Tragis! Bocah 7 Tahun Diculik Gara-gara Utang Ayah Rp8 Juta
Ads
scroll to continue with content

Menu Atas

Header Menu

HEADLINES
.....

Tragis! Bocah 7 Tahun Diculik Gara-gara Utang Ayah Rp8 Juta

Kamis, 29 Mei 2025

Ads

Sebuah peristiwa mengejutkan datang dari Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun berinisial AKR menjadi korban penculikan yang dilakukan oleh pria berusia 30 tahun berinisial H. Tragisnya, motif dari penculikan ini ternyata hanya karena utang sang ayah sebesar Rp8 juta yang belum juga dilunasi.

Peristiwa ini terjadi pada Minggu, 25 Mei 2025, sekitar pukul 11.00 WIB di Dusun II, Desa Maur Lama, Kecamatan Rupit. Pelaku diketahui adalah kenalan dari ayah korban. Bukannya menagih utang dengan cara wajar, H justru nekat menculik anak kecil yang sama sekali tidak tahu apa-apa.

Motif Emosional Gara-Gara Utang

Menurut keterangan Kasat Reskrim Polres Muratara, Iptu Nasirin, motif pelaku murni karena emosi. Ayah korban berutang kepada pelaku sejak awal tahun 2025, namun belum mampu membayar. Utangnya sebesar Rp8 juta dan belum bisa dikembalikan karena keterbatasan ekonomi.

"Jadi pelaku ini sebenarnya teman dari ayah korban. Awalnya membantu dengan memberi pinjaman uang untuk keperluan sehari-hari. Tapi karena belum juga dibayar, mungkin dia kesal dan akhirnya nekat menculik anak temannya sendiri," jelas Nasirin.

Lebih lanjut, Nasirin menjelaskan bahwa saat ini pelaku masih dalam pengejaran polisi. "Kita masih terus memburu pelaku dan berharap dia segera tertangkap agar kasus ini bisa segera selesai," katanya.

Korban Berhasil Diselamatkan Polisi

Meski pelaku berhasil kabur, polisi patut diapresiasi karena berhasil menyelamatkan sang anak. Kapolsek Rawas Ulu, Iptu Harry Suharto, menceritakan bagaimana proses penyelamatan itu berlangsung. Timnya datang ke rumah pelaku dan berusaha membujuk agar anak yang diculik mau diserahkan.

"Kita datangi rumahnya dan kita bujuk. Kita janji akan bantu mediasi masalah utangnya dengan keluarga korban kalau dia menyerahkan anak itu," ujar Harry.

Akhirnya, pelaku mau menyerahkan AKR tanpa perlawanan. Sayangnya, saat polisi hendak mengamankannya, pelaku langsung melarikan diri dan sampai sekarang masih buron.

Syok dan Trauma, Tapi Selamat

Kabar baiknya, korban selamat dan tidak mengalami luka fisik. Namun secara psikologis, bocah tujuh tahun ini jelas mengalami trauma akibat kejadian itu. Diculik dan disandera oleh orang yang dikenalnya, tentu jadi pengalaman yang akan membekas dalam ingatannya.

"Kita pastikan anaknya baik-baik saja, hanya trauma. Untuk luka fisik tidak ada," jelas Harry. Saat ini, pihak keluarga dan pendampingan psikologis menjadi hal penting agar korban bisa pulih secara mental.

Hukum Harus Bertindak Tegas

Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi masyarakat dan aparat. Bayangkan saja, seorang anak harus jadi korban karena masalah utang orang dewasa. Ini bukan hanya persoalan kriminal biasa, tapi juga menyangkut nilai-nilai moral dan kemanusiaan.

Tindakan pelaku jelas melanggar hukum dan sangat membahayakan. Penculikan adalah tindak pidana berat yang bisa dihukum penjara belasan tahun. Terlebih jika korbannya adalah anak-anak. Undang-Undang Perlindungan Anak di Indonesia mengatur tegas hukuman terhadap pelaku penculikan anak, apalagi jika dilakukan dengan tekanan atau motif balas dendam.

Utang Bukan Alasan Bertindak Kriminal

Meskipun kita bisa memahami tekanan finansial, tidak ada pembenaran atas tindakan penculikan. Masalah utang bisa diselesaikan lewat jalur hukum atau mediasi, bukan dengan menculik anak orang. Kasus ini menunjukkan bagaimana seseorang bisa kehilangan kendali dan logika saat emosi menguasai.

Kalau pun pelaku ingin menagih, ada banyak cara. Bahkan kalau mau, ia bisa laporkan ayah korban ke pihak berwajib atau mencoba jalur kekeluargaan. Tapi yang dilakukan H adalah bentuk ekstrim dari tindakan penagihan utang ilegal.

Peran Masyarakat dalam Pencegahan

Kasus seperti ini sebenarnya bisa dicegah jika masyarakat lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Warga desa, tetangga, bahkan perangkat desa seharusnya bisa membantu mendeteksi hal-hal mencurigakan, apalagi jika menyangkut anak-anak. Pengawasan anak harus lebih diperketat, khususnya jika ada warga yang dikenal memiliki masalah.

Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa pentingnya literasi keuangan dan edukasi soal utang sangat krusial. Kadang niat baik memberi pinjaman justru berujung masalah besar karena tidak dibarengi dengan kesepakatan yang jelas dan komunikasi yang baik.

Aparat Diminta Bertindak Cepat

Kini tugas aparat kepolisian tinggal satu: menangkap pelaku. Dengan identitas dan alamat yang sudah diketahui, besar kemungkinan pelaku bisa segera ditemukan. Tentu masyarakat berharap agar penegakan hukum dilakukan secara adil dan tegas, supaya kasus serupa tak terjadi lagi.

Banyak netizen yang menyayangkan tindakan pelaku. Alih-alih mendapat kembali uangnya, ia justru terjerat dalam kasus pidana berat. Sementara keluarga korban, khususnya si anak, harus menjalani pemulihan akibat trauma.

Jangan Sampai Terulang

Kejadian di Muratara ini jadi pelajaran pahit yang sangat penting. Jangan pernah melibatkan anak dalam urusan utang piutang orang dewasa. Anak bukan alat tukar. Bukan tebusan. Bukan alat balas dendam. Mereka punya hak untuk hidup aman dan nyaman tanpa rasa takut.

Dan bagi siapapun yang tengah menghadapi persoalan ekonomi, ingat bahwa emosi sesaat bisa menghancurkan masa depan. Kendalikan emosi, cari jalan keluar yang bijak, dan jangan korbankan siapa pun demi ego atau kemarahan pribadi.

_____________

Punya Kabar Menarik?

Bagikan di LiputanSembilan.com GRATIS! 🚀

Langsung tulis dan kirim tanpa login atau buat akun.


Apakah di sekitar kamu ada prestasi membanggakan, kisah inspiratif, atau acara penting yang jarang terliput media? Atau ingin mempromosikan produk dan jasa secara luas?


💡 LiputanSembilan.com membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengirimkan berita secara GRATIS!

✅ Berita tentang prestasi lokal, kisah unik, atau kejadian penting di komunitas Anda
✅ Promosi barang atau jasa untuk menjangkau lebih banyak orang

📢 Jangan lewatkan kesempatan ini! Kirim berita kamu sekarang dan jadilah bagian dari LiputanSembilan.com!


Kirim Berita