Mantan Kepala Keamanan WhatsApp Bongkar Borok Meta, Data Pengguna Disebut Terbuka Lebar
Ads
scroll to continue with content

Menu Atas

Header Menu

HEADLINES
.....

Mantan Kepala Keamanan WhatsApp Bongkar Borok Meta, Data Pengguna Disebut Terbuka Lebar

Sabtu, 31 Januari 2026

Ads

Gambar Berita

Seorang mantan petinggi keamanan WhatsApp mendadak jadi sorotan setelah membongkar dugaan kebobrokan serius di tubuh Meta. Sosok tersebut adalah Attaullah Baig, eks Kepala Keamanan WhatsApp, yang secara terbuka mengajukan gugatan sebagai whistleblower pada September 2025. Dalam gugatan itu, Baig menuding Meta mengabaikan kegagalan keamanan siber berskala besar yang berpotensi membahayakan data jutaan pengguna di seluruh dunia.

Baig mengklaim sekitar 1.500 insinyur internal Meta memiliki akses luas, tidak dibatasi, dan tidak diaudit terhadap data sensitif pengguna WhatsApp. Akses tersebut mencakup daftar kontak, alamat IP, foto profil, lokasi, hingga informasi grup. Menurut Baig, kondisi ini bukan kesalahan kecil, melainkan risiko sistemik yang terus dibiarkan meski serangan peretasan terjadi hampir setiap hari dan dilaporkan telah berdampak pada lebih dari 100 ribu akun.

Yang membuat situasi semakin panas, Baig menyebut pihak manajemen tidak hanya mengabaikan peringatan tersebut, tetapi juga menolak berbagai solusi teknis yang ia ajukan. Ia bahkan mengaku telah memperingatkan jajaran eksekutif tertinggi Meta, termasuk Mark Zuckerberg, bahwa praktik tersebut berpotensi melanggar perintah privasi dari FTC serta aturan keterbukaan SEC. Namun, alih-alih ditindaklanjuti, peringatan itu disebut tak digubris.

Tak lama setelah peringatan berulang kali disampaikan, Baig justru diberhentikan dari jabatannya pada 10 Februari 2025. Pemecatan ini langsung memunculkan tudingan pembalasan terhadap pelapor internal, sebuah pola klasik yang sering muncul dalam kasus whistleblower kelas kakap. Bagi sebagian pengamat, pemecatan tersebut justru memperkuat dugaan bahwa ada masalah serius yang berusaha ditutup rapat.

Menariknya, Baig menegaskan bahwa fokus laporannya bukan pada pembobolan isi pesan WhatsApp yang diklaim terenkripsi end-to-end, melainkan pada metadata dan akses operasional. Namun bagi para pakar privasi, metadata justru sering dianggap jauh lebih berbahaya. Informasi tentang siapa berkomunikasi dengan siapa, kapan, di mana, dan seberapa sering, dinilai cukup untuk memetakan kehidupan seseorang secara detail.

Pernyataan ini diperkuat oleh kutipan kontroversial mantan kepala NSA, Michael Hayden, yang menyebut bahwa manusia bisa "dibunuh berdasarkan metadata". Kalimat tersebut kembali viral dan memicu kecemasan publik. Di tengah janji WhatsApp soal privasi dan enkripsi, tudingan ini menyalakan kembali kecurigaan lama: apakah percakapan benar-benar aman, atau hanya terlihat aman di permukaan.

Kasus ini kini memantik diskusi luas tentang transparansi Meta, keamanan data pengguna, dan batas sebenarnya dari klaim privasi yang selama ini dijual ke publik.

_____________

Punya Kabar Menarik?

Bagikan di LiputanSembilan.com GRATIS! 🚀

Langsung tulis dan kirim tanpa login atau buat akun.


Apakah di sekitar kamu ada prestasi membanggakan, kisah inspiratif, atau acara penting yang jarang terliput media? Atau ingin mempromosikan produk dan jasa secara luas?


💡 LiputanSembilan.com membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengirimkan berita secara GRATIS!

✅ Berita tentang prestasi lokal, kisah unik, atau kejadian penting di komunitas Anda
✅ Promosi barang atau jasa untuk menjangkau lebih banyak orang

📢 Jangan lewatkan kesempatan ini! Kirim berita kamu sekarang dan jadilah bagian dari LiputanSembilan.com!


Kirim Berita