_____________
Ads
Presiden Prabowo Subianto dikenal berasal dari keluarga yang memiliki jejak panjang dalam sejarah Indonesia. Kakeknya dari garis ayah, Raden Mas (RM) Margono Djojohadikusumo, dikenal sebagai salah satu pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) sekaligus tokoh perekonomian nasional.
Namun, tak banyak yang mengetahui dari garis ibu, Prabowo juga memiliki leluhur yang tercatat dalam sejarah, yakni Benjamin Thomas Sigar (1790-1879), tokoh Minahasa yang pernah memimpin Pasukan Tulungan (Hulptroepen) pada masa Perang Jawa.
Benjamin merupakan kakek buyut dari pihak ibu Prabowo. Dikutip dari jurnal “Dalam Bayang-bayang Maskulinitas: Studi Kasus Branding Politik Prabowo Subianto” karya Wahyu Triyogo dan kawan-kawan., ibunda Prabowo, Dora Marie Sigar, merupakan keturunan dari tokoh Minahasa bernama Benjamin Thomas Sigar.
Mengutip dari ANTARA, Dora lahir dan besar di Langowan, Sulawesi Utara. Ayahnya, Frederik Sigar, merupakan pejabat pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Keresidenan Manado.
Dalam buku “Sejarah dan Kebudayaan Minahasa” karya Jessy Wenas dijelaskan, pemerintah kolonial Belanda meminta bantuan prajurit Minahasa untuk mengirim pasukan ke Pulau Jawa pada masa Perang Jawa (1825–1830).
Pasukan tersebut dikenal sebagai Pasukan Tulungan atau bantuan. Pembentukannya ditandai dengan penandatanganan kontrak pada 23 Desember 1827 antara perwakilan Minahasa, yakni Abraham Dotulong dan J. Kawilarang, dengan Letnan A. Voges dari pihak Belanda.
Berdasarkan perjanjian tersebut, Minahasa mengirimkan 1.421 personel yang dipimpin Mayoor Tololiu Dotulong.
Benjamin Thomas Sigar ditunjuk sebagai salah satu kapitein atau kapten pasukan yang mewakili wilayah Langowan. Selain Benjamin, terdapat pula Rotinsulu dari Tonsea dan Polingkalim dari Tondano yang memimpin pasukan di wilayah masing-masing.
Pasukan Tulungan diberangkatkan ke Pulau Jawa pada 29 Maret 1829. Dilansir dari laman National Geographic, sejarawan Peter Carey menjelaskan, pasukan tersebut terlibat dalam pertempuran di Siluk, sebelah barat Yogyakarta, pada 17 September 1829.
Mereka juga mengikuti operasi militer di Jawa hingga menjelang perundingan antara Pangeran Diponegoro dan Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock di Magelang pada 1830. Namun, perundingan tersebut berakhir dengan penangkapan Diponegoro oleh pemerintah kolonial Belanda.
Setelah Perang Jawa selesai, mereka kembali ke Minahasa pada tahun berikutnya, dan para pemimpin Pasukan Tulungan kembali menduduki jabatan kepala walak--pemimpin wilayah adat di Minahasa--di wilayah masing-masing.
Pada 1830, pemerintah Hindia Belanda mereorganisasi sistem pemerintahan di Minahasa, dengan mengubah istilah kepala walak menjadi Hukum Besar, wakilnya menjadi Hukum Kedua, dan kepala desa menjadi Hukum Tua.
Mengutip ANTARA, Benjamin Sigar juga pernah menjabat sebagai Hukum Besar dengan pangkat Mayor di Langowan. Ia hidup sezaman dengan pendeta Johann Gottlieb Schwarz yang menyebarkan agama kristen di tanah Minahasa.
liputansembilan