Buni Yani menilai bahwa aksi Jokowi ini bukan semata pembelaan diri dari tuduhan ijazah palsu. Lebih jauh dari itu, ia membaca sinyal bahwa sang presiden tengah melakukan semacam konsolidasi politik. Dalam pandangannya, ini adalah bentuk strategi politik menjelang pertempuran besar yang sebenarnya. Salah satu caranya adalah dengan menguji kesetiaan orang-orang di sekitarnya—terutama mereka yang punya posisi penting dalam institusi negara.
Tes Loyalitas Lewat Kasus Ijazah
Menurut Buni Yani, cara Jokowi menggunakan isu ijazah palsu ini tak ubahnya seperti memancing keluar siapa saja yang benar-benar setia kepadanya. Dan dalam hal ini, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo membuktikan kesetiaannya tanpa keraguan sedikit pun. Sebuah langkah yang, bagi Buni Yani, sangat diharapkan oleh Jokowi.
Perlu diingat bahwa Listyo diangkat sebagai Kapolri oleh Jokowi, bahkan melompati lima angkatan di atasnya. Dalam konteks ini, sangat masuk akal jika Listyo menunjukkan sikap loyal kepada orang yang telah memberikan kepercayaan sebesar itu padanya. Ini bukan hanya soal posisi, tetapi juga soal utang politik dan kedekatan personal.
Di tengah guncangan politik yang terjadi, Jokowi tampaknya memilih untuk tetap berdiri tegak dan mengambil alih narasi publik. Dengan mengangkat kasus ijazah palsu ini, dia berhasil menciptakan panggung baru untuk mengalihkan perhatian dari isu lain yang lebih panas—yakni ancaman terhadap posisi Gibran Rakabuming Raka, sang Wakil Presiden.
Gibran di Ujung Tanduk Pemakzulan
Menurut Buni Yani, salah satu motivasi kuat Jokowi dalam memainkan isu ini adalah kondisi Gibran yang saat ini sedang berada di ambang pemakzulan. Tekanan publik semakin besar agar Presiden Prabowo mengganti Gibran dengan wakil yang dianggap lebih mumpuni. Bahkan, sejumlah tokoh dari kalangan purnawirawan TNI ikut bersuara.
Mereka mendesak agar Gibran segera diganti, terutama setelah beredarnya dugaan bahwa ia terlibat dalam aktivitas tak pantas lewat akun bernama "Fufufafa" di platform Kaskus. Akun ini disebut-sebut memuat konten yang tidak sesuai etika publik dan dikaitkan langsung dengan Gibran. "Akun Fufufafa diduga kuat milik Gibran," ujar Buni Yani.
Situasi ini membuat posisi Gibran makin terjepit. Jika benar akun itu adalah miliknya dan mengandung konten tak layak, maka ini bisa menjadi alasan kuat bagi publik dan DPR untuk mendorong pemakzulan. Jokowi tentu tak bisa membiarkan anaknya tersungkur tanpa upaya. Maka dari itu, strategi alih fokus pun dijalankan.
Strategi Alih Fokus: Menjadikan Diri Sebagai Target
Bagi Jokowi, menghadapi tuduhan atas dirinya mungkin lebih mudah dibanding melihat anaknya diserang bertubi-tubi. Itulah sebabnya, menurut Buni Yani, Jokowi sengaja mengangkat isu dugaan ijazah palsu agar perhatian publik beralih dari Gibran ke dirinya.
Strategi ini bisa dibilang cukup cerdik. Pertama, ia mengorbankan reputasinya sementara waktu untuk menyelamatkan anaknya dari tekanan politik. Kedua, ia sekaligus bisa mengukur seberapa kuat loyalitas para pejabat tinggi yang ia tempatkan dalam sistem. Salah satunya tentu saja Kapolri. Dengan mendukung Jokowi secara terbuka, Listyo sekaligus menegaskan posisinya sebagai sekutu utama sang presiden.
Langkah ini, meskipun terlihat berani, sebenarnya punya risiko besar. Tapi di dunia politik Indonesia, terkadang strategi semacam ini justru yang membuat seorang tokoh makin dihormati. Jokowi tampaknya paham betul permainan ini. Ia memilih maju sebagai tameng politik, walau artinya harus disorot lebih tajam oleh publik.
Kalkulasi Cermat Seorang Pemain Lama
Buni Yani menyebut bahwa ini bukanlah kebetulan atau tindakan spontan. Semua langkah ini adalah hasil dari kalkulasi yang sangat matang. Jokowi dikenal sebagai pemain politik yang piawai dalam membaca situasi dan membalik keadaan. Dalam situasi pelik seperti sekarang, dia justru mengambil alih kendali narasi.
Apa yang tampak sebagai pembelaan diri terhadap isu ijazah palsu, pada dasarnya adalah strategi besar yang sedang dimainkan. Di satu sisi, publik teralihkan dari persoalan Gibran. Di sisi lain, para pejabat yang selama ini dekat dengannya diuji satu per satu. Siapa yang setia, akan naik ke permukaan. Siapa yang ragu-ragu, bisa tersingkir dari lingkaran.
Mungkin bagi sebagian orang langkah Jokowi ini terkesan manipulatif. Tapi di mata mereka yang memahami peta kekuasaan, ini adalah langkah brilian. Apalagi menjelang tahun-tahun awal pemerintahan baru di mana kekuatan politik bisa bergeser kapan saja. Jokowi, meski tak lagi menjabat nanti, tampaknya ingin memastikan bahwa ia masih jadi poros pengaruh, terutama dalam menjaga posisi anaknya di panggung nasional.
Penutup: Drama Politik yang Belum Usai
Kisah ini jelas belum berakhir. Kasus ijazah palsu mungkin akan mereda, atau malah makin membesar. Tapi satu hal yang pasti, Jokowi sedang bermain catur politik tingkat tinggi. Setiap langkahnya mengandung pesan. Dan lewat langkah ini, ia seolah berkata bahwa permainan belum selesai.
Dalam politik, strategi bukan sekadar memenangkan pertempuran, tapi mempertahankan posisi dalam jangka panjang. Dan Jokowi, dengan segala kekuatan jaringan dan pengaruhnya, tampaknya masih jadi pemain utama meski masa jabatannya akan segera berakhir.
_____________