Efisiensi Anggaran Dipastikan Lanjut Tahun 2026, Utamakan Kesejahteraan Rakyat
Ads
scroll to continue with content

Menu Atas

Header Menu

HEADLINES
.....

Efisiensi Anggaran Dipastikan Lanjut Tahun 2026, Utamakan Kesejahteraan Rakyat

Jumat, 23 Mei 2025

Ads

Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, menegaskan bahwa efisiensi anggaran akan tetap menjadi pilar utama dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Hal ini disampaikan usai dirinya memaparkan kerangka kebijakan ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM-PPKF) tahun 2026 dalam rapat paripurna DPR RI ke-18 Masa Persidangan III pada Selasa (20/5/2025).

Menurut Sri Mulyani, penyusunan APBN tahun depan akan mengacu pada hasil evaluasi kinerja kementerian dan lembaga di tahun berjalan. Dengan begitu, efisiensi bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata yang berorientasi pada perbaikan kualitas belanja negara.

"Kalau mau disampaikan jawaban saya, tegas: iya dilakukan (efisiensi)," tegasnya kepada awak media di Gedung DPR RI.

Efisiensi Bukan Pemangkasan, Tapi Optimalisasi



Sri Mulyani menjelaskan bahwa efisiensi bukan berarti memangkas anggaran secara membabi buta, melainkan melakukan penyesuaian agar belanja negara lebih produktif dan tepat sasaran. Ia menyoroti pentingnya membangun sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam hal perencanaan dan penggunaan anggaran agar dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

"Pemerintah memperbaiki sinergi dan harmonisasi kebijakan pusat dan daerah untuk peningkatan kualitas belanja daerah agar lebih produktif, perbaikan kualitas layanan publik, dan penguatan kemandirian daerah," ujarnya.

Melalui langkah tersebut, alokasi belanja negara pada 2026 ditargetkan berada di kisaran 14,19% hingga 14,75% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga keseimbangan fiskal sambil tetap mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Delapan Fokus Strategis APBN 2026



Untuk menyokong agenda pembangunan nasional yang adil dan merata, Sri Mulyani menyebutkan delapan strategi utama dalam kerangka menengah kebijakan fiskal. Strategi ini merupakan pengejawantahan dari Asta Cita, delapan prioritas pembangunan Presiden terpilih yang baru:

1. Ketahanan pangan
2. Ketahanan energi
3. Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
4. Pendidikan
5. Kesehatan
6. Pembangunan desa, koperasi, dan UMKM
7. Pertahanan semesta
8. Akselerasi investasi dan perdagangan global

Sri Mulyani menambahkan bahwa kementerian dan lembaga akan diarahkan untuk menyusun program-program berdasarkan panduan langsung dari Presiden. "Program disusun dengan mengacu pada Asta Cita delapan prioritas dari Bapak Presiden baru," imbuhnya.

Belanja Fokus ke Rakyat, Bukan Rutinitas



Dengan fokus pada delapan sektor utama tersebut, pemerintah menargetkan penguatan belanja berkualitas, yang berorientasi pada hasil (result-based budgeting), bukan sekadar penyerapan anggaran. Program Makan Bergizi Gratis, misalnya, diarahkan untuk mengatasi permasalahan stunting dan malnutrisi pada anak-anak usia sekolah dasar dan menengah.

Tak hanya itu, sektor pendidikan dan kesehatan tetap menjadi prioritas penting sebagai pondasi pembangunan sumber daya manusia. Dengan pendekatan yang lebih holistik, pemerintah berharap tercipta anggaran yang lebih efisien namun berdampak luas bagi kesejahteraan rakyat.

Sinergi dengan Daerah dan Sektor Swasta



Selain memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah pusat juga akan mendorong partisipasi sektor swasta untuk mendukung target pembangunan nasional. Dalam kerangka akselerasi investasi dan perdagangan global, APBN 2026 juga akan difokuskan pada peningkatan iklim usaha dan penguatan daya saing industri dalam negeri.

Langkah-langkah seperti penyederhanaan regulasi, penguatan infrastruktur digital, dan efisiensi birokrasi diharapkan mampu menciptakan peluang investasi baru dan memperluas basis pajak tanpa membebani rakyat kecil.

Pentingnya Evaluasi Kinerja Anggaran



Sri Mulyani menyampaikan bahwa saat ini Kementerian Keuangan sedang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja anggaran tahun berjalan. Evaluasi ini akan menjadi dasar untuk menentukan pagu indikatif bagi masing-masing kementerian/lembaga dalam APBN 2026.

"Dalam dua bulan ke depan, kami akan terus memantau dan mengevaluasi langkah-langkah efisiensi yang sudah dilakukan kementerian dan lembaga. Ini akan jadi bagian penting dari perhitungan alokasi tahun depan," kata Sri Mulyani.

Dengan pendekatan berbasis kinerja, pemerintah berharap dapat menekan pemborosan anggaran dan mengalihkan dana ke sektor yang lebih produktif.

Efisiensi Jadi Kunci Hadapi Tantangan Global



Dalam situasi global yang dinamis, termasuk risiko geopolitik, perubahan iklim, dan ketidakpastian ekonomi dunia, efisiensi fiskal menjadi kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Sri Mulyani menegaskan pentingnya kebijakan fiskal adaptif yang mampu menjawab tantangan global namun tetap pro-rakyat.

"Dalam menjaga stabilitas fiskal dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional, efisiensi dan efektivitas belanja negara harus menjadi budaya dalam pengelolaan APBN," pungkasnya.

_____________

Punya Kabar Menarik?

Bagikan di LiputanSembilan.com GRATIS! 🚀

Langsung tulis dan kirim tanpa login atau buat akun.


Apakah di sekitar kamu ada prestasi membanggakan, kisah inspiratif, atau acara penting yang jarang terliput media? Atau ingin mempromosikan produk dan jasa secara luas?


💡 LiputanSembilan.com membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengirimkan berita secara GRATIS!

✅ Berita tentang prestasi lokal, kisah unik, atau kejadian penting di komunitas Anda
✅ Promosi barang atau jasa untuk menjangkau lebih banyak orang

📢 Jangan lewatkan kesempatan ini! Kirim berita kamu sekarang dan jadilah bagian dari LiputanSembilan.com!


Kirim Berita