Sebelum menjadi Paus, Paus Leo XIV menghabiskan lebih dari tiga dekade di Peru sebagai seorang misionaris. Pengalaman ini sangat penting dalam membentuk karakternya. Ia melayani komunitas adat di pegunungan Andes dan pedalaman hutan Amazon yang penuh tantangan. Dalam perjalanan misi tersebut, Paus Leo XIV hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa, berinteraksi dengan umat dalam kondisi yang sangat primitif. Selama di Peru, ia tidak hanya belajar beradaptasi dengan kehidupan yang sederhana, tetapi juga menguasai bahasa Spanyol dan Quechua. Keahliannya dalam bahasa lokal sangat membantunya dalam membangun kedekatan dengan umat yang dilayaninya. Perjalanan misionarisnya ini menunjukkan kesungguhan dan dedikasinya terhadap pelayanan, jauh sebelum ia terpilih menjadi Paus.
Selain itu, Paus Leo XIV juga mencatatkan sejarah dalam dunia Ordo Agustinus, ketika pada 2023 ia menjadi anggota pertama dari Ordo Santo Agustinus yang memimpin Dikasteri untuk Para Uskup di Vatikan, sebuah posisi penting yang bertanggung jawab atas penunjukan uskup-uskup di seluruh dunia. Posisi ini memberinya kekuatan yang besar dalam menentukan arah Gereja, tetapi meskipun demikian, ia tetap mempertahankan kerendahan hati dan kesederhanaannya yang telah terbentuk sejak masa mudanya. Peran penting yang dijalaninya di Vatikan lebih banyak dilakukan di balik layar, sehingga ketika ia akhirnya terpilih sebagai kardinal pada 2022, banyak orang yang terkejut. Meskipun demikian, ini mencerminkan betapa pentingnya kontribusinya bagi Gereja Katolik.
Namun, perjalanan Paus Leo XIV tidak dimulai dari lingkungan gereja yang mapan. Sebelum bergabung dengan seminari dan memulai jalan hidupnya sebagai imam, ia sempat bekerja serabutan, termasuk menjadi pengantar pizza di Chicago. Pengalaman hidup yang sangat sederhana ini membentuknya menjadi pribadi yang sangat rendah hati dan membumi, sesuatu yang sangat terlihat dalam kepemimpinannya di Vatikan. Kesederhanaan dan ketulusan hati itulah yang menjadikannya sosok yang sangat dihormati oleh banyak orang, bahkan oleh mereka yang tidak selalu sepakat dengan pandangan Gereja.
Paus Leo XIV, meskipun dikenal sebagai pribadi yang pendiam, sangat aktif dalam reformasi Gereja. Ia memainkan peran penting dalam Sinode Sinodalitas, sebuah inisiatif yang mendorong Gereja untuk lebih mendengarkan suara umat, terutama dari negara-negara berkembang yang sering terabaikan dalam pengambilan keputusan. Di bawah kepemimpinan Paus Leo XIV, Gereja semakin memperhatikan isu-isu sosial dan kemanusiaan, dan mendorong umat Katolik untuk lebih terlibat dalam membantu sesama. Pendekatannya yang lebih fokus pada isu keadilan sosial dan kemiskinan sangat sejalan dengan visi Paus Fransiskus, yang dikenal dengan upayanya memerangi kemiskinan global.
Salah satu aspek lain yang membuat Paus Leo XIV begitu dihormati adalah perhatian dan kepeduliannya terhadap kaum miskin dan yang tertindas. Ia lebih memilih untuk fokus pada permasalahan sosial ketimbang terlibat dalam perdebatan politik atau budaya yang sering kali tidak produktif. Pendekatannya yang lebih memperhatikan kesejahteraan umat ini membuktikan bahwa meskipun ia adalah seorang pemimpin Gereja yang berkuasa, hatinya tetap berfokus pada kepentingan rakyat kecil. Ia juga dikenal sebagai diplomat yang sangat dihormati oleh berbagai pihak, berkat karakter tenangnya. Paus Leo XIV sering dikirim oleh Vatikan ke keuskupan-keuskupan yang bermasalah, baik di Eropa, Afrika, maupun Amerika Latin. Kemampuannya untuk meredakan ketegangan dan menyelesaikan konflik membuatnya dihormati oleh semua pihak, bahkan oleh mereka yang memiliki pandangan berbeda.
Menariknya, di masa mudanya, Paus Leo XIV juga pernah memiliki impian untuk menjadi seorang pemain baseball profesional. Ia dikenal sebagai pemain baseball berbakat di masa remajanya dan sempat mempertimbangkan untuk mengejar karier di dunia olahraga. Namun, takdir membawanya ke jalan hidup yang berbeda, dan ia akhirnya memilih untuk menjadi seorang imam. Perubahan jalur hidup yang dramatis ini menunjukkan bagaimana Paus Leo XIV selalu siap untuk mengikuti panggilan hidupnya, meskipun awalnya ia memiliki ambisi yang berbeda.
Sebelum menjalani hidup sebagai seorang pemimpin Gereja, Paus Leo XIV juga memiliki pendidikan yang sangat kuat. Ia adalah seorang sarjana matematika yang lulus dari Villanova University pada tahun 1977. Meskipun bukan latar belakang akademik yang biasanya dimiliki oleh seorang pemimpin Gereja, pendidikan matematika memberikan Paus Leo XIV dasar pemikiran yang logis dan analitis, yang sangat membantunya dalam mengambil keputusan-keputusan penting di Vatikan. Kemampuan analitis ini juga tercermin dalam kemampuannya untuk melihat berbagai persoalan Gereja secara objektif dan terukur.
Sebagai seorang poliglot, Paus Leo XIV juga mahir dalam berbagai bahasa asing. Selain bahasa Italia dan Spanyol, yang merupakan bahasa utama di Vatikan, ia fasih dalam bahasa Inggris, Latin, Jerman, dan Portugis. Kemampuannya dalam berbahasa asing sangat bermanfaat dalam tugas-tugas internasionalnya, dan hal ini terbukti saat ia memberikan pidato perdana kepausan dalam beberapa bahasa sekaligus. Kemampuannya untuk berbicara dalam berbagai bahasa membuatnya lebih mudah berkomunikasi dengan umat Katolik di seluruh dunia dan menunjukkan bahwa ia benar-benar seorang Paus global yang dapat menyentuh hati umat dari berbagai latar belakang.
_____________