Iran mengumumkan pembentukan dewan kepemimpinan sementara setelah Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel. Struktur kepemimpinan darurat ini dibentuk sesuai ketentuan konstitusi Iran untuk menjamin kesinambungan pemerintahan hingga pemimpin baru ditetapkan.
Berdasarkan aturan yang berlaku, apabila pemimpin tertinggi tidak lagi menjabat, maka tanggung jawab negara akan diambil alih oleh dewan yang terdiri dari presiden, kepala peradilan, dan seorang ulama senior dari Dewan Penjaga. Dewan ini bertugas menjalankan fungsi kepemimpinan hingga Majelis Ahli yang beranggotakan 88 orang memilih pengganti tetap.
Mengutip laporan CNN, dewan tersebut dipimpin oleh Ayatollah Alireza Arafi (67), Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Eje'i.
Alireza Arafi dikenal sebagai ulama berpengaruh yang memiliki kedekatan dengan Khamenei. Ia saat ini menjabat sebagai wakil ketua Majelis Ahli dan pernah menjadi anggota Dewan Penjaga, lembaga penting yang berwenang menyaring calon dalam pemilu serta meninjau undang-undang yang disahkan parlemen.
Situasi politik Iran memanas menyusul pernyataan keras sejumlah pejabat tinggi. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani, menyatakan sumpah balas dendam terhadap Amerika Serikat. Ia menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang "menusuk jantung rakyat Iran" dan berjanji respons militer akan jauh lebih kuat.
Presiden Masoud Pezeshkian juga menegaskan bahwa pembalasan dianggap sebagai hak sekaligus kewajiban yang sah bagi negaranya. Pernyataan-pernyataan tersebut memicu kekhawatiran meningkatnya eskalasi konflik di kawasan.
Pembentukan dewan kepemimpinan sementara ini menjadi langkah konstitusional penting untuk menjaga stabilitas internal di tengah situasi genting. Sementara itu, dunia internasional menyoroti perkembangan tersebut dengan cermat, mengingat dampaknya berpotensi meluas terhadap dinamika geopolitik Timur Tengah.
_____________
liputansembilan