Lagu 'Halo-halo Bandung' Dinyanyikan Di Korea Utara, Netizen Terharu!
Ads
scroll to continue with content

Menu Atas

Header Menu

HEADLINES
.....

Lagu 'Halo-halo Bandung' Dinyanyikan Di Korea Utara, Netizen Terharu!

Rabu, 21 Mei 2025

Ads

Siapa sangka, di tengah kota Pyongyang yang terkenal dengan kebijakan tertutupnya, terdengar alunan lagu perjuangan Indonesia yang melegenda: "Halo-Halo Bandung". Video yang menunjukkan sekelompok siswa Korea Utara menyanyikan lagu ini mendadak viral di media sosial, membuat publik Indonesia terkejut sekaligus tersentuh. Lagu yang lahir dari semangat perlawanan terhadap penjajahan itu kini justru dinyanyikan di negeri yang penuh misteri.



Rekaman ini pertama kali muncul dari utas akun X [@masjalah](https://x.com/masjalah) dan segera menjadi buah bibir. Dalam video berdurasi beberapa menit itu, tampak siswa-siswi dari Ryulgok School di Pyongyang berdiri rapi dengan seragam lengkap. Mereka menyanyikan lagu nasional Indonesia tersebut dengan penuh semangat, sambil diiringi instrumen musik tradisional seperti akordeon dan drum.

Yang lebih menarik, semua itu terjadi di bawah potret dua tokoh besar Korea Utara: Kim Il Sung dan Kim Jong Il. Sebuah pemandangan yang tidak biasa dan menimbulkan banyak pertanyaan.

Kenapa "Halo-Halo Bandung" Bisa Dikenal di Korea Utara?

Lagu "Halo-Halo Bandung" bukan sekadar lagu biasa. Lagu ini diciptakan oleh Ismail Marzuki dan menjadi simbol perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Lagu perjuangan ini menggambarkan semangat juang dan tekad rakyat Bandung untuk tidak tunduk pada penjajah.

Jadi, apa hubungannya dengan Korea Utara?

Ternyata, hubungan Indonesia dan Korea Utara punya sejarah panjang dan cukup unik. Salah satu buktinya adalah kerja sama budaya antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Pyongyang dan sekolah-sekolah lokal seperti Ryulgok School. Sejak era 1980-an, KBRI secara rutin melakukan pertukaran budaya, termasuk memperkenalkan lagu-lagu Indonesia ke pelajar di sana. Lagu-lagu seperti "Halo-Halo Bandung" dan "Rayuan Pulau Kelapa" menjadi bagian dari pelajaran budaya yang diajarkan kepada siswa-siswi setempat.

Koneksi Diplomatik yang Tak Banyak Diketahui

Hubungan Indonesia dan Korea Utara memang tidak sepopuler hubungan dengan negara-negara Barat, tapi justru karena itu, kedekatannya kerap mengejutkan. Presiden Soekarno dikenal memiliki hubungan pribadi yang cukup akrab dengan Kim Il Sung. Bahkan pada tahun 1965, Bung Karno menghadiahkan bunga anggrek Kimilsungia sebagai bentuk penghormatan kepada pemimpin tertinggi Korea Utara saat itu. Bunga itu kini dijadikan simbol nasional dan dirayakan dalam festival tahunan di Pyongyang.

Kedekatan ini tidak hanya berhenti di level kenegaraan. Dalam praktiknya, ada pertukaran budaya yang terus berlanjut hingga sekarang. Lagu "Halo-Halo Bandung" yang dinyanyikan oleh siswa Ryulgok School menjadi salah satu wujud nyata hubungan yang masih hidup di tengah dunia yang makin terfragmentasi oleh politik dan ideologi.

Respons Netizen: Bangga, Terharu, dan Bingung

Video tersebut memicu berbagai reaksi di kalangan netizen Indonesia. Banyak yang mengaku terharu melihat lagu nasional mereka dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh anak-anak dari negara yang sangat berbeda budaya dan sistem politiknya. Beberapa pengguna media sosial menyebut momen itu sebagai "momen langka yang menyatukan dua dunia."

Ada juga yang merasa bangga karena lagu tersebut bisa dikenal dan dinyanyikan di luar negeri, apalagi oleh siswa yang tidak memiliki hubungan langsung dengan Indonesia. Namun di sisi lain, beberapa netizen juga merasa bingung dan mempertanyakan apakah hal ini merupakan bagian dari strategi diplomatik, propaganda, atau sekadar momen pertukaran budaya biasa.

