Viralnya kabar ini bermula dari unggahan akun media sosial @pedalranger di platform Thread. Ia membagikan pengalamannya yang terkejut setelah mengetahui bahwa kremesan ayam yang ia makan ternyata digoreng menggunakan minyak babi. Ia pun mengkritisi minimnya transparansi dari pihak restoran, terutama karena tidak ada pemberitahuan jelas di lokasi maupun menu.
Pengakuan Jujur Pegawai: Minyak Babi Hanya untuk Kremesan
Nanang, seorang pegawai yang sudah bekerja selama 10 tahun di Ayam Goreng Widuran, akhirnya angkat bicara. Ia bertugas di bagian penggorengan dan mengonfirmasi bahwa memang ada penggunaan minyak babi, namun hanya untuk membuat kremesan.
"Kremesan dibuat dari yang nonhalal, dari minyaknya. Kalau untuk yang menggoreng ayam beda minyak, minyak yang dipakai untuk kremes nonhalal. Minyak ini cuma untuk kremesan," ujarnya, seperti dikutip dari detikjateng.com, Senin (26/5).
Pengakuan ini membuat publik semakin geger. Banyak yang menganggap penggunaan bahan nonhalal seharusnya disampaikan secara terang-terangan sejak awal, bukan setelah viral. Transparansi bahan makanan menjadi isu utama di tengah masyarakat yang sensitif terhadap kehalalan produk.
Respons Manajemen: Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Menanggapi kehebohan di media sosial, pihak manajemen Ayam Goreng Widuran akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi. Dalam unggahan Instagram pada Jumat (23/5), mereka menyampaikan permintaan maaf dan menjelaskan bahwa sejak awal sudah mencantumkan keterangan 'nonhalal' di seluruh cabang.
"Kami telah mencantumkan keterangan Non Halal secara jelas di seluruh outlet dan media sosial resmi kami," tulis manajemen dalam unggahan tersebut.
Bukan hanya itu, mereka juga memperbarui bio akun Instagram dan keterangan di Google Review mereka dengan mencantumkan informasi nonhalal. Namun, sebagian publik menganggap langkah ini terlalu terlambat karena dilakukan setelah kritik ramai bermunculan.
Pelanggan Muslim Merasa Dikecewakan
Salah satu kelompok yang paling merasa dirugikan adalah pelanggan muslim. Banyak yang merasa kecewa karena selama ini tidak mengetahui bahwa kremesan yang mereka konsumsi ternyata mengandung bahan tidak halal.
Meski ayam gorengnya sendiri digoreng dengan minyak berbeda, tetap saja kremesan menjadi bagian dari sajian utama. Akibatnya, banyak pelanggan merasa bahwa mereka telah mengonsumsi makanan haram tanpa sadar.
Di media sosial, muncul banyak komentar kecewa dan marah. "Saya sudah langganan dari kecil. Gak nyangka ternyata ada bahan nonhalalnya. Harusnya dari dulu jelas keterangannya," tulis salah satu netizen.
Pengakuan Pegawai Lain: Sudah Ada Peringatan Nonhalal
Menambah klarifikasi, Ranto — salah satu pegawai lainnya — juga ikut memberikan penjelasan. Ia mengatakan bahwa sebenarnya manajemen sudah memberikan pengertian dan tanda bahwa menu kremesan mengandung bahan nonhalal.
"Sudah dikasih pengertian jika nonhalal. Sudah dikasih rekomendasi nonhalal. Itu viralnya (yang nonhalal) kremesnya itu," katanya.
Namun, pernyataan ini tidak serta-merta membuat pelanggan puas. Banyak yang mempertanyakan di mana letak pemberitahuan tersebut karena selama ini tidak tampak jelas di meja atau menu. Menurut mereka, informasi soal bahan makanan seperti ini seharusnya sangat eksplisit dan tidak menimbulkan interpretasi. Label halal dan nonhalal memang krusial di negeri mayoritas muslim seperti Indonesia.
Pelajaran Penting untuk Semua Pelaku Usaha Kuliner
Kejadian ini menjadi pembelajaran besar, tidak hanya bagi Ayam Goreng Widuran, tapi juga semua pelaku usaha di bidang kuliner. Soal transparansi dan informasi bahan makanan bukan hal yang bisa diabaikan. Apalagi jika menyangkut hal yang sensitif seperti kehalalan.
Di era digital dan sosial media seperti sekarang, kesalahan kecil bisa langsung menjadi viral dan berdampak besar pada reputasi bisnis. Dalam kasus Widuran, satu komponen menu saja sudah bisa memicu gelombang reaksi publik. Manajemen krisis restoran kini jadi tantangan nyata.
Reaksi Publik Masih Berlanjut
Meski manajemen sudah minta maaf dan memberi klarifikasi, namun gelombang reaksi netizen belum sepenuhnya mereda. Banyak yang meminta restoran lebih tegas dalam membedakan menu halal dan nonhalal, bahkan menyarankan agar kremesan diganti dengan versi halal.
Sebagian lainnya menyarankan agar restoran menyediakan pilihan kremesan halal yang digoreng dengan minyak nabati agar semua pelanggan bisa menikmatinya dengan tenang. Inovasi menu halal bisa jadi solusi terbaik ke depannya.
_____________