahami bahwa keduanya adalah dua sisi dari sejarah yang sama.
Pelajaran yang Tidak Nyaman untuk Indonesia
Buku China Shakes the World sebenarnya bukan hanya tentang Tiongkok. Ia adalah cermin yang tidak nyaman bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia. Pertanyaannya sederhana: apa yang membuat sebuah rezim runtuh?
Jawabannya juga sederhana: ketika negara kehilangan legitimasi sosial.
Belden menunjukkan bahwa kekuasaan formal tidak cukup. Tentara tidak cukup. Dukungan internasional tidak cukup. Bahkan ekonomi pun tidak cukup jika distribusinya timpang dan negara gagal hadir dalam kehidupan nyata rakyatnya. Ini bukan teori. Ini sejarah. Dan sejarah tidak pernah benar-benar mati.
Kita Terlalu Cepat Mengagumi, Terlalu Lambat Memahami
Hari ini, ada kecenderungan berbahaya: mengagumi Tiongkok secara pragmatis tanpa memahami perjalanan yang melahirkannya.
Kita ingin pertumbuhan ekonominya, infrastrukturnya, efisiensinya. Tapi kita tidak bertanya: struktur sosial seperti apa yang memungkinkan itu terjadi? Pengorbanan apa yang dibayar? Konflik apa yang disapu di bawah karpet?
Sebaliknya, ada juga yang hanya melihat Tiongkok sebagai ancaman. Seolah-olah ia muncul tiba-tiba sebagai monster geopolitik.
Kedua sikap itu sama-sama dangkal.
Belden mengajarkan satu hal: untuk memahami sebuah negara besar, kita harus masuk ke sejarahnya—ke desa, ke tanah, ke luka sosial yang membentuknya. Tanpa itu, semua analisis hanyalah opini kosong.
Buku Lama, Pertanyaan Baru
China Shakes the World bukan buku sempurna. Ia ditulis dari tengah revolusi, dengan semua keterbatasan perspektif zamannya. Ia tidak menjelaskan seluruh perjalanan Tiongkok setelah 1949—dan memang tidak dimaksudkan untuk itu. Tetapi justru di situlah kekuatannya.
Ia menangkap satu momen ketika sejarah belum membeku. Ketika masa depan masih cair. Ketika kemenangan belum menjadi narasi resmi.
Dan dari situ, kita bisa melihat sesuatu yang sering hilang dalam analisis modern: bahwa sejarah adalah proses, bukan hasil akhir.
Dunia yang Kembali Berguncang
Judul buku ini bukan metafora berlebihan: China Shakes the World. Dan hari ini, dunia memang kembali berguncang dengan Tiongkok sebagai salah satu pusatnya.
Tetapi jika kita ingin memahami guncangan itu, kita tidak bisa hanya melihat permukaannya. Kita harus kembali ke akarnya. Jack Belden sudah memberi peta itu puluhan tahun lalu.
Masalahnya, apakah kita mau membacanya—atau kita lebih nyaman tetap dangkal? Karena dalam sejarah, mereka yang gagal memahami perubahan biasanya bukan hanya tertinggal. Mereka akan terguncang
_____________
liputansembilan