Dalam kunjungannya, Dedi mengklaim bahwa para siswa yang mengikuti pendidikan karakter di barak militer ini menunjukkan perkembangan yang signifikan. Ia menyebut bahwa perubahan gaya hidup mereka menjadi indikator keberhasilan pendekatan militeristik terhadap pembinaan karakter. "Dulu mereka susah tidur, sekarang sudah bisa tidur jam 8 malam. Dulu mereka sulit bangun, sekarang sudah bisa bangun jam 4 atau jam 5 pagi," ujar Dedi, menekankan betapa rutinitas militer telah menanamkan kedisiplinan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari para siswa tersebut.
Lebih lanjut, Dedi menambahkan bahwa para siswa juga sebelumnya mengalami kesulitan dalam hal konsentrasi dan fokus. Namun kini, setelah menjalani serangkaian pelatihan dan pembinaan di bawah pengawasan anggota TNI, mereka mulai menunjukkan peningkatan dalam hal tersebut. Ia pun berjanji akan terus memantau dan mengevaluasi hasil akhir dari program ini sebagai dasar pengembangan program lanjutan.
Salah satu hal yang menarik dari pernyataan Dedi adalah rencananya untuk memperluas program serupa ke kalangan masyarakat dewasa. Ia menilai bahwa masalah kenakalan bukan hanya monopoli kalangan pelajar, tetapi juga menjangkiti orang dewasa yang terlibat dalam perilaku menyimpang seperti mabuk-mabukan, tawuran antarwarga, atau tindak pidana ringan lainnya. "Saya akan siapkan konsepnya. Jadi nanti bukan hanya kenakalan remaja yang saya tangani, saya juga akan menangani kenakalan orang dewasa," kata Dedi dengan nada serius.
Program yang tengah diuji coba di berbagai wilayah di Jawa Barat ini mendapatkan sambutan positif dari berbagai pemerintah kabupaten dan kota. Menurut Dedi, hampir seluruh daerah di bawah koordinasinya sudah menyatakan kesiapan untuk mengirimkan siswa-siswa yang dianggap bermasalah ke barak militer guna mengikuti pelatihan pembentukan karakter. Untuk tingkat SMP, kegiatan berlangsung di Purwakarta, sementara untuk tingkat SMA, lokasi pelatihan berada di Rindam, Bandung.
Program ini juga akan dilaksanakan di Kota Bekasi mulai Senin, 5 Mei 2025. Sementara itu, Kabupaten Sumedang dijadwalkan memulai program pada Kamis, 8 Mei 2025. Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, dan Subang juga telah menyatakan kesiapannya. Di Subang, program ini akan dijalankan di Lanud Suryadharma, Kalijati. Hal ini menunjukkan antusiasme luas terhadap pendekatan baru yang menggabungkan pendidikan karakter dengan pendekatan semi-militer untuk membentuk kedisiplinan dan moralitas siswa.
Dalam kunjungannya ke Resimen Artileri Medan 1, Dedi menyaksikan secara langsung kegiatan para siswa yang sedang menjalani latihan baris-berbaris. Ia memuji semangat mereka yang tampak antusias dan mulai menunjukkan transformasi sikap dan perilaku yang lebih tertib. Tidak hanya fokus pada pelatihan fisik, Dedi juga memastikan bahwa kebutuhan dasar para siswa, seperti asupan gizi, terpenuhi dengan baik. Menurutnya, program ini bukan bertujuan untuk menghukum, melainkan untuk mendidik dan membentuk generasi muda agar memiliki kepribadian kuat dan bertanggung jawab.
Program pendidikan karakter ini menuai berbagai tanggapan dari masyarakat. Sebagian menilai bahwa pendekatan semacam ini dibutuhkan dalam menghadapi realitas kenakalan remaja yang semakin mengkhawatirkan. Kehidupan sosial modern yang penuh distraksi, minimnya kontrol orang tua, serta pengaruh lingkungan pergaulan bebas sering kali menjadikan siswa kehilangan arah. Program ini dianggap sebagai cara yang efektif untuk menanamkan kembali nilai-nilai dasar seperti disiplin, tanggung jawab, kerja keras, dan kepatuhan terhadap aturan.
Namun, tidak sedikit juga yang mengkritik pendekatan ini. Beberapa kalangan menilai bahwa pengiriman siswa ke lingkungan militer dapat membawa trauma psikologis jika tidak diiringi dengan pendekatan edukatif dan humanis. Oleh karena itu, penting agar pendekatan yang digunakan benar-benar mempertimbangkan aspek psikologis anak-anak. Pendekatan keras tidak seharusnya mengarah pada kekerasan atau hukuman fisik, tetapi lebih pada pembiasaan perilaku positif dan penguatan motivasi intrinsik dalam diri para siswa.
Gubernur Dedi sendiri menegaskan bahwa seluruh pelatihan berlangsung dengan metode yang menyenangkan, tidak disertai kekerasan, dan tetap memerhatikan hak anak. Ia menyebut bahwa para siswa menjalani kegiatan dengan penuh keceriaan, meski tetap berada dalam kerangka kedisiplinan ketat. Hal ini sekaligus menjawab kekhawatiran sebagian pihak yang menganggap bahwa pendekatan militer terlalu keras untuk diterapkan kepada pelajar.
Jika program ini terbukti berhasil secara menyeluruh, Dedi berencana menjadikannya sebagai kebijakan permanen yang dapat diadopsi oleh pemerintah provinsi maupun pusat. Bahkan, ia membuka peluang agar pendekatan serupa digunakan dalam pembinaan sosial bagi orang dewasa, sebagai alternatif dari sistem pemidanaan konvensional terhadap pelanggaran ringan. Dengan demikian, pendidikan karakter berbasis disiplin militer dapat menjadi model rehabilitasi sosial yang lebih efektif dan efisien.
Dedi juga menekankan bahwa program ini memerlukan keterlibatan banyak pihak, mulai dari TNI, pemerintah daerah, orang tua, hingga pihak sekolah. Kolaborasi ini dianggap penting untuk menjamin keberlangsungan program serta memastikan bahwa hasilnya benar-benar menyentuh aspek perubahan perilaku. Ia berharap para siswa yang telah mengikuti pelatihan ini nantinya akan kembali ke sekolah dengan semangat baru dan menjadi contoh bagi rekan-rekannya.
Secara keseluruhan, langkah Gubernur Dedi Mulyadi ini mencerminkan upaya inovatif pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan sosial melalui pendekatan yang tidak biasa. Di tengah kompleksitas persoalan kenakalan remaja dan lemahnya kontrol sosial dalam keluarga dan masyarakat, pendekatan berbasis kedisiplinan dan keteladanan langsung dari lingkungan militer menjadi salah satu alternatif yang mulai dilirik. Waktu akan menjawab sejauh mana efektivitas dan keberlanjutan program ini dalam jangka panjang.
_____________