Tag Elon Musk, Peneliti Ini Diklaim Butuh Dana Rp500 Miliar untuk “Sembuhkan” Kanker
Ads
scroll to continue with content

Menu Atas

Header Menu

HEADLINES
.....

Tag Elon Musk, Peneliti Ini Diklaim Butuh Dana Rp500 Miliar untuk “Sembuhkan” Kanker

Rabu, 04 Februari 2026

Ads

Gambar Berita

Sebuah unggahan di media sosial mendadak ramai diperbincangkan setelah menyeret nama Elon Musk ke dalam isu sensitif yang menyentuh harapan banyak orang: penyembuhan kanker. Cuitan tersebut berawal dari unggahan akun sains populer yang mengklaim adanya terobosan besar dalam pengobatan kanker pankreas, salah satu jenis kanker paling mematikan.

Dalam unggahan itu disebutkan seorang onkolog bernama Mariano Barbacid telah menemukan metode yang mampu menghilangkan kanker pankreas pada tikus. Klaim tersebut langsung mengundang perhatian luas karena kanker pankreas dikenal sangat sulit diobati dan sering terlambat terdeteksi. Namun, penelitian tersebut dikabarkan masih terhenti pada tahap uji coba hewan karena keterbatasan dana.

Masalah utama yang disorot adalah kebutuhan dana sekitar 30 juta euro untuk memulai uji klinis pada manusia. Angka ini kemudian menjadi pusat perbincangan setelah seorang figur publik dengan jutaan pengikut menyindir Elon Musk secara terbuka, menanyakan apakah miliarder teknologi itu bersedia meminjamkan dana sebesar itu untuk "secara harfiah menyembuhkan kanker".

Sindiran tersebut langsung menyebar luas dan memicu perdebatan panas. Banyak warganet mempertanyakan, di tengah kekayaan fantastis para miliarder dunia, mengapa penelitian medis krusial masih harus terseok mencari pendanaan. Sebagian netizen menyebut jumlah 30 juta euro sebagai angka yang relatif kecil jika dibandingkan dengan nilai proyek luar angkasa atau akuisisi platform media sosial.

Namun, tidak sedikit pula yang bersikap skeptis. Mereka mengingatkan bahwa klaim "menyembuhkan kanker" pada tikus tidak serta-merta berarti aman dan efektif pada manusia. Uji klinis adalah proses panjang, mahal, dan penuh risiko, dengan tingkat kegagalan yang tinggi. Meski demikian, harapan publik terlanjur tersulut oleh narasi besar yang beredar di media sosial.

Unggahan tersebut juga memunculkan diskusi tentang peran filantropi dalam dunia sains. Ada yang menilai para miliarder seharusnya lebih aktif mendanai riset kesehatan, sementara pihak lain menilai pendanaan penelitian tidak bisa bergantung pada belas kasihan individu, melainkan sistem negara dan lembaga ilmiah yang kuat.

Hingga kini, belum ada respons langsung dari Elon Musk terkait sindiran tersebut. Namun keheningan itu justru menambah spekulasi. Apakah permintaan ini akan diabaikan begitu saja, atau justru menjadi momen langka ketika kekayaan besar bertemu harapan besar umat manusia?

Di sisi lain, nama Mariano Barbacid ikut menjadi sorotan global. Bagi sebagian orang, ia dipandang sebagai simbol ilmuwan yang terhambat oleh keterbatasan dana. Bagi yang lain, kisah ini menjadi pengingat bahwa jalan dari laboratorium ke rumah sakit penuh rintangan dan tidak sesederhana yang terlihat di linimasa.

_____________

Punya Kabar Menarik?

Bagikan di LiputanSembilan.com GRATIS! 🚀

Langsung tulis dan kirim tanpa login atau buat akun.


Apakah di sekitar kamu ada prestasi membanggakan, kisah inspiratif, atau acara penting yang jarang terliput media? Atau ingin mempromosikan produk dan jasa secara luas?


💡 LiputanSembilan.com membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengirimkan berita secara GRATIS!

✅ Berita tentang prestasi lokal, kisah unik, atau kejadian penting di komunitas Anda
✅ Promosi barang atau jasa untuk menjangkau lebih banyak orang

📢 Jangan lewatkan kesempatan ini! Kirim berita kamu sekarang dan jadilah bagian dari LiputanSembilan.com!


Kirim Berita