Demi Kemaslahatan Masyarakat dan Bangsa, Koordinator Alumni GMNI Indonesia Raya Yang Juga Orang Dekat Emil Dardak Ini Berharap Gus Gudfan Bersedia Pimpin PB NU
_____________
Baca berita terkini, kirim berita, dan sebarkan fakta. Akses cepat langsung dari beranda perangkat Anda.
_____________
_____________
_____________
_____________
_____________
_____________
_____________
_____________
_____________
_____________

_____________
Di berbagai kota besar, Alfamart dikenal sebagai salah satu pilihan belanja yang ekonomis. Dengan sistem harga yang relatif stabil dan sering memberikan diskon, banyak konsumen menjadikannya rujukan utama untuk kebutuhan harian. Namun, berbeda halnya dengan yang terjadi di Kabupaten Kerinci, Jambi. Di wilayah ini, Alfamart hadir secara diam-diam dengan nama-nama lain seperti Hamparan Mart, Habib Mart, dan berbagai nama lokal lainnya, namun tetap berada di bawah manajemen jaringan yang sama.
Kehadiran mereka yang menyamar ini awalnya tidak banyak disadari masyarakat. Pasalnya, secara visual toko-toko ini memang tampak seperti minimarket biasa dengan label lokal. Namun belakangan, sejumlah konsumen mulai menyadari kesamaan pola, layout toko, sistem kasir, hingga barang-barang promosi yang identik dengan Alfamart. Penelusuran lebih dalam mengungkap bahwa toko-toko tersebut memang berafiliasi dengan jaringan Alf amart, meski tak menggunakan nama resminya.
Yang lebih mengejutkan, harga barang di toko-toko samaran Alfamart ini justru jauh lebih mahal dibandingkan minimarket biasa milik warga lokal. Ini bertolak belakang dari citra Alfamart di kota-kota lain yang dikenal lebih murah dan transparan. Di Kerinci, banyak warga justru mengeluhkan kenaikan harga secara diam-diam.
"Saya beli susu anak di Hamparan Mart, harganya Rp57.000. Padahal di toko biasa dekat rumah cuma Rp49.000. Awalnya saya kira karena beda merek, ternyata sama persis," ujar Nisa, warga Sungai Penuh. Hal serupa juga diungkapkan oleh Erwan, pelanggan lainnya. "Air mineral botol kecil di Habib Mart Rp4.500, di toko biasa cuma Rp3.500. Ini bukan selisih biasa, tapi keterlaluan," katanya geram.
Keputusan menggunakan nama-nama lain ini disebut sebagai strategi bisnis karena beberapa wilayah di daerah pedesaan atau semi-kota seperti Kerinci sering memberikan penolakan terhadap waralaba besar. Warga lokal khawatir kehadiran retail modern akan mematikan toko-toko kecil tradisional.
"Kalau pakai nama Alfamart, mungkin dari awal sudah ditolak warga atau tidak dapat izin lokasi. Tapi begitu pakai nama lokal, banyak yang tidak sadar dan mengira itu minimarket baru milik warga sekitar," ujar salah satu tokoh pemuda di Kerinci yang enggan disebutkan namanya.
Salah satu hal yang paling menarik adalah bahwa minimarket lokal di Kerinci justru menawarkan harga yang lebih bersaing. Banyak di antaranya bahkan memberikan potongan harga untuk pembelian grosir atau memberikan bonus produk. Ini berbeda dengan Alfamart samaran yang mematok harga tetap tanpa adanya diskon berarti.
"Toko kami memang kecil, tapi kami berani bersaing soal harga. Kami langsung ambil dari agen, tidak lewat pusat seperti mereka. Jadi harganya bisa ditekan," ujar Rahman, pemilik minimarket lokal di Kayu Aro.
Setelah informasi ini mulai menyebar lewat media sosial dan dari mulut ke mulut, reaksi warga pun bermunculan. Banyak yang merasa tertipu karena mengira mereka berbelanja di toko lokal, padahal ternyata bagian dari jaringan waralaba besar. Beberapa bahkan menyerukan agar pihak berwenang melakukan audit dan mewajibkan transparansi kepemilikan bisnis di wilayah tersebut.
