TikTok, platform media sosial yang dimiliki oleh ByteDance, telah mengumumkan rencana investasi sebesar USD 8,8 miliar (sekitar Rp 145 triliun) untuk pembangunan pusat data di Thailand selama lima tahun ke depan. Investasi ini akan mendukung sekitar 50 juta pengguna TikTok di Thailand dan memperkuat posisi negara tersebut sebagai pusat teknologi di Asia Tenggara.
Keputusan TikTok untuk berinvestasi di Thailand, bukan di Indonesia, menimbulkan pertanyaan mengenai alasan di baliknya. Beberapa sumber menyebutkan bahwa iklim investasi di Indonesia dianggap kurang kondusif, terutama karena maraknya aksi organisasi masyarakat (ormas) dan preman yang sering meminta 'jatah' dari investor atau perusahaan yang ingin berinvestasi.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sebelumnya mengungkapkan bahwa aksi oknum ormas yang melakukan pemerasan, pungutan liar, hingga uang keamanan semakin meresahkan pelaku usaha di Tanah Air.
Sementara itu, Thailand dianggap memiliki iklim investasi yang lebih stabil dan mendukung, sehingga TikTok memilih negara tersebut sebagai lokasi investasi pusat datanya. Kepercayaan dari perusahaan teknologi global seperti TikTok, Microsoft, Nvidia, dan Apple menunjukkan bahwa Thailand berhasil menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi teknologi.
Dengan investasi ini, TikTok berharap dapat meningkatkan infrastruktur digital dan kecerdasan buatan di Thailand, serta mendukung pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara.
_____________