Sungai Penuh, 25 Mei 2025 — Pagi ini, suasana di Gedung Nasional Kota Sungai Penuh terasa istimewa. Ratusan orang dari berbagai usia dan latar belakang memenuhi ruang utama gedung tersebut. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang hadir sebagai wakil komunitas atau sekolah. Mereka semua berkumpul untuk satu tujuan: merayakan ulang tahun pertama Bank Sampah Sahabat Alam (BSSA), inisiatif lingkungan yang berhasil menyatukan masyarakat dalam semangat menjaga bumi.
Hari itu, bukan hanya sekadar perayaan biasa. Momen ini menjadi simbol atas perjuangan satu tahun komunitas yang dibangun oleh sosok inspiratif, Kak Ayu. Sejak awal berdirinya, BSSA sudah menunjukkan konsistensinya dalam mengedukasi dan memberdayakan warga untuk mengelola sampah dengan cara yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Kisah Awal: Ketika Kepedulian Berubah Jadi Gerakan Nyata
Semua bermula dari keresahan pribadi. Kak Ayu, pendiri BSSA, menyaksikan betapa lingkungan tempat tinggalnya dipenuhi oleh tumpukan sampah yang tidak terkelola. Alih-alih mengeluh, ia memilih bergerak. Berbekal semangat dan tekad yang kuat, ia mulai mengajak warga memilah sampah dari rumah, melakukan sosialisasi dari pintu ke pintu, hingga menyelenggarakan pelatihan daur ulang sederhana.
Kegiatan-kegiatan tersebut lambat laun menarik perhatian. Warga yang awalnya cuek, mulai menunjukkan ketertarikan. Mereka sadar bahwa sampah tidak harus selalu jadi masalah. Bahkan bisa menjadi sumber penghasilan atau bahan kreativitas jika dikelola dengan benar.
"Sampah bukan cuma limbah, dia bisa jadi peluang," ujar Kak Ayu dalam pidatonya. Ia menekankan bahwa melalui BSSA, masyarakat diajak untuk tidak hanya buang sampah pada tempatnya, tapi juga mengenal konsep 3R: reduce, reuse, recycle. "Setiap kita memilah satu botol plastik hari ini, berarti kita sedang menyelamatkan masa depan anak cucu kita," tambahnya penuh semangat.
Pemerintah Turun Tangan: Apresiasi dan Dukungan Mengalir
Yang menarik, acara ini juga turut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Sungai Penuh, Bapak Azhar Hamzah. Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi tinggi atas kontribusi BSSA terhadap lingkungan kota. "Kami dari pemerintah sangat bangga melihat gerakan seperti ini. BSSA adalah contoh ideal dari kolaborasi masyarakat dan lingkungan yang saling menguatkan," ungkap Azhar.
Pemerintah daerah pun menyatakan kesiapannya untuk mendukung lebih banyak program berbasis komunitas. Menurut Azhar, Pemkot tengah mempertimbangkan memasukkan program pemilahan sampah sebagai agenda prioritas kota. "Kita butuh lebih banyak BSSA di kampung-kampung, di sekolah, di pasar-pasar. Itu target kita ke depan," ujarnya.
Serunya Acara: Edukasi, Kreativitas, dan Keterlibatan Anak-anak
Perayaan satu tahun BSSA juga diramaikan dengan serangkaian acara yang seru dan penuh edukasi. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah lomba mewarnai untuk anak-anak. Bertemakan "Bumi Hijau, Bumi Kita," lomba ini berhasil menarik lebih dari 200 peserta dari berbagai sekolah. Tak hanya lomba, suasana penuh keceriaan juga terasa karena banyak orang tua yang turut menemani dan memberikan semangat dari sisi panggung.
Di tengah acara, fashion show unik pun digelar. Para peserta mengenakan busana dari bahan daur ulang seperti bungkus makanan ringan, botol plastik, hingga koran bekas. Bukan hanya tampil keren, mereka juga menyampaikan pesan kuat: bahwa kreativitas bisa tumbuh dari barang-barang yang selama ini dianggap sampah.
Penonton terlihat antusias dan berdecak kagum. Tidak sedikit yang mengabadikan momen ini melalui kamera ponsel mereka. Banyak juga yang mempostingnya ke media sosial dengan tagar #BSSA1Tahun dan #SungaiPenuhHijau.
Pameran dan Talkshow: Komunitas Berkumpul, Ilmu Dibagikan
Selain kegiatan di panggung utama, area luar gedung juga penuh dengan semangat. Beragam komunitas lokal mendirikan stand untuk memamerkan produk mereka. Ada kerajinan tangan dari bahan daur ulang, produk kompos organik, hingga buku-buku edukatif seputar lingkungan.
Salah satu highlight adalah sesi talkshow inspiratif yang menghadirkan narasumber dari berbagai bidang. Di antaranya Dr. Fitriani dari Universitas Kerinci yang berbicara mengenai pentingnya memasukkan pendidikan lingkungan dalam kurikulum sekolah. Ia menegaskan bahwa perubahan perilaku harus dimulai sejak dini.
"Kalau anak-anak sudah terbiasa memilah sampah sejak SD, maka saat mereka dewasa, itu akan jadi bagian dari gaya hidup," katanya disambut anggukan para peserta talkshow.
BSSA Jadi Inspirasi Daerah Lain
Kehadiran tamu dari luar kota menambah nuansa spesial dalam perayaan ini. Beberapa perwakilan komunitas dan pemerintah daerah dari wilayah lain datang untuk belajar langsung dari pengalaman BSSA. Mereka mengakui bahwa gerakan semacam ini layak untuk ditiru dan diterapkan di daerah mereka masing-masing.
"Jujur kami datang dengan rasa penasaran, dan ternyata luar biasa," kata seorang tamu dari Kabupaten Kerinci. "Kami akan pulang dengan banyak ide dan semangat baru. Terima kasih BSSA!"
Menatap Masa Depan: Mimpi dan Rencana Kak Ayu
Menutup perayaan, Kak Ayu kembali naik ke atas panggung. Dengan suara yang bergetar karena haru, ia menyampaikan harapannya. "Satu tahun bukan waktu yang panjang, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa gerakan kecil bisa membawa dampak besar," ucapnya.
Ia pun mengajak semua pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah, sekolah, hingga pelaku usaha untuk terus terlibat. Ke depan, BSSA berencana memperluas jangkauan kegiatan ke desa-desa, bekerja sama dengan kampus-kampus, dan membangun sistem bank sampah digital agar semakin banyak orang bisa ikut ambil bagian.
"Saya percaya kita bisa. Asalkan kita mau bergerak bersama. Karena menjaga bumi bukan tugas satu orang, tapi tugas kita semua," pungkas Kak Ayu dengan senyum penuh keyakinan
_____________