"Kalau memang itu Alfamart, ya tulis Alfamart. Jangan seolah-olah toko lokal tapi harga kayak premium, layanan pun biasa saja," tegas Fadil, salah satu aktivis pemuda Kerinci.
Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Alfamart pusat terkait praktik penyamaran nama ini. Namun publik menuntut agar konsumen tidak dipermainkan dan informasi harga serta identitas toko disampaikan secara jujur.
Fenomena ini mengingatkan bahwa keterbukaan informasi dalam praktik perdagangan sangat penting, terlebih di daerah yang belum sepenuhnya terdigitalisasi. Warga Kerinci saat ini mulai lebih selektif memilih tempat belanja, dan dukungan terhadap toko lokal tampaknya akan semakin meningkat seiring rasa ketidakpercayaan terhadap "minimarket samaran" ini.
Bagi konsumen yang ingin memastikan tidak tertipu, penting untuk mulai membandingkan harga, melihat label produk, dan bertanya langsung kepada penjaga toko mengenai kepemilikan bisnis. Selain itu, keberadaan komunitas pembeli cerdas juga bisa menjadi solusi untuk saling berbagi informasi seputar harga dan layanan toko-toko di wilayah mereka.
_____________
Sebuah video promosi pariwisata Candi Borobudur tengah menjadi sorotan publik dan menuai kontroversi. Dalam video yang beredar luas di media sosial, terlihat sekelompok remaja wanita mengenakan kebaya dengan latar belakang Candi Borobudur, menyampaikan narasi yang dianggap menyindir ibadah umat Islam, khususnya haji dan umrah.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis, angkat bicara soal video tersebut. Melalui akun X miliknya, @cholilnafis, beliau menyampaikan keprihatinannya dan memberikan peringatan keras kepada pihak-pihak yang membuat konten semacam itu. Menurutnya, promosi wisata adalah hal yang sah dan bagus, tapi jangan sampai dilakukan dengan cara menyinggung ibadah agama lain.
"Mau wisata ke Borobudur atau ke sungai silakan saja, itu hak. Tapi jangan bawa-bawa biaya umrah dan antrian haji seolah-olah ibadah itu bisa dibandingkan begitu saja," kata beliau. Pernyataan ini datang sebagai bentuk respons terhadap narasi dalam video yang menyebut haji dan umrah terlalu mahal, sedangkan "tanah suci" leluhur bisa dikunjungi dengan murah meriah.
Konten yang dimaksud menampilkan remaja dengan narasi yang menyebut: "Tanah suci nggak harus jauh. Leluhur kita juga sudah mewariskan tanah suci. Modal sejuta bisa bolak-balik. Nggak perlu antre." Kalimat ini dinilai menyindir secara langsung ibadah haji dan umrah yang memang membutuhkan dana besar dan antrean panjang. Selain itu, pernyataan seperti "Minimal umrah ke Pringgodani, Gunung Lawu, Candi Sukuh, Candi Borobudur" terdengar seolah membandingkan ibadah umat Islam dengan kegiatan spiritual budaya lokal.
KH Cholil mempertanyakan motif di balik penggunaan anak-anak dalam menyampaikan narasi tersebut. "Ini kok istilahnya umrah ya, dan yang ngomong anak-anak pula. Apa maksudnya?" tulisnya dengan nada heran. Ia menilai konten semacam ini berpotensi memecah belah dan menciptakan ketegangan antarumat beragama.
Dalam penjelasannya, KH Cholil mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi kebebasan beragama, dan itu diatur serta dilindungi dalam konstitusi dan Pancasila. Namun, kebebasan tersebut bukan berarti bebas menyindir atau merendahkan praktik keagamaan orang lain demi kepentingan apapun, termasuk pariwisata.
"Toh kita menganut bebas menjalankan ajaran agama masing-masing. Dasarnya Pancasila. Jadi kalau mau promosikan budaya atau wisata, jangan sentuh yang sakral dari agama lain," tegas Kyai Cholil. Ia juga mengajak masyarakat agar lebih bijak dalam menyaring konten yang beredar di media sosial dan tidak mudah terprovokasi.
Video yang dimaksud awalnya diunggah oleh akun TikTok @Ngobrol Santai Indonesia. Berdurasi sekitar 1 menit 30 detik, video ini menampilkan sekelompok remaja perempuan dalam balutan kebaya tradisional, berdiri anggun dengan latar Candi Borobudur. Sambil tersenyum, mereka mengucapkan kata-kata yang bernuansa satire terhadap budaya "Tanah Suci" yang diasosiasikan dengan ibadah Islam.
