Isu penunjukan Joko Widodo sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden kembali ramai dibicarakan, namun hingga kini belum juga terbukti. Rumor tersebut sebelumnya menyebut Presiden Prabowo Subianto akan melantik Jokowi bersamaan dengan agenda reshuffle kabinet pada Jumat, 6 Februari 2026. Namun momen yang ditunggu-tunggu itu berlalu tanpa kehadiran nama Jokowi dalam daftar resmi.
Kabar ini sempat memicu euforia di kalangan relawan Jokowi. Mereka disebut sudah terlanjur yakin mantan presiden itu akan kembali masuk lingkaran kekuasaan sebagai Ketua Wantimpres. Harapan tersebut bahkan dibarengi rasa percaya diri berlebihan, seolah penunjukan itu menjadi bukti bahwa Prabowo tak bisa melepaskan bayang-bayang Jokowi dalam pemerintahannya.
Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai kegembiraan tersebut terlalu dini. Ia menyebut para relawan sudah "happy betul" dan bersiap menjadikan pelantikan Jokowi sebagai ajang pembuktian sekaligus bahan sindiran kepada para pengkritik Jokowi yang selama ini vokal. Narasi yang berkembang, Prabowo dianggap sangat membutuhkan Jokowi, bahkan untuk mengamankan skenario politik jangka panjang hingga dua periode bersama Gibran.
Namun menurut Erizal, baik relawan Jokowi maupun pihak yang kerap mengkritik Jokowi justru sama-sama keliru membaca arah politik Prabowo. Ia menilai Prabowo saat ini bukan lagi figur yang sama seperti yang dikenal publik di masa lalu. Cara bermainnya dinilai jauh lebih cair, fleksibel, dan tak terduga.
Prabowo disebut berani membuka ruang dialog dengan tokoh-tokoh yang dulu berada di barisan oposisi. Ia juga tak ragu terlibat dalam Board of Peace, sebuah langkah yang bahkan menuai penolakan dari sejumlah sekutu tradisional Amerika Serikat. Langkah-langkah ini dianggap menunjukkan bahwa Prabowo memiliki kepercayaan diri politik yang kuat dan tidak mudah ditekan oleh kepentingan tertentu.
Erizal juga menyinggung soal persepsi bahwa Prabowo sangat bergantung pada Jokowi. Menurutnya, anggapan tersebut terlalu menyederhanakan situasi. Prabowo dinilai tidak memiliki beban politik seperti pemimpin-pemimpin sebelumnya. Ia juga disebut tidak terikat oleh jejaring oligarki dengan pola yang sama seperti era Jokowi.
Ketidakterbuktian rumor Wantimpres ini akhirnya membuka ruang spekulasi baru. Apakah Prabowo memang sengaja membiarkan isu itu berkembang tanpa klarifikasi, atau justru ingin menguji loyalitas dan reaksi berbagai kelompok politik? Yang jelas, absennya Jokowi dari pelantikan tersebut menjadi sinyal bahwa peta kekuasaan saat ini tidak sesederhana yang dibayangkan.
Isu ini pun kembali menegaskan satu hal: dinamika politik di lingkar Istana masih penuh kejutan. Apa yang diyakini pasti hari ini, bisa saja gugur esok hari tanpa penjelasan panjang lebar.
_____________
liputansembilan