Unggahan Viral Pertanyakan Etika Seorang Menteri
Akun X (Twitter) bernama @AirinDatangLagi mengunggah foto Tito Karnavian disertai kritik tajam: "Bahkan dia tak Mengucapkan Maaf atas Kegaduhan ini... Dia sama sekali tak Mengucapkan Kata Maaf ke Warga Aceh gitu..??" Unggahan itu langsung meledak dengan lebih dari 429 ribu tayangan, 1.700 retweet, dan ribuan likes hanya dalam waktu kurang dari sehari. Unggahan ini mencerminkan kekecewaan sebagian publik terhadap sikap Tito selama konflik administratif tersebut berlangsung.
Warganet Ramai-Ramai Menuntut Klarifikasi
Kolom komentar pun dibanjiri respons beragam. Ada yang menyebut Tito sebagai "master divide et impera", hingga sindiran keras soal netralitas pejabat negara. Sebagian besar warganet merasa bahwa kegaduhan yang terjadi seharusnya direspons dengan sikap kenegarawanan, yaitu minimal menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Aceh yang merasa tersinggung atau terabaikan selama proses penentuan batas wilayah tersebut.
Tito Belum Beri Pernyataan Resmi
Hingga saat berita ini ditulis, Tito Karnavian belum memberikan pernyataan publik menanggapi viralnya kritik tersebut. Tidak ada klarifikasi resmi dari Kemendagri terkait alasan mengapa Tito tidak menyampaikan permintaan maaf atau penyesalan atas ketegangan yang sempat meningkat di antara masyarakat Aceh dan Sumatera Utara. Kemendagri pun masih belum mengeluarkan siaran pers atau keterangan tambahan terkait dinamika pasca keputusan presiden.
Isu Sensitif yang Perlu Direspons Bijak
Banyak pengamat politik menilai, konflik batas wilayah seperti ini bukan hanya soal teknis administrasi, tapi menyangkut rasa keadilan dan identitas masyarakat. Ketika warga merasa tidak dihargai, permintaan maaf bukan sekadar formalitas, tapi bentuk empati dari pejabat publik. Apalagi jika sudah menyangkut Aceh — sebuah wilayah yang punya sejarah politik dan sensitivitas tinggi terhadap perlakuan pemerintah pusat.
Akankah Tito Beri Penjelasan?
Tekanan publik agar Tito segera memberikan klarifikasi atau permintaan maaf tampaknya akan terus meningkat. Dalam era digital seperti sekarang, diam bisa menjadi bumerang, terlebih ketika narasi di media sosial sudah terlanjur terbentuk. Banyak pihak menunggu apakah Tito akan menanggapi langsung isu ini atau memilih tetap bungkam di tengah sorotan luas. Yang pasti, opini publik sedang mengarah ke ujung yang tajam.
_____________