Gibran, yang tampil rapi mengenakan jas hitam, terlihat menunjukkan gestur penuh hormat saat menyambut Try Sutrisno yang mengenakan seragam putih Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Momen itu tak hanya menyiratkan kesantunan, tapi juga mencerminkan semangat persatuan meski di tengah perbedaan.
Disaksikan Megawati, Gibran Tunduk Salami Senior
Dalam foto yang dibagikan Gibran melalui akun Instagram-nya, tampak ia dengan sopan menunduk saat bersalaman dengan Try. Di sebelah Try, hadir pula Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Dewan Pengarah BPIP, yang menyaksikan langsung momen tersebut.
Acara ini juga dihadiri Presiden Prabowo Subianto dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta jajaran petinggi lainnya. Suasana tampak akrab dan penuh penghormatan antar tokoh-tokoh bangsa lintas generasi.
Kehadiran Gibran sebagai wakil presiden yang baru saja dilantik, berdampingan dengan para senior, menjadi simbol regenerasi dan keberlanjutan semangat Pancasila dalam kepemimpinan nasional.
Ngobrol & Bercanda Bareng Megawati
Tak hanya formalitas semata, suasana pertemuan juga tampak hangat dan cair. Dalam sesi santai, Gibran duduk satu meja dengan Presiden Prabowo, Megawati, Try Sutrisno, dan Ketua MPR Ahmad Muzani. Foto-foto yang beredar menunjukkan Gibran dan Megawati saling berbincang dengan santai, bahkan sempat bercanda.
Ahmad Muzani yang turut hadir mengonfirmasi bahwa suasana saat itu sangat akrab. "Iya, bercanda antara Gibran dan Ibu Mega, saya ada di situ juga bersama Pak Prabowo," katanya kepada awak media.
Momen ini cukup mencuri perhatian publik, terutama karena diketahui sebelumnya sempat ada jarak politik antara Gibran dan Megawati pasca Pilpres 2024.
Gibran Tanyakan Kesehatan Megawati
Tak berhenti sampai di situ, Gibran juga menunjukkan sikap peduli dengan menanyakan kondisi kesehatan Megawati. Sebagai tokoh nasional dan pemimpin senior di PDI Perjuangan, Megawati memang mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Muzani menyebut, "Iya, Gibran menanyakan kesehatan Ibu, ngobrol ringan, suasananya cair dan hangat."
Momen-momen seperti ini menampilkan sisi humanis dari para pemimpin nasional. Di balik sorotan politik dan pemberitaan, interaksi personal mereka tetap berlangsung dengan rasa hormat dan kekeluargaan.
Di Tengah Isu Penggulingan Wapres
Namun, semua ini terjadi di tengah situasi politik yang cukup dinamis. Sejumlah purnawirawan TNI yang tergabung dalam Forum Purnawirawan TNI mengeluarkan delapan tuntutan, salah satunya meminta MPR mengganti Wapres Gibran karena proses pemilihannya dianggap melanggar hukum.
Salah satu penandatangan tuntutan itu adalah Try Sutrisno sendiri, bersama beberapa nama besar lainnya seperti Fachrul Razi, Tyasno Soedarto, dan Slamet Soebijanto. Hal ini sempat memicu spekulasi dan perbincangan publik soal ketegangan politik.
Namun, dengan adanya momen hangat seperti yang terekam dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila, publik bisa melihat bahwa perbedaan pendapat politik tidak serta-merta memutus komunikasi antarpemimpin bangsa.
Simbol Hormat dan Rekonsiliasi
Gestur membungkuk saat salaman bukan sekadar basa-basi. Di budaya Indonesia, itu menunjukkan rasa hormat yang dalam. Saat Gibran melakukan hal itu kepada Try Sutrisno, banyak pihak menilainya sebagai simbol rekonsiliasi dan pengakuan terhadap kontribusi tokoh-tokoh pendahulu.
Bahkan, di tengah perbedaan pandangan politik, hubungan antar pribadi tetap bisa dijalin dengan sikap yang baik. Inilah esensi dari nilai-nilai Pancasila yang seharusnya terus dirawat.
Membangun Hubungan Lintas Generasi
Sebagai pemimpin muda, Gibran terlihat mencoba membangun relasi dengan tokoh-tokoh senior. Baik dengan Megawati, Jusuf Kalla, maupun Try Sutrisno. Ini penting dalam menjaga kesinambungan nilai dan etika bernegara.
Peristiwa ini juga memberi pesan penting bahwa keberagaman pendapat di ruang politik tidak harus selalu berujung pada konflik personal. Ada ruang untuk berdiskusi, bercanda, bahkan saling menghargai meski berdiri di sisi yang berbeda.
Netralisasi Ketegangan Politik?
Tak sedikit pengamat yang menilai, unggahan Gibran ini bisa jadi bagian dari strategi untuk menetralkan ketegangan politik yang muncul pasca tuntutan sejumlah purnawirawan. Dengan menunjukkan gestur hormat dan keakraban, Gibran seperti ingin mengirim pesan bahwa ia tetap terbuka dan menghormati semua pihak.
Politik rekonsiliasi memang menjadi pendekatan yang cukup efektif dalam meredam gejolak pasca kontestasi.
Momen Gibran menyalami Try Sutrisno dengan sopan dan penuh hormat menjadi sorotan publik bukan karena kontroversi, tapi karena makna simbolisnya. Di tengah situasi politik yang kadang memanas, tindakan kecil seperti ini bisa menjadi pemersatu dan pengingat bahwa Indonesia butuh ruang dialog, bukan sekadar debat.
Di akhir hari, semangat Pancasila yang diperingati hari itu bukan hanya soal simbol, tapi tentang bagaimana kita bisa bersatu dalam keberagaman dan perbedaan pandangan.
_____________