Menimbang Jalan Menuju Indonesia Emas, Review Buku Achieving the Golden Indonesia Vision 2045: Pathways and Challenges
Ads
scroll to continue with content

Menu Atas

Header Menu

HEADLINES
.....

Menimbang Jalan Menuju Indonesia Emas, Review Buku Achieving the Golden Indonesia Vision 2045: Pathways and Challenges

Rabu, 11 Februari 2026

Ads

Gambar Berita

Buku ini merupakan salah satu kompilasi diagnostik paling ambisius mengenai kesiapan Indonesia mencapai status negara maju pada 2045. Disusun oleh para ekonom, akademisi, dan pembuat kebijakan yang bekerja sama dengan Asian Development Bank, volume ini menawarkan pendekatan lintas sektor: dari makroekonomi, transformasi industri, tata kelola digital, pasar tenaga kerja, hingga transisi energi dan bioekonomi. Paper ini menilai kontribusi intelektual buku, kekuatan metodologisnya, serta sejumlah keterbatasan—terutama terkait politik implementasi dan problem ekonomi politik reformasi. Buku ini kuat sebagai peta jalan teknokratik; pertanyaan besarnya adalah bagaimana memastikan peta itu benar-benar dilalui.

Cita-cita Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada satu abad kemerdekaan bukan sekadar slogan pembangunan. Ia telah dilembagakan dalam RPJPN 2025–2045. Buku ini hadir sebagai upaya memberi fondasi analitis terhadap ambisi tersebut.

Sejak halaman-halaman awal, editor menegaskan bahwa visi 2045 adalah proyek transformasi multidimensi: bukan hanya pertumbuhan, tetapi juga keadilan sosial, kualitas manusia, daya saing global, dan keberlanjutan lingkungan . Dengan kata lain, pembangunan tidak lagi dipahami sebagai akumulasi PDB, melainkan restrukturisasi menyeluruh atas cara negara bekerja.

Buku ini mencoba menjawab satu pertanyaan sentral: apakah Indonesia berada di jalur yang benar untuk sampai ke sana?

Arsitektur Besar Buku

Volume setebal lebih dari 600 halaman ini dibagi dalam empat gugus besar:
1. Makro, internasional, dan tata kelola
2. Sektor dan regional
3. Pembangunan manusia dan kesejahteraan
4. Pertanian dan lingkungan

Struktur ini penting. Ia mencerminkan pemahaman bahwa lompatan menuju negara maju memerlukan orkestrasi serentak, bukan reformasi parsial.

Pendekatan tersebut memberi kesan: buku ini bukan kumpulan esai, tetapi semacam blueprint.

Argumen Inti: Produktivitas atau Stagnasi

Benang merah paling kuat adalah produktivitas.

Berulang kali berbagai bab menunjukkan bahwa tanpa lonjakan total factor productivity, Indonesia akan sulit keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Demografi muda, bonus urbanisasi, bahkan kekayaan sumber daya tidak otomatis menjadi mesin kemajuan.

Nada ini selaras dengan peringatan banyak ekonom pembangunan: pertumbuhan berbasis faktor (tenaga kerja murah, ekspansi lahan, komoditas) punya umur pendek.

Transformasi Struktural: Manufaktur, Jasa, Digital

Buku ini realistis. Ia mengakui bahwa Indonesia tidak bisa menyalin jalur industrialisasi klasik Asia Timur begitu saja.

Karena itu muncul gagasan diversifikasi jalur:
• revitalisasi manufaktur,
• penguatan jasa modern,
• serta percepatan digitalisasi industri.

Diskusi tentang digitalisasi menarik karena menekankan bahwa teknologi konsumen berbeda dengan teknologi produksi. Banyak negara berkembang sukses memakai aplikasi digital, tetapi gagal meningkatkan kompleksitas industrinya. Indonesia diperingatkan agar tidak terjebak di sini.

Tata Kelola sebagai Fondasi

Salah satu kontribusi penting buku adalah penegasan bahwa reformasi birokrasi bukan pelengkap, melainkan prasyarat.

Digital government, integrasi data, interoperabilitas layanan publik, hingga perubahan perilaku institusi menjadi tema dominan. Ini bukan sekadar modernisasi administrasi, tetapi upaya membangun kapasitas negara abad ke-21.

Pesannya jelas: tanpa negara yang efektif, visi tinggal retorika.

Dimensi Manusia: Pendidikan, Kesehatan, Pasar Kerja

Bagian pembangunan manusia menyajikan analisis yang jujur. Indonesia telah memperluas akses, tetapi kualitas masih timpang.

Masalah learning poverty, mismatch pendidikan dengan kebutuhan industri, dan produktivitas pekerja menjadi alarm keras. Bonus demografi bisa berubah menjadi beban jika tidak ada transformasi keterampilan.

