Rocky Gerung Sindir PSI: Katanya Partai Anak Muda, Kok Calon Ketumnya Orang Tua?
Di tengah dinamika politik Indonesia yang terus berubah, Rocky Gerung kembali melontarkan pernyataan tajam yang memicu perdebatan publik. Kali ini, ia menyoroti Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang selama ini dikenal sebagai partai anak muda. Menurut Rocky, ada hal yang bertolak belakang antara semangat partai tersebut dan realita yang terjadi di lapangan, terutama terkait calon ketua umum yang kabarnya berasal dari kalangan orang tua.
"Anak muda itu berkumpul di PSI, tempatnya Ade Armando. Isinya orang tua, dan yang akan jadi ketua orang tua," sindir Rocky saat hadir dalam program *Rakyat Bersuara* di iNews TV, Rabu (11/6/2025). Pernyataan ini langsung menarik perhatian publik, mengingat PSI memang selama ini mengklaim sebagai partai yang mendorong regenerasi politik.
Kontras antara Narasi dan Realita PSI
PSI dikenal luas sebagai partai yang mencoba membuka ruang bagi generasi muda dalam kancah politik nasional. Dengan gaya komunikasi yang modern, aktif di media sosial, dan sering menampilkan wajah-wajah baru, partai ini membangun citra sebagai rumah bagi pemuda yang ingin membawa perubahan. Namun, kenyataan bahwa calon ketua umum berasal dari generasi lebih tua menimbulkan pertanyaan besar tentang konsistensi partai ini terhadap visi tersebut.
"Ini soal otentisitas politik," jelas Rocky. "Kalau PSI bilang ini partainya anak muda, ya jangan dong ketuanya orang tua. Nanti orang bingung, ini partai anak muda atau partai nostalgia?"
Rocky dan Jurnal PSI: Sebuah Ironi?
Menariknya, dalam kesempatan yang sama, Rocky mengaku bahwa dirinya punya peran dalam sejarah awal PSI. Ia menyebut bahwa jurnal pertama partai tersebut merupakan tulisannya sendiri yang berjudul *Arah Generasi*. Judul yang sangat relevan jika dikaitkan dengan kritiknya saat ini.
"Saya yang tulis jurnal pertama PSI, judulnya *Arah Generasi*," kata Rocky. "Dan sekarang, arahnya malah ke generasi lama lagi."
Hal ini menambah dimensi ironi dari pernyataan Rocky. Ia yang dulu ikut merumuskan arah perjuangan partai tersebut, kini justru menyaksikan arah itu menyimpang dari semangat awalnya. Jurnal yang seharusnya menjadi fondasi ideologis kini malah bertolak belakang dengan praktik politik partai saat ini.
Fenomena Partai Muda tapi Pengurusnya Senior
Fenomena partai muda yang diisi oleh tokoh-tokoh senior sebenarnya bukan hal baru dalam politik Indonesia. Banyak partai yang menjual semangat pembaruan, namun pada kenyataannya tetap bergantung pada tokoh tua yang dianggap punya pengalaman, jaringan, atau modal politik. Hal ini memunculkan semacam kontradiksi yang menurut Rocky, mencederai kepercayaan publik, khususnya generasi muda yang ingin terlibat secara lebih serius dalam politik.
"Kalau anak muda terus disuruh di bawah, lalu yang di atas tetap generasi lama, kapan regenerasinya jalan?" tanya Rocky dalam nada retoris. "Itu artinya PSI hanya menjadikan anak muda sebagai alat kosmetik politik."
PSI dan Citra di Tahun Politik 2025
Tahun 2025 menjadi momen penting bagi banyak partai politik, termasuk PSI. Setelah mengalami pasang-surut dalam beberapa tahun terakhir, partai ini tengah bersiap menyambut momentum konsolidasi politik nasional. Namun dengan munculnya isu seperti ini, PSI mungkin perlu lebih cermat membaca situasi publik, terutama persepsi generasi muda terhadap arah partai.
Citra partai sangat ditentukan oleh wajah pemimpinnya. Ketika yang ditampilkan justru tokoh-tokoh lama, maka sulit bagi publik untuk percaya bahwa PSI masih mewakili semangat kaum muda. Di era politik yang makin transparan, klaim tanpa bukti bisa menjadi bumerang.
Ade Armando, PSI, dan Persepsi Publik
Dalam pernyataannya, Rocky juga menyinggung keberadaan Ade Armando yang kini aktif di PSI. Ade dikenal sebagai akademisi yang vokal dan mendukung narasi kebebasan berpendapat. Namun menurut Rocky, keberadaan sosok seperti Ade tak cukup membuktikan bahwa PSI masih relevan sebagai partai muda jika pada akhirnya wajah utama partai tetap berasal dari kalangan senior.
"Ade itu memang punya banyak pengikut, tapi dia bukan wajah yang bisa mewakili anak muda hari ini. PSI harus punya figur muda yang bisa bicara, bergerak, dan berpikir segar," ujar Rocky.
Respons Publik dan Media Sosial
Seperti biasa, komentar Rocky langsung menyebar luas di media sosial. Banyak netizen yang menyuarakan kekecewaan terhadap PSI karena dianggap inkonsisten. Beberapa bahkan menyebut bahwa PSI sedang mengalami *krisis identitas*, di mana klaim partai anak muda hanya tinggal label, bukan lagi substansi.
"Ini seperti restoran yang mengaku jual makanan sehat, tapi menu utamanya gorengan," tulis salah satu netizen di Twitter. Kritik ini tampaknya cukup mewakili keresahan publik tentang politik pencitraan yang tidak disertai konsistensi ideologis.
Penutup: Antara Citra dan Realita
Dalam dunia politik, citra adalah aset penting. Namun ketika citra tidak sejalan dengan realita, maka publik bisa dengan mudah kehilangan kepercayaan. Kasus PSI yang disinggung oleh Rocky Gerung adalah contoh nyata bagaimana branding politik perlu dijaga agar tidak menjadi bumerang. Di tengah generasi muda yang semakin kritis dan melek informasi, partai manapun harus berhati-hati menyelaraskan narasi dengan tindakan nyata.
Sekarang, publik menunggu langkah selanjutnya dari PSI 2025. Akankah mereka tetap pada jalur anak muda? Atau justru bergeser menjadi partai tua dengan wajah baru? Waktu yang akan menjawabnya.
_____________