Geger 12 Agustus 2026: Benarkah Manusia Akan Jatuh dari Langit?
Ads
scroll to continue with content

Menu Atas

Header Menu

HEADLINES
.....

Geger 12 Agustus 2026: Benarkah Manusia Akan Jatuh dari Langit?

Rabu, 21 Januari 2026

Ads

Gambar Berita

Media sosial kembali dihebohkan oleh klaim sensasional yang menyebut Bumi akan kehilangan gravitasi selama tujuh detik pada 12 Agustus 2026. Klaim ini beredar luas di TikTok dan Instagram sebelum akun penyebarnya menghilang, namun jejak videonya terlanjur viral dan memicu kepanikan sekaligus rasa penasaran warganet.

Dalam video tersebut, sang pembuat konten mengaku memiliki informasi rahasia yang konon disembunyikan NASA. Ia menyebut adanya dokumen internal bernama "Project Anchor" yang disebut bocor pada November 2024. Dokumen itu diklaim berisi peringatan bahwa gravitasi Bumi akan "mati" selama tujuh detik, sementara badan antariksa Amerika Serikat disebut telah mengetahui hal ini bertahun-tahun namun memilih bungkam.

Narasi yang dibangun terdengar dramatis. Disebutkan bahwa dalam dua detik pertama, manusia dan benda-benda akan mulai melayang. Pada detik ketiga hingga keempat, semuanya akan terus naik hingga ketinggian 15 sampai 20 meter. Puncaknya terjadi pada detik ketujuh, ketika gravitasi tiba-tiba kembali normal dan semua yang melayang jatuh bersamaan ke permukaan Bumi. Korban jiwa akibat fenomena ini bahkan diperkirakan mencapai 40 hingga 60 juta orang di seluruh dunia.

Klaim tersebut disukai puluhan ribu kali dan dibagikan ratusan ribu kali, terutama di Instagram. Angka korban yang disebut justru menuai cibiran, karena dianggap terlalu kecil jika benar seluruh manusia di luar ruangan akan terlempar ke udara dan jatuh serentak.

Mengutip laporan IFLScience, pemilihan tanggal 12 Agustus 2026 dinilai bukan kebetulan. Pada tanggal tersebut memang akan terjadi gerhana matahari total yang dapat diamati dari wilayah Arktik hingga Spanyol. Fenomena gerhana kerap dikaitkan dengan bencana besar, sehingga dinilai ampuh untuk membangun narasi ketakutan.

Penyebar hoaks tersebut mengaitkan peristiwa ini dengan "perpotongan dua gelombang gravitasi dari lubang hitam" yang disebut-sebut telah diprediksi sejak 2019 dengan probabilitas 94,7 persen. Klaim ini terdengar ilmiah, namun keliru. Gelombang gravitasi bergerak dengan kecepatan cahaya dan tidak bisa diprediksi secara spesifik jauh hari. Selain itu, NASA bukan lembaga yang memantau gelombang gravitasi, melainkan kolaborasi internasional LIGO-Virgo-KAGRA.

Secara fisika, hilangnya gravitasi Bumi hampir mustahil. Gravitasi muncul karena massa. Agar gravitasi lenyap, Bumi harus kehilangan massanya secara tiba-tiba, termasuk inti, mantel, dan keraknya. Jika itu terjadi, Bumi tidak akan sekadar tanpa gravitasi, melainkan sudah tidak ada lagi.

_____________

Punya Kabar Menarik?

Bagikan di LiputanSembilan.com GRATIS! 🚀

Langsung tulis dan kirim tanpa login atau buat akun.


Apakah di sekitar kamu ada prestasi membanggakan, kisah inspiratif, atau acara penting yang jarang terliput media? Atau ingin mempromosikan produk dan jasa secara luas?


💡 LiputanSembilan.com membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengirimkan berita secara GRATIS!

✅ Berita tentang prestasi lokal, kisah unik, atau kejadian penting di komunitas Anda
✅ Promosi barang atau jasa untuk menjangkau lebih banyak orang

📢 Jangan lewatkan kesempatan ini! Kirim berita kamu sekarang dan jadilah bagian dari LiputanSembilan.com!


Kirim Berita