Terlepas dari itu semua, lagu "Halo-Halo Bandung" yang menggema di Pyongyang telah menciptakan jembatan emosional yang menghubungkan dua bangsa dengan cara yang sangat tak terduga.

Makna Lagu yang Tak Luntur oleh Waktu dan Tempat

"Halo-Halo Bandung" lahir dari semangat mempertahankan kemerdekaan setelah Indonesia menyatakan diri sebagai negara merdeka pada 17 Agustus 1945. Lagu ini menggambarkan semangat rakyat Bandung yang memilih membumihanguskan kotanya demi tidak diserahkan ke penjajah Belanda. Makna perjuangan dalam lagu ini sangat kuat dan relevan dengan semangat kemerdekaan bangsa mana pun.

Ketika lagu ini dinyanyikan di negeri yang terkenal dengan rezim otoriternya, maknanya bisa menjadi sangat simbolik. Apakah itu hanya bentuk penghormatan budaya? Atau mungkin ada makna lebih dalam yang disampaikan secara tidak langsung? Yang jelas, lagu ini memiliki kekuatan untuk menyatukan emosi, bahkan di tempat yang jauh dari tempat asalnya.

Suara Anak-anak di Tengah Propaganda

Banyak yang mempertanyakan konteks rekaman ini. Mengingat Korea Utara dikenal dengan sistem propaganda yang kuat, tidak sedikit yang beranggapan bahwa penampilan siswa ini adalah bagian dari program pencitraan. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa seni dan musik adalah bahasa universal yang mampu melampaui batas negara dan ideologi.

Dalam video tersebut, anak-anak tampak antusias, tersenyum, dan menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan. Ekspresi mereka tampak tulus, bukan seperti penampilan yang dipaksakan. Entah karena mereka memang menyukai lagunya, atau karena itu bagian dari kurikulum budaya, hasil akhirnya tetap menciptakan momen yang menyentuh hati banyak orang.

Kekuatan Budaya sebagai Perekat Bangsa

Dalam dunia yang penuh konflik dan perpecahan, budaya memiliki kekuatan untuk menjadi perekat antarbangsa. Lagu "Halo-Halo Bandung" yang lahir dari semangat perlawanan kolonialisme kini bergema di Korea Utara, negara yang secara politik dan budaya sangat berbeda dari Indonesia. Namun lewat melodi dan lirik yang penuh makna, jembatan pengertian pun bisa tercipta.

Hal ini membuktikan bahwa diplomasi budaya sering kali lebih efektif daripada diplomasi politik. Musik, makanan, seni, dan bahasa mampu menembus batas yang tak bisa dijangkau oleh perjanjian atau negosiasi formal. Apa yang dilakukan oleh KBRI di Pyongyang adalah contoh nyata dari bagaimana sebuah negara bisa menyebarkan nilai-nilainya secara halus namun berdampak.

Akhir Kata: Sebuah Pengingat Akan Kekuatan Musik

Dari sekian banyak konten viral yang beredar, video anak-anak Korea Utara menyanyikan lagu "Halo-Halo Bandung" adalah salah satu yang paling menggugah. Ia tidak hanya membawa rasa haru dan bangga, tapi juga menjadi pengingat bahwa musik memiliki kekuatan untuk menyatukan perbedaan. Lagu perjuangan yang lahir di masa kolonial kini menjadi simbol jembatan budaya lintas negara.

Mungkin kita tidak tahu pasti bagaimana proses rekaman itu terjadi, atau apakah itu bagian dari kegiatan formal. Namun satu hal yang jelas, di balik segala perbedaan sistem dan pandangan, lagu Indonesia tetap bisa menyentuh hati orang-orang dari belahan dunia lain.

_____________

Punya Kabar Menarik?

Bagikan di LiputanSembilan.com GRATIS! 🚀

Langsung tulis dan kirim tanpa login atau buat akun.


Apakah di sekitar kamu ada prestasi membanggakan, kisah inspiratif, atau acara penting yang jarang terliput media? Atau ingin mempromosikan produk dan jasa secara luas?


💡 LiputanSembilan.com membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengirimkan berita secara GRATIS!

✅ Berita tentang prestasi lokal, kisah unik, atau kejadian penting di komunitas Anda
✅ Promosi barang atau jasa untuk menjangkau lebih banyak orang

📢 Jangan lewatkan kesempatan ini! Kirim berita kamu sekarang dan jadilah bagian dari LiputanSembilan.com!


Kirim Berita