Video momen debat itu pun viral di media sosial, terutama di TikTok lewat akun @andiwuaoy2r, yang memperlihatkan bagaimana Ahmad Khozinudin terlihat kebingungan saat mendapat argumen tajam dari Aristo.
Debat Panas Berujung "Skor 3-0"
Dalam video tersebut, Ahmad Khozinudin mencoba menjelaskan bahwa pihaknya, termasuk Roy Suryo dan Rismon Sianipar, hanya menjawab pertanyaan publik yang berkembang soal ijazah Jokowi. Ia mengklaim bahwa pernyataan yang keluar dari pihak Bareskrim Polri bukan menyatakan ijazah itu "asli", melainkan "identik". Menurutnya, ada perbedaan signifikan antara "identik" dan "otentik".
"Yang dinyatakan oleh Bareskrim adalah identik, bukan asli. Ini harus dipahami publik. Karena bukti-bukti yang ada masih merupakan bagian dari penyelidikan, belum sepenuhnya menguatkan keaslian," ungkap Khozinudin.
Namun argumen ini langsung dimentahkan oleh Aristo Pangaribuan. Dengan tenang dan sistematis, Aristo membedah perbedaan antara *legal truth* dan *factual truth* sesuai dengan rilis resmi dari kepolisian. Ia mengatakan bahwa proses hukum telah berjalan dan kebenaran faktual maupun legal sudah dikonfirmasi.
"Kalau ini pertandingan sepak bola, Ahmad ini udah kalah 3-0 di babak pertama," ucap Aristo sambil tersenyum.
Respons Warganet: Tompel Mati Kutu
Video tersebut langsung menuai berbagai reaksi dari netizen. Pemilik akun TikTok yang mengunggah video bahkan menyindir Ahmad Khozinudin dengan menyebutnya "Tompel" dan mengomentari ekspresi bingungnya saat debat berlangsung.
"Nggak boleh gitu dong Mas Aristo, kasih empati dikit. Bilang 1-0 aja dulu biar mereka semangat counternya. Ini 3-0 lho, kasihan Tompel," ucap pemilik akun sambil tertawa dalam videonya.
Komentar tersebut langsung memicu gelombang tanggapan netizen lain. Mereka ramai-ramai mendukung argumen Aristo dan menyatakan bahwa mereka percaya ijazah Jokowi memang asli.
"Saya percaya ijazah Presiden Jokowi asli, puas banget nontonnya," tulis akun @MardiyahBoewono.
"1.000.000% asli, dan puas banget lihat argumen Tompel tumbang," timpal Muhammad Wahyudi.
"Puas parah, udah nggak bisa ngomong apa-apa dia," kata LEGO BRICKS.
Refly Harun dan Survei Lawan Balik
Menariknya, nama Refly Harun juga ikut disebut dalam perdebatan ini. Menurut sang pemilik akun TikTok, Refly juga sempat menyebut bahwa ia melakukan riset terkait keaslian ijazah Jokowi. Hal ini disebut-sebut sebagai bagian dari strategi untuk menandingi argumen kelompok yang selama ini tidak percaya dengan keaslian dokumen pendidikan Jokowi.
"Apa yang mereka lakukan ini selalu pakai embel-embel 'rakyat Indonesia' atau 'kami melakukan riset', padahal faktanya nggak kuat. Makanya saya survei juga buat nandingin survei-surveinya Refly Harun," kata pemilik akun TikTok sambil tertawa.
Hal ini menunjukkan bahwa polemik soal ijazah Jokowi tak cuma berputar pada hukum, tapi juga sudah menyentuh ranah opini publik dan bahkan perang narasi politik di media sosial.
Bareskrim: Ijazah Jokowi Sudah Terverifikasi
Sebagai informasi, Bareskrim Polri sebelumnya sudah menyampaikan secara resmi bahwa dokumen pendidikan Presiden Jokowi telah diverifikasi dan ditemukan **tidak ada unsur pemalsuan**. Semua bukti yang dikumpulkan menunjukkan keabsahan dokumen yang dipersoalkan oleh pihak-pihak tertentu.
Pernyataan ini tentu menutup ruang gerak bagi para penyebar keraguan soal keaslian ijazah Jokowi, termasuk yang dilakukan oleh Ahmad Khozinudin dan Roy Suryo.
Meski begitu, tetap saja beberapa pihak terus mencoba mengangkat isu ini dengan narasi berbeda, seperti penggunaan istilah "identik" dan "otentik" yang diperdebatkan di ruang publik.
Netizen Bersatu Membela Jokowi
Yang menarik adalah reaksi publik yang kini lebih berani menyuarakan pendapatnya. Video debat ini menjadi semacam pelampiasan masyarakat yang selama ini gerah dengan narasi tak berdasar soal Jokowi.
Banyak yang merasa puas melihat bagaimana argumen Ahmad Khozinudin dibantah secara logis dan ilmiah oleh Aristo Pangaribuan. Bahkan tidak sedikit yang menyebut momen tersebut sebagai "karma digital" bagi mereka yang terus menyebar keraguan.
"Udah bosen denger hoaks soal ijazah. Untungnya sekarang banyak yang berani lawan balik," tulis seorang netizen.
Beberapa juga menyarankan agar pihak-pihak yang masih ngotot menggulirkan isu palsu soal ijazah sebaiknya fokus pada hal-hal yang lebih substansial, bukan memperdebatkan sesuatu yang sudah tuntas secara hukum.
Kesimpulan: Masyarakat Kini Lebih Cerdas
Dari kasus ini, kita bisa lihat bahwa publik kini semakin cerdas menyaring informasi. Isu yang dulu bisa dengan mudah menggiring opini, kini justru jadi bahan tertawaan ketika dibenturkan dengan fakta dan logika.
Kehadiran media sosial seperti TikTok juga punya peran besar dalam membuka ruang diskusi baru, bahkan menjadi tempat pembuktian fakta-fakta hukum. Dalam kasus Ahmad Khozinudin vs Aristo Pangaribuan, publik seolah menjadi wasit yang memberikan "skor" berdasarkan argumen dan data, bukan sekadar opini kosong.
Lewat momentum ini, semoga ke depan publik makin cermat dan waspada terhadap narasi-narasi provokatif. Karena yang dibutuhkan negara saat ini bukan perdebatan soal ijazah, tapi persatuan dan pembangunan yang lebih bermakna.
_____________