Ketegangan antara Ukraina dan Rusia kembali memanas setelah Presiden Ukraina, Vladimir Zelensky, menolak keras usulan gencatan senjata sementara yang diajukan Rusia dalam perundingan di Istanbul pada 2 Juni 2025. Usulan tersebut, yang datang dari kepala delegasi Rusia, Vladimir Medinsky, bertujuan untuk memfasilitasi pengambilan jenazah para tentara yang gugur di garis depan. Namun, Zelensky tidak melihat hal itu sebagai niat tulus.
Zelensky: "Mereka Idiot"
Pernyataan keras Zelensky mencuri perhatian publik dan media internasional. Dalam sesi tanya jawab bersama wartawan, ia secara terang-terangan menyebut usulan Rusia untuk jeda dua hingga tiga hari sebagai hal yang tak masuk akal. "Saya pikir mereka idiot," kata Zelensky, menegaskan bahwa jika ada gencatan senjata, itu seharusnya bertujuan untuk menyelamatkan nyawa, bukan hanya untuk mengambil jenazah dari medan tempur.
Menurut Zelensky, Rusia tidak sungguh-sungguh ingin menghentikan perang. Ia mendesak agar dunia tidak terkecoh dengan manuver diplomatik semacam itu. "Kita sudah melihat sebelumnya bagaimana mereka gunakan waktu jeda hanya untuk mempersiapkan serangan lanjutan," ujarnya tegas.
Usulan Rusia: Demi Kemanusiaan atau Strategi?
Dari pihak Moskow, Medinsky mengklaim bahwa niat Rusia adalah kemanusiaan. Ia menyebut, pihaknya ingin memberikan kesempatan agar jenazah dapat dikuburkan secara layak sesuai tradisi Kristen. "Kami ingin mencegah wabah penyakit dan menghormati mereka yang gugur," ujarnya, sambil menambahkan bahwa Rusia telah berhasil mengidentifikasi 6.000 jenazah tentara dan perwira Ukraina melalui tes DNA.
Namun di mata Kiev, itu hanyalah manuver politik Rusia. Zelensky menyebut Medinsky sebagai pejabat rendahan yang tidak memahami teknis di lapangan. "Dia bahkan tidak tahu apa yang dia bicarakan," kata Zelensky, sambil menyinggung bahwa pertukaran jenazah sudah sering terjadi tanpa adanya kesepakatan resmi atau gencatan senjata.
Ukraina Ingin Gencatan Senjata Penuh 30 Hari
Pemerintah Ukraina tetap kukuh pada posisinya: gencatan senjata harus bersifat penuh dan berlangsung minimal 30 hari sebelum ada pembicaraan damai yang berarti. Proposal resmi pun telah diajukan dalam perundingan tersebut, dengan harapan Rusia bisa menerima syarat itu sebagai langkah awal menuju perdamaian.
Namun Rusia menolak mentah-mentah. Menurut Moskow, jeda selama itu hanya akan memberi kesempatan bagi pasukan Ukraina untuk mengatur ulang strategi dan memperkuat diri. Sebaliknya, mereka hanya mengusulkan gencatan senjata temporer di wilayah tertentu.
Hubungan Dua Negara Makin Kaku
Hubungan antara Ukraina dan Rusia memang semakin sulit diperbaiki. Bahkan sebelum putaran pertama negosiasi pada Mei lalu, Zelensky sudah menunjukkan ketidaksukaan terhadap tim negosiator Rusia. Ia menyebut mereka sebagai "alat peraga sandiwara," komentar yang langsung memicu kecaman dari Moskow.
Pernyataan-pernyataan frontal dari Presiden Ukraina memang bukan hal baru. Ia dikenal sebagai pemimpin yang vokal dan tidak ragu menyampaikan kritik tajam, terutama jika merasa pihak lawan hanya ingin bermain sandiwara diplomatik.
AS Diminta Bertindak Lebih Tegas
Dalam kesempatan yang sama, Zelensky juga mendesak Amerika Serikat agar segera menjatuhkan sanksi baru kepada Rusia. Ia yakin bahwa tekanan ekonomi dan politik yang lebih besar dari Barat dapat memaksa Moskow menerima proposal damai dari Kiev.
"Kami butuh tekanan nyata. Jika tidak, mereka hanya akan bermain-main di meja perundingan," ungkapnya. Menurut Zelensky, saat ini dunia harus berdiri di sisi yang benar dan tidak memberi ruang bagi agresor untuk mengambil keuntungan.
Realita di Medan Perang: Pertukaran Jenazah Tetap Terjadi
Menariknya, meskipun perundingan tingkat tinggi masih menemui jalan buntu, di lapangan pertukaran jenazah tetap terjadi secara informal. Zelensky sendiri mengakui bahwa unit-unit Ukraina dan Rusia kerap bertukar jenazah tanpa perlu jeda formal atau perjanjian gencatan senjata.
"Itu sudah terjadi. Tidak perlu protokol macam-macam. Kami hanya ingin memastikan mereka yang gugur mendapat pemakaman yang layak," katanya.
Hal ini membuktikan bahwa di tengah kekejaman perang, masih ada sisa-sisa kemanusiaan di antara para prajurit di garis depan. Namun, untuk level kenegaraan, keputusan seperti ini tetap menjadi isu sensitif dan penuh pertimbangan politik.
Perang Retorika yang Tak Kunjung Usai
Saat ini, perang bukan hanya terjadi di medan tempur, tapi juga dalam bentuk retorika politik. Kedua pihak terus melontarkan pernyataan yang saling menyinggung, memperkeruh suasana, dan membuat upaya damai makin sulit dilakukan.
Meski perundingan tetap berjalan, banyak pihak pesimis dengan hasilnya. Selama tidak ada kesepakatan tentang durasi dan bentuk gencatan senjata, maka dialog akan terus buntu. Di sisi lain, korban terus berjatuhan dan krisis kemanusiaan semakin dalam.
Perang Ukraina 2025 sudah memasuki fase kritis. Kebutuhan untuk solusi jangka panjang semakin mendesak. Namun selama kepercayaan antarpihak masih rendah, maka jalan menuju perdamaian akan tetap terjal.
_____________