Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Wamena, Papua Pegunungan, yang berlangsung Selasa lalu awalnya terlihat santai dan penuh nuansa kebersamaan. Gibran tampak bermain sepak bola bersama anak-anak sekolah sepak bola setempat, sebuah agenda yang semestinya menghadirkan kesan hangat dan merakyat. Namun suasana ringan itu mendadak berubah menjadi bahan perbincangan panas di media sosial.
Sorotan publik bukan tertuju pada kemampuan bermain bolanya, melainkan pada satu momen yang dianggap janggal. Dalam sebuah adegan, Gibran terlihat mencetak gol dengan cara mendorong bola menggunakan tangan. Dalam aturan sepak bola, aksi tersebut jelas merupakan pelanggaran. Yang membuat publik semakin mengernyit adalah respons di lapangan yang nyaris nihil. Wasit tidak menghentikan permainan, tidak memberikan peringatan, bahkan kartu pun tak terlihat.
Momen itu terekam kamera dan dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial. Seperti sudah bisa ditebak, rekaman singkat tersebut langsung memantik reaksi berantai. Banyak warganet menilai kejadian itu bukan sekadar pelanggaran teknis dalam permainan, tetapi simbol yang lebih besar tentang sikap dan karakter.
Kolom komentar pun dipenuhi kritik bernada pedas. Sejumlah warganet menyindir bahwa bahkan dalam permainan santai bersama anak-anak, aturan tetap dilanggar. Ada pula yang menilai tindakan tersebut mencerminkan kebiasaan mengabaikan aturan, sekecil apa pun konteksnya. Bagi mereka, lapangan sepak bola menjadi cermin perilaku yang lebih luas.
Sebagian komentar bahkan mengaitkan insiden itu dengan persoalan karakter kepemimpinan. Ada warganet yang menyebut bahwa karakter seseorang akan selalu muncul, kapan pun dan di mana pun. Mereka menyoroti bahwa olahraga, apalagi di hadapan generasi muda, seharusnya menjunjung tinggi sportivitas, bukan sekadar soal mencetak gol.
Nada kritik semakin keras ketika sebagian pengguna media sosial mengaitkan kejadian tersebut dengan citra kepemimpinan. Mereka menilai ada ironi antara upaya menampilkan diri sebagai sosok merakyat dengan tindakan yang dianggap curang. Bagi kelompok ini, pelanggaran kecil yang dibiarkan justru menciptakan kesan bahwa sistem dibuat tidak adil demi memenangkan satu pihak.
Tak sedikit pula yang menilai kejadian itu seharusnya bisa menjadi momen edukatif. Jika pelanggaran ditegur secara terbuka, anak-anak yang ikut bermain bisa belajar tentang konsekuensi dan pentingnya aturan. Namun karena tidak ada sanksi, sebagian warganet menilai pesan yang tersampaikan justru sebaliknya.
Hingga kini, video tersebut masih beredar luas dan terus menuai komentar. Insiden kecil di lapangan hijau itu menjelma menjadi perdebatan besar tentang teladan, sportivitas, dan bagaimana publik menilai gestur para pemimpin, bahkan dari momen yang tampaknya sepele.
_____________
liputansembilan