Sebuah cuitan dari akun Twitter @realfedinuril, milik Fedhi Nuril, baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah ia mengkritik penunjukan seorang individu sebagai Direktur Utama PT Produksi Film Negara (PFN). Dalam cuitannya yang diposting pada 2 hari lalu, Fedhi menyindir pernyataan Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya memilih orang berprestasi untuk memimpin sistem pemerintahan. Namun, ia mempertanyakan keputusan menunjuk seseorang yang, menurutnya, memiliki pengalaman dan prestasi minim di industri perfilman nasional, terutama dengan latar belakang sebagai penggemar boyband Korea Selatan, Seventeen.
Cuitan tersebut dilengkapi dengan video dari KompasTV yang menampilkan Presiden Prabowo dalam sebuah acara resmi pada 12 Februari 2024. Dalam video tersebut, Prabowo tampak memberikan pidato sambil berdiri di depan bendera merah putih dan lambang negara, dengan latar belakang beberapa peluru emas yang melambangkan kedaulatan. Fedhi menyoroti kontradiksi antara visi Presiden tentang memilih pemimpin berprestasi dengan keputusan yang ia anggap kurang tepat untuk PFN. Ia menulis, "Kata @prabowo 'Kita harus menuju ke arah merit (kemampuan) sistem. Prestasi!' Tapi, yang diangkat menjadi Direktur Utama PT Produksi Film Negara (PFN) malah Ifan Seventeen yang kemampuan, pengalaman dan prestasinya dalam film Indonesia gak jelas"
Hingga saat ini, cuitan tersebut telah mendapat 464 balasan, 1 retweet, 4 suka, dan 136 ribu tayangan, menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap isu ini. Reaksi netizen pun beragam. Sebagian mendukung pandangan Fedhi, menganggap penunjukan tersebut sebagai langkah yang kurang bijaksana dalam mengelola institusi perfilman nasional yang memiliki sejarah panjang. PFN, yang didirikan pada era kolonial Belanda dan menjadi salah satu pilar perfilman Indonesia pasca-kemerdekaan, dianggap perlu dipimpin oleh figur yang memiliki kredibilitas dan pengalaman mendalam di bidang seni audiovisual.
Sebaliknya, ada pula yang membela keputusan tersebut dengan argumen bahwa Ifan, meskipun dikenal sebagai penggemar Seventeen, mungkin memiliki potensi atau visi baru yang dapat menyegarkan industri film nasional. Namun, pihak yang kontra menilai bahwa pengalaman Ifan yang terbatas—hanya dikenal sebagai penggemar boyband tanpa jejak signifikan dalam produksi film—menjadi kekhawatiran besar. Mereka khawatir PFN, yang telah berjuang untuk bersaing dengan industri hiburan modern, akan semakin tertinggal jika dipimpin oleh seseorang tanpa latar belakang yang relevan.
Kritik ini juga muncul di tengah upaya pemerintah untuk merevitalisasi industri kreatif, termasuk perfilman, sebagai bagian dari agenda ekonomi kreatif nasional. PFN sendiri memiliki peran penting dalam produksi film-film bertema nasionalisme dan dokumenter sejarah, yang sering menjadi cerminan identitas budaya Indonesia. Penunjukan Direktur Utama yang dianggap kurang kompeten dapat dianggap sebagai ancaman terhadap misi tersebut, terutama jika kepemimpinan baru gagal memahami dinamika industri film kontemporer.
Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Istana Kepresidenan atau Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengenai identitas pasti Direktur Utama PFN yang dimaksud atau alasan di balik penunjukan tersebut. Namun, spekulasi terus berkembang di media sosial, dengan beberapa netizen meminta klarifikasi dari Presiden Prabowo atau Menteri BUMN terkait proses seleksi yang transparan dan berdasarkan meritokrasi, sesuai janji kampanye.
Sebagai aktor dan figur publik yang aktif di industri hiburan, Fedhi Nuril tampaknya menggunakan platformnya untuk mengkritik kebijakan tersebut, yang menurutnya bertentangan dengan semangat reformasi birokrasi. Pengamat politik dan budaya pun mulai menyoroti isu ini, dengan beberapa di antaranya menyebut bahwa keputusan tersebut bisa mencerminkan kurangnya koordinasi antara kebijakan tinggi dan implementasi di lapangan. Mereka menyarankan agar pemerintah segera memberikan pernyataan resmi untuk meredam spekulasi dan menjaga kepercayaan publik terhadap pengelolaan BUMN.
Di sisi lain, beberapa pihak melihat cuitan Fedhi sebagai bagian dari dinamika politik yang lebih luas, mengingat latar belakangnya yang pernah terlibat dalam kampanye politik. Meski demikian, fokus utama tetap pada dampak penunjukan ini terhadap masa depan PFN dan industri film nasional. Publik menantikan langkah berikutnya dari pemerintah untuk menjawab kritik ini, sekaligus membuktikan komitmen terhadap sistem meritokrasi yang digaungkan Presiden Prabowo.
_____________