Ita menggelar konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Tempo pada Sabtu, 21 Juni 2025. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa komentar Fadli merupakan bentuk pembohongan terhadap publik dan perempuan Indonesia. Sebagai sosok yang pernah mendampingi langsung para korban, termasuk hingga akhir hayat mereka, Ita merasa komentar itu sangat menyakitkan dan melukai akal sehat.
Ia menyoroti bahwa keberadaan TGPF saja sudah cukup jadi bukti keseriusan negara. TGPF bukan sembarang tim—dibentuk oleh lima menteri dan satu jaksa agung, yang artinya negara waktu itu secara resmi mengakui tragedi Mei 1998 sebagai masalah serius yang harus diusut.
Selain itu, Ita juga menyinggung Komnas Perempuan, yang lahir sebagai respons atas tragedi tersebut. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai komisioner pertama di lembaga itu. Yang lebih kuat lagi, Presiden BJ Habibie saat itu secara terbuka menyampaikan permintaan maaf, yang menurut Ita jadi sinyal negara memang tahu dan mengakui adanya kekerasan seksual dalam tragedi itu.
Namun, usai konferensi pers, Ita mulai mengalami teror yang nyata. Jumat malam sekitar pukul 11 malam, ada telepon masuk ke rumahnya. Penelepon itu meneriakkan 'antek Cina kamu!' dengan nada agresif. Awalnya Ita diam saja, tapi ternyata tidak berhenti di situ.
Dini hari Minggu, penelepon yang sama menelepon kembali. Kali ini lebih mengerikan. "Kamu keluarga PKI, suamimu tapol, matiin orang PKI itu gampang, tidak ada yang membela," katanya. Bahkan, ancaman itu diakhiri dengan kalimat: "Saya bungkam mulut kamu sampai mati."
Ita membenarkan bahwa suaminya memang seorang tahanan politik (tapol) pada masa lalu dan kini dalam kondisi sakit. Namun, itu tidak mengurangi komitmen keluarganya untuk terus merawat dengan kasih sayang. Tekanan tidak membuatnya surut untuk tetap memperjuangkan kebenaran sejarah.
Ancaman seperti ini bukan baru sekali ia hadapi. Tahun 1998, saat mendampingi korban bernama Fransisca dan dua anak di Pondok Bambu, Ita pernah menerima surat ancaman penculikan terhadap anaknya sendiri. Bahkan guru anaknya ikut diteror, sampai akhirnya orangtua Ita turun tangan dan membawa cucu-cucunya kembali ke Yogyakarta.
Semua ini memperkuat bahwa pemerkosaan 1998 bukanlah sekadar rumor. Fakta-fakta seperti pembentukan TGPF, pengakuan Presiden, dan saksi-saksi hidup membuktikan bahwa tragedi itu nyata adanya. Bahkan sekarang pun, masih ada pihak yang mencoba menghapus jejak sejarah demi kepentingan tertentu. Tapi Ita tetap berdiri kokoh, menyuarakan kebenaran meski harus berhadapan dengan ancaman hidup.
_____________