Buku ini dengan tepat memindahkan perdebatan dari "berapa banyak sekolah" ke "apa hasilnya bagi mobilitas sosial".

Ketimpangan dan Perlindungan Sosial

Bab tentang kemiskinan dan perlindungan sosial menandai evolusi pemikiran kebijakan: dari sekadar jaring pengaman menuju batu loncatan mobilitas.

Namun di sini juga tampak batas teknokrasi. Buku menekankan desain program, keberlanjutan fiskal, dan targeting. Ia relatif sedikit menyentuh dimensi politik distribusi: siapa membayar, siapa menolak, siapa diuntungkan.

Padahal pertanyaan itu sering menentukan berhasil tidaknya reformasi.

Lingkungan dan Transisi Energi

Bagian akhir memperlihatkan perubahan paradigma pembangunan Indonesia. Dekarbonisasi, energi terbarukan, dan bioekonomi tidak lagi dianggap hambatan, melainkan sumber pertumbuhan baru.

Argumen ini kuat: masa depan daya saing akan sangat dipengaruhi oleh standar hijau global.

Tetapi lagi-lagi muncul persoalan implementasi—perubahan struktur insentif, reformasi subsidi, dan resistensi sektor lama tidak dibahas sedalam kalkulasi ekonominya.

Kekuatan Metodologis

Kelebihan utama buku ini:
• berbasis data,
• komparatif dengan negara ASEAN dan global,
• menggunakan skenario kuantitatif,
• menawarkan prioritas kebijakan.

Bagi perencana pembangunan, ini adalah harta karun.

Ia membantu memetakan di mana Indonesia tertinggal, sektor mana berpotensi, dan reformasi apa paling mendesak.

Keterbatasan: Politik yang Sunyi

Namun sebagai karya teknokratik, buku ini cenderung mengasumsikan bahwa bila resep benar, implementasi akan mengikuti.

Di sinilah celah terbesarnya.

Transformasi menuju negara maju selalu merupakan proses konflik kepentingan. Liberalisasi jasa, reformasi pajak, penataan BUMN, perubahan subsidi energi—semuanya menyentuh kelompok kuat.

Buku ini tidak cukup mengeksplorasi bagaimana resistensi tersebut diatasi.

Visi sebagai Proyek Institusional

Meski begitu, satu hal patut diapresiasi: penekanan bahwa konsistensi lintas rezim adalah syarat keluar dari middle-income trap.

Pengalaman internasional menunjukkan keberhasilan datang dari kesinambungan kebijakan. Dengan mengikat visi dalam kerangka hukum, Indonesia mencoba menjawab masalah klasik diskontinuitas.

Apakah berhasil? Itu akan bergantung pada kepemimpinan politik, bukan hanya desain teknis.

Makna Strategis Buku Ini

Buku ini penting karena:
1. Menyatukan bahasa antara akademisi dan pembuat kebijakan.
2. Memberikan rujukan bersama untuk debat publik.
3. Menjadi baseline evaluasi kemajuan 5–10 tahun ke depan.

Ia bisa menjadi kompas. Tetapi kompas tidak pernah menjamin perjalanan.

Kesimpulan

Sebagai karya intelektual, buku ini luar biasa kaya. Ia menghadirkan panorama lengkap tantangan Indonesia menuju 2045 dan menunjukkan bahwa keberhasilan mensyaratkan kombinasi langka: produktivitas tinggi, institusi kuat, manusia unggul, dan ekonomi hijau.

Namun pembaca perlu menyadari: transformasi bukan hanya soal apa yang harus dilakukan, tetapi siapa yang bersedia berubah.

Di situlah pekerjaan sejarah sesungguhnya.

Jika negara mampu menjembatani jurang antara analisis dan keberanian politik, maka buku ini akan dikenang sebagai salah satu fondasi menuju Indonesia Emas.

Jika tidak, ia mungkin hanya akan menjadi dokumentasi tentang betapa jelasnya kita pernah mengetahui jawabannya.

_____________

Punya Kabar Menarik?

Bagikan di LiputanSembilan.com GRATIS! 🚀

Langsung tulis dan kirim tanpa login atau buat akun.


Apakah di sekitar kamu ada prestasi membanggakan, kisah inspiratif, atau acara penting yang jarang terliput media? Atau ingin mempromosikan produk dan jasa secara luas?


💡 LiputanSembilan.com membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengirimkan berita secara GRATIS!

✅ Berita tentang prestasi lokal, kisah unik, atau kejadian penting di komunitas Anda
✅ Promosi barang atau jasa untuk menjangkau lebih banyak orang

📢 Jangan lewatkan kesempatan ini! Kirim berita kamu sekarang dan jadilah bagian dari LiputanSembilan.com!


Kirim Berita