Adibah Aulia Pulungan
Program Studi Akuntansi Syariah - Universitas Islam Tazkia Bogor
Per Juni 2026, aset perbankan syariah mencapai Rp1.075,18 triliun, naik sekitar 11% dari Rp967,33 triliun setahun sebelumnya (OJK, 2025; OJK, 2026).
Tapi kenapa pangsanya tidak ikut naik? Porsi bank syariah terhadap seluruh perbankan nasional justru turun tipis, dari 7,41% menjadi 7,36%. Asetnya bertambah, tapi bagiannya tidak ikut naik.
Pada dasarnya, pangsa pasar menunjukkan seberapa besar bagian bank syariah dari seluruh aset perbankan. Alasan yang paling sering terdengar adalah literasi masyarakat yang masih rendah. Apakah benar hanya itu? Tulisan ini mencoba melihatnya dari data terbaru.
Tumbuh, tapi Belum Cukup Cepat
Supaya pangsa pasar naik, bank syariah seharusnya tumbuh lebih cepat daripada perbankan secara keseluruhan. Bukan sekadar tumbuh, tapi lebih cepat dari yang lain.
Kalau kita bandingkan, aset perbankan nasional naik dari Rp13.053,34 triliun pada Juni 2025 menjadi Rp14.600,89 triliun pada Juni 2026, atau sekitar 11,9% (OJK, 2025; OJK, 2026). Sementara itu, aset bank syariah naik sekitar 11,1%. Selisihnya memang kecil, tapi cukup untuk membuat pangsanya bergeser turun. (Persentase pertumbuhan dihitung penulis dari kedua laporan OJK tersebut.)
Jadi sebenarnya bank syariah tidak berhenti tumbuh. Hanya saja, bank lain juga ikut tumbuh dengan kecepatan yang hampir sama.
Literasi Rendah, Inklusi Lebih Rendah
Lalu bagaimana dengan alasan literasi yang tadi? Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 mencatat literasi keuangan syariah sebesar 43,07% dan inklusinya 13,24%. Sebagai pembanding, keuangan konvensional mencatat literasi 69,57% dan inklusi 93,53% (OJK, LPS, & BPS, 2026).
Jika kita lihat selisihnya. Jurang literasi sekitar 26,5 poin, tapi jurang inklusi sekitar 80 poin. Artinya, ada banyak orang yang sudah cukup paham, tapi belum memakai produknya. Perlu dipahami bahwa literasi mengukur pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku, sedangkan inklusi mengukur penggunaan produk. Jadi angka ini lebih tepat dibaca sebagai pola, bukan perbandingan yang setara.
Dugaan bahwa literasi bukan satu-satunya penyebab ini sejalan dengan Solikha dan Haryanti (2026). Dalam tinjauan literaturnya, mereka menyebutkan bahwa daya saing bank syariah dipengaruhi lima faktor internal: produk dan layanan, promosi dan edukasi, sumber daya manusia, teknologi dan infrastruktur, serta struktur dan operasional. Ada juga faktor eksternal seperti kondisi makroekonomi, regulasi, dan pengawasan. Literasi nasabah memang penting, tapi hanya salah satu dari banyaknya faktor.
Kenapa Masih Tertahan?
Nur dkk. (2026) mengingatkan bahwa pertumbuhan aset yang tinggi belum berdampak secara sistemik kalau tidak diikuti transformasi. Struktur industrinya pun bergerak: aset bank umum syariah naik dari Rp653,89 triliun menjadi Rp817,56 triliun, sementara unit usaha syariah turun dari Rp288,65 triliun menjadi Rp231,51 triliun (OJK, 2025; OJK, 2026). Artinya, komposisi industri bergeser ke bank umum syariah, meski penyebabnya tidak saya telusuri di sini.
Menurut saya, literasi memang perlu diperbaiki, tetapi belum cukup. Data di atas menunjukkan pola, bukan bukti sebab-akibat.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Bank syariah tidak cukup hanya tumbuh, tapi perlu tumbuh lebih cepat dari industri. Ada tiga langkah yang menurut saya layak dipertimbangkan.
1. Perkuat skala dan transformasi. Nur dkk. (2026) menekankan bahwa pertumbuhan aset belum berdampak sistemik tanpa transformasi, sedangkan Solikha dan Haryanti (2026) menyarankan strategi holistik yang menguatkan faktor internal sambil beradaptasi dengan faktor eksternal. Produk, SDM, dan teknologi perlu dibenahi secara bersamaan.
2. Ubah literasi menjadi penggunaan. Edukasi perlu disertai kemudahan mencoba produk, misalnya lewat layanan digital yang praktis. Nur dkk. (2026) juga mengusulkan program literasi dengan pendekatan digital. Pemahaman yang baik tidak banyak berarti kalau orang tidak punya akses dan alasan untuk beralih.
3. Ukur keberhasilan dengan pangsa pasar. Pertumbuhan aset dua digit terdengar meyakinkan, tetapi tidak otomatis membuat pangsa pasarnya ikut naik. Pelaporan yang membandingkan pertumbuhan syariah dengan perbankan nasional akan membuat capaian lebih jujur.
Aset bank syariah memang tumbuh, tapi pangsanya masih tertahan. Literasi penting, namun data menunjukkan ia bukan satu-satunya penjelasan. Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “seberapa besar bank syariah tumbuh”, melainkan “seberapa cepat ia tumbuh dibanding yang lain”.
# Ekonomi
# Keuangan
Portal Andalas -
Minggu, 01 November 2026
Analisis Aset dan Pangsa Pasar Bank Syariah: Tumbuh tapi Stagnan
Adibah Aulia Pulungan Program Studi Akuntansi Syariah - Universitas Islam Tazkia Bogor Per Juni 2026, aset perbankan syariah mencapai Rp1...
_____________
.jpg)