Mantan Ketua Dewan Guru Besar [Universitas Gadjah Mada (UGM)](/search?q=Universitas+Gadjah+Mada), Prof Koentjoro, mengutarakan pandangan tegasnya terhadap Presiden Joko Widodo dalam sebuah program televisi nasional. Dalam tayangan Program ROSI di Kompas TV pada Kamis malam, 31 Juli 2025, Koentjoro secara blak-blakan menyebut bahwa Jokowi adalah seorang pembohong dalam banyak hal. Namun, di sisi lain, ia juga menegaskan keyakinannya bahwa ijazah Jokowi benar-benar asli.
Koentjoro dengan lugas menjawab pertanyaan host acara, [Rosiana Silalahi](/search?q=Rosiana+Silalahi), yang menyinggung soal keyakinannya bahwa Jokowi adalah alumni UGM yang sah. Ia membantah bahwa pernyataannya tersebut dilatarbelakangi keinginan membela Jokowi. "Tidak. Saya konsisten. Tahun 2024 saya bahkan membaca petisi yang berisi kritik terhadap Jokowi," ujarnya. Saat itu, menurutnya, ia sangat tidak menyukai berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh sang presiden.
Pernyataan bahwa Jokowi sering berbohong bukanlah tuduhan yang dilontarkan secara sembarangan oleh Koentjoro. Ia menyebut bahwa sebagai kepala negara, Jokowi semestinya menjalankan amanah yang tertulis dalam Pembukaan [UUD 1945](/search?q=UUD+1945), yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun menurut Koentjoro, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik. Ia merasa sebagai dosen, ia sudah menjalankan kewajibannya, tetapi presiden justru melanggar prinsip kejujuran.
"Kalau presidennya berbohong, maka saya sebagai pendidik wajib menyuarakan kritik. Saya tuntut agar presiden tidak berbohong," tegasnya. Lebih lanjut, ia mengungkapkan kekecewaannya atas langkah politik Jokowi setelah tak lagi menjabat presiden. Menurut Koentjoro, Jokowi pernah menyatakan keinginannya untuk tinggal di rumah dan tidak ikut campur dalam politik. Namun, kenyataan berkata lain—Jokowi kini masih aktif menyuarakan pendapat dan mendukung partai politik tertentu.
Hal inilah yang menurut Koentjoro menjadi bukti inkonsistensi Jokowi. "Semakin hari, pernyataannya tidak konsisten. Dan bagi saya, konsistensi itu penting dalam kepemimpinan," tuturnya. Ia pun menegaskan, jika diberi kesempatan kembali, ia tak akan ragu untuk mengkritik mantan presiden tersebut. Kritik, menurutnya, bukan soal membenci, melainkan bagian dari menjaga integritas akademik dan tanggung jawab intelektual.
Meski keras dalam mengkritik, Prof Koentjoro tetap menegaskan bahwa ia percaya Jokowi adalah alumni Fakultas Kehutanan UGM yang lulus dengan ijazah asli. Ia menyampaikan hal tersebut dengan penuh keyakinan dan integritas. "Sebagai seorang guru besar, saya harus memegang teguh kebenaran. Seorang profesor boleh saja melakukan kesalahan, tetapi tidak boleh berbohong," ungkapnya dengan nada serius.
Pandangan Koentjoro ini menambah catatan panjang kritik dari kalangan akademisi terhadap sosok Jokowi yang dulunya sangat dielu-elukan. Meski banyak yang memuji pembangunan infrastruktur di masa pemerintahannya, tidak sedikit pula yang menganggap arah politiknya di akhir masa jabatan terlalu pragmatis. Hal ini menciptakan ruang diskusi baru soal [peran mantan presiden](/search?q=peran+mantan+presiden) dalam dinamika politik nasional pasca-lengser.
Kisah Prof Koentjoro ini menunjukkan bahwa integritas akademik tak selalu berjalan seiring dengan loyalitas politik. Dalam dunia akademis, kejujuran dan konsistensi merupakan hal yang tak bisa ditawar. Maka tak heran, saat seorang profesor berbicara soal moral dan etika pemimpin, publik pun ikut menaruh perhatian besar.
_____________