Menurut Ketua PHRI Sumatera Utara, Denny S Wardhana, salah satu biang keroknya adalah kebijakan efisiensi anggaran yang diberlakukan pemerintah. Efisiensi ini membuat kegiatan pemerintahan dan korporasi di hotel berkurang drastis. Padahal, kegiatan seperti seminar, rapat, atau pelatihan seringkali jadi "penyelamat" okupansi dan pemasukan tambahan bagi hotel.
Hotel Bintang 5 Bertahan, Tapi Ruang Rapat Kosong
Meskipun hotel-hotel bintang 5 masih bisa bernapas lega karena okupansi kamar mereka cenderung stabil, tapi ruang rapat justru sepi. "Hotel bintang 5, okupansi kamar masih lumayan. Tapi ruang rapat kosong. Itu karena efisiensi anggaran dari instansi dan perusahaan," ujar Denny saat diwawancarai media lokal, Selasa (27/5/2025).
Ia menjelaskan bahwa operasional hotel tidak bisa hanya mengandalkan sewa kamar. Ada banyak pos pemasukan lain yang sama pentingnya, seperti layanan katering, ruang pertemuan, dan event corporate gathering. Jadi kalau ruang rapat kosong, itu pukulan telak bagi pemasukan hotel.
Denny juga menambahkan, selama ini, kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) sangat vital untuk menopang kelangsungan usaha hotel. Tapi karena efisiensi, banyak kegiatan itu yang hilang begitu saja dari kalender bulanan hotel.
Banyak Hotel Terpaksa Kurangi Karyawan
Karena tekanan finansial yang cukup besar, sejumlah hotel terutama kelas menengah dan hotel lokal, mulai melakukan efisiensi tenaga kerja. Dalam artian, banyak staf yang harus dirumahkan atau diputus kontrak. "Efisiensi anggaran ini bikin hotel bintang 3 dan 4 kesulitan. Mau gak mau, mereka kurangi tenaga kerja," kata Denny.
PHK memang bukan solusi ideal, tapi banyak hotel sudah tidak punya pilihan lain. Mereka harus menekan biaya operasional agar tetap bisa bertahan di tengah kondisi sulit. PHK karyawan hotel menjadi konsekuensi dari menurunnya permintaan pasar yang tidak bisa diprediksi.
Apalagi, industri perhotelan adalah bisnis padat karya yang bergantung pada banyak personel di berbagai sektor — dari front office, housekeeping, dapur, hingga tim event. Jadi ketika pemasukan turun, dampaknya langsung ke tenaga kerja.
Upaya PHRI Masih Belum Optimal
PHRI Sumatera Utara sendiri mengaku sudah berusaha keras untuk mendongkrak kembali okupansi hotel-hotel bintang 3 dan 4. Beberapa kegiatan seperti pameran, bazar, hingga mini concert sempat digelar. Tapi, menurut Denny, hasilnya belum signifikan. Masalah utamanya adalah ketidakkonsistenan acara yang bisa diadakan tiap bulan.
"Kalau mau okupansi naik, acaranya harus rutin tiap bulan. Tapi ya gak semudah itu. Kita harus kerja sama dengan banyak pihak, dan itu butuh waktu serta komitmen," jelasnya. Event di hotel Medan dinilai bisa jadi pemancing okupansi, tapi perlu strategi yang matang.
Sementara kegiatan hotel besar masih bisa berjalan berkat branding dan koneksi, hotel-hotel kecil harus lebih kreatif. Sayangnya, mereka tidak selalu punya akses atau dana untuk promosi besar-besaran. Akibatnya, ketimpangan antar kelas hotel makin terasa.
Kolaborasi Jadi Kunci
Denny menekankan pentingnya kolaborasi antara semua stakeholder — pemerintah, pelaku usaha, dan pihak swasta — untuk merancang solusi jangka panjang. Tanpa sinergi yang kuat, industri perhotelan akan terus jalan di tempat. "Kalau kita bisa bareng-bareng, bikin program kolaboratif, saya yakin Medan bisa bangkit," katanya penuh harap.
Kolaborasi ini bisa dalam bentuk insentif pajak untuk hotel yang mempertahankan karyawan, atau penyaluran event pemerintah ke hotel lokal. Selain itu, pengembangan wisata Medan juga perlu didorong, agar arus tamu bisa kembali meningkat.
Perhotelan adalah bagian penting dari ekosistem ekonomi kota. Ketika hotel hidup, banyak sektor lain ikut bergerak, mulai dari transportasi, UMKM, hingga pariwisata. Maka, membiarkan industri ini terpuruk terlalu lama adalah pilihan yang buruk bagi perekonomian daerah.
Apa Solusinya?
Beberapa ide yang mulai mengemuka antara lain digitalisasi promosi hotel, insentif pajak daerah, hingga kemitraan jangka panjang dengan institusi pendidikan dan korporasi. Dengan cara ini, hotel bisa tetap menjadi lokasi utama untuk pelatihan, seminar, atau magang.
Selain itu, peran pemerintah kota juga krusial. Perlu strategi untuk mendatangkan lebih banyak kegiatan berskala nasional atau internasional ke Medan. Konferensi di Medan misalnya, bisa menjadi solusi jitu untuk mendongkrak okupansi sekaligus memperkenalkan potensi kota.
Sektor pariwisata dan perhotelan memang sedang diuji, tapi bukan berarti tak bisa bangkit. Dengan dukungan semua pihak, industri ini bisa kembali berdiri kuat, menjadi tulang punggung ekonomi Medan.
_____________