Kebijakan itu melarang Harvard untuk menerima dan menampung mahasiswa asing, membuat banyak pihak kelimpungan. Apalagi saat itu para mahasiswa sedang bersiap menghadapi semester baru dan musim panas — waktu di mana sebagian dari mereka merencanakan perjalanan ke luar negeri. Tapi, keputusan ini malah mengancam status visa mahasiswa mereka.
Kepanikan Melanda Ribuan Mahasiswa Internasional
Kabar tersebut membuat mahasiswa dari berbagai negara langsung was-was. Bayangkan saja, belum selesai urusan kuliah, mereka harus menghadapi ancaman pencabutan visa, dihentikannya program penelitian, hingga kemungkinan besar dilarang masuk kembali ke AS jika mereka bepergian saat liburan.
"Ribuan mahasiswa internasional sekarang berada dalam situasi ketidakpastian. Mereka takut karena tidak tahu apa yang terjadi dengan status hukum mereka," ungkap Abdullah Shahid Sial, Wakil Presiden Badan Mahasiswa Harvard yang berasal dari Lahore, Pakistan.
Sial menambahkan, mahasiswa internasional ini bukan hanya menghadapi masalah legalitas. Mereka juga berjuang secara emosional, karena banyak dari mereka adalah remaja yang tinggal jauh dari rumah dan kini harus menghadapi krisis ini sendirian. Tak heran, suasana di kampus berubah menjadi penuh kecemasan.
27 Persen Mahasiswa Harvard adalah Internasional
Sebagai informasi, sekitar 27 persen mahasiswa di Harvard adalah mahasiswa internasional. Itu berarti ada lebih dari 6.700 mahasiswa yang bisa terdampak langsung oleh kebijakan Trump ini. Bukan jumlah kecil, dan tentu saja berpengaruh besar terhadap kehidupan akademis serta keberlangsungan kampus secara umum.
Sial menegaskan bahwa kedatangan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia seharusnya menjadi nilai tambah bagi AS. "Negara ini seharusnya bangga karena menarik orang-orang terbaik dari seluruh dunia untuk belajar di universitas seperti Harvard," katanya. Tapi kenyataannya, mereka malah diperlakukan seolah-olah tidak dihargai.
Universitas Berusaha Melindungi Mahasiswanya
Pihak universitas dan para dosen tidak tinggal diam. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk memberikan dukungan moral dan hukum kepada mahasiswa asing. Sial mengatakan, Harvard berupaya membantu mahasiswa yang ingin pindah ke kampus lain dan bahkan mempertimbangkan bantuan keuangan bagi mereka yang harus pindah secara mendadak.
Tapi masalahnya, sebagian besar universitas lain sudah menutup pendaftaran untuk semester musim gugur. Artinya, banyak mahasiswa yang tidak punya pilihan lain selain bertahan dan berharap kebijakan itu dibatalkan.
Kekhawatiran Mahasiswa dari Austria hingga Selandia Baru
Tak hanya mahasiswa asal Asia, kekhawatiran juga dirasakan oleh mahasiswa dari Eropa dan Oseania. Karl Molden, mahasiswa asal Austria, mengaku sangat cemas karena saat kebijakan diumumkan, ia sedang berada di luar AS. Sekarang dia takut tak bisa kembali ke kampusnya sendiri.
"Seolah-olah mahasiswa internasional dijadikan pion dalam konflik antara demokrasi dan otoritarianisme," ujar Molden. Komentarnya menggambarkan betapa mereka merasa dijadikan alat dalam pertarungan politik dalam negeri AS.
Cerita menyedihkan juga datang dari Jared, remaja 18 tahun asal Selandia Baru. Ia baru saja diterima sebagai mahasiswa baru dan tengah dalam proses pengajuan visa. Namun pengumuman Trump datang saat prosesnya belum selesai, membuatnya patah hati. "Saya sudah memimpikan Harvard sejak kecil, dan sekarang semuanya terasa hancur," ucapnya.
Trump Dituding Gunakan Isu Rasisme di Harvard
Beberapa mahasiswa bahkan mencurigai ada agenda politik tersembunyi di balik kebijakan ini. Trump sempat menuduh Harvard sebagai kampus yang penuh dengan antisemitisme dan tak aman bagi komunitas Yahudi. Ini membuat sebagian mahasiswa merasa kampus mereka dijadikan target serangan politik.
Seorang mahasiswa asal Israel yang menolak disebutkan namanya, menyatakan bahwa kebijakan Trump terasa seperti bagian dari konflik yang lebih besar antara pemerintah dan dunia akademis. "Kami merasa dimanfaatkan," ucapnya, dengan nada kecewa.
Izin Ditarik, Mahasiswa Terancam Terlantar
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS saat itu, Kristi Noem, langsung mencabut izin Harvard untuk menerima mahasiswa asing. Langkah itu diumumkan pada Kamis, 22 Mei, dan langsung memicu protes dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai kebijakan ini sembrono dan hanya akan merusak citra AS di mata dunia internasional.
Padahal, mahasiswa internasional merupakan salah satu sumber pemasukan terbesar bagi universitas di AS. Selain membayar biaya kuliah yang tinggi, mereka juga berkontribusi terhadap penelitian dan keberagaman kampus.
Perlawanan dari Harvard: Gugatan Resmi Diajukan
Tentu saja, Harvard tidak tinggal diam. Mereka langsung menggugat keputusan tersebut ke Pengadilan Distrik Massachusetts. Dan hasilnya cukup melegakan — pengadilan menangguhkan sementara kebijakan Trump. Artinya, mahasiswa internasional masih bisa bernapas lega… untuk sementara.
Meski begitu, banyak mahasiswa masih hidup dalam ketidakpastian. Mereka tak tahu apa yang akan terjadi semester depan. Apakah mereka akan diusir? Apakah visa mereka akan dicabut? Apakah mereka bisa melanjutkan kuliah? Semua pertanyaan itu belum ada jawabannya.
Akademisi vs Politik: Siapa yang Akan Menang?
Kisah ini jadi bukti betapa dunia pendidikan tak luput dari tarik ulur politik. Di satu sisi, kampus seperti Harvard berusaha menjaga inklusivitas dan kualitas akademis. Di sisi lain, ada kepentingan politik yang bisa dengan mudah membuyarkan masa depan ribuan mahasiswa dari berbagai negara.
Kalau begini terus, siapa yang dirugikan? Jelas, mahasiswa internasional. Mereka datang jauh-jauh demi pendidikan terbaik, tapi malah dijadikan alat dalam konflik kekuasaan. Situasi ini menunjukkan pentingnya peran hukum dan lembaga independen untuk mengontrol kebijakan yang bisa merugikan banyak orang.
_____________