Narasi video tersebut antara lain berbunyi: "Punya keris kok takut. Sama kembang takut. Bakar dupa kemenyan takut. Pakai blangkon ikat malu. Kebudayaan kita nggak kurang Tanah Suci." Kata-kata ini dianggap menyinggung karena membandingkan praktik spiritual lokal dengan ibadah Islam yang telah memiliki aturan dan makna yang sangat dalam bagi pemeluknya.
Setelah video ini viral, reaksi dari warganet pun bermunculan. Banyak yang mengkritik video tersebut karena dianggap merendahkan agama Islam secara halus. Beberapa juga menyesalkan keterlibatan remaja dalam konten yang bisa mengandung unsur provokatif. "Kenapa anak-anak dibawa-bawa buat nyindir agama orang?" tulis seorang pengguna X dengan nada kecewa.
Meski ada sebagian yang menyatakan bahwa video tersebut hanya bentuk ekspresi kebudayaan dan bukan sindiran, namun secara umum publik menilai bahwa konten seperti ini sebaiknya tidak dipublikasikan karena bisa menimbulkan kegaduhan agama.
Konten kreator dan pihak yang terlibat dalam industri pariwisata sejatinya memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan pesan dengan cara yang bijak dan beretika. Mempromosikan keindahan budaya lokal seperti Candi Borobudur, Prambanan, atau tempat-tempat spiritual di Nusantara adalah hal yang positif. Tapi ketika narasi promosi mulai menyinggung kepercayaan agama lain, di situlah batas yang tidak boleh dilanggar.
Apalagi di negara seperti Indonesia yang sangat plural, menyusun narasi harus sangat hati-hati. Ketika agama dibawa dalam konteks komparatif atau bahkan satire, potensi konflik sosial bisa muncul. Dan hal seperti ini bukan hanya merugikan masyarakat, tapi juga merusak citra dari pariwisata lokal itu sendiri.
KH Cholil pun mengingatkan kembali pentingnya nilai-nilai Pancasila, terutama dalam menjaga harmoni antarumat beragama. Pancasila bukan hanya dasar negara, tapi juga fondasi moral dan etika dalam hidup bermasyarakat di Indonesia.
"Kalau kita benar-benar menjunjung Pancasila, maka semestinya saling menghormati antaragama menjadi prioritas. Promosi budaya harus bisa berdampingan, bukan saling sindir," tegasnya. Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kebhinekaan Indonesia harus dijaga dengan tindakan nyata, bukan sekadar slogan.
Konten promosi wisata seharusnya menjadi jembatan yang memperkenalkan keindahan budaya dan sejarah nusantara tanpa harus menyinggung keyakinan orang lain. Video promosi Candi Borobudur yang kini ramai diperbincangkan semoga menjadi pelajaran bagi semua pihak, bahwa kreativitas dalam promosi harus disertai dengan rasa hormat terhadap keberagaman.
Dengan memadukan budaya, sejarah, dan narasi yang inklusif, Indonesia bisa menunjukkan kepada dunia bahwa kita mampu menjaga warisan leluhur sekaligus menghargai semua kepercayaan yang ada. Seperti kata Kyai Cholil: silakan wisata, tapi jangan sentuh sakralitas agama lain. Mari jaga damai bersama.
_____________
_____________
_____________
_____________
_____________
_____________
_____________
1. Biaya rendah: Atap tanah liat lebih murah dibandingkan atap seng. Hal ini karena bahan yang digunakan untuk membuat atap tanah liat cenderung lebih murah dibandingkan bahan yang digunakan untuk membuat atap seng.
2. Durabilitas tinggi: Atap tanah liat cenderung lebih tahan lama dibandingkan atap seng. Atap tanah liat dapat bertahan selama bertahun-tahun tanpa perlu diganti, sedangkan atap seng cenderung perlu diganti setelah beberapa tahun.
3. Ramah lingkungan: Atap tanah liat dapat dibuat dari bahan-bahan alami seperti tanah liat, tanah, dan pasir, sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan atap seng yang dibuat dari bahan-bahan industri.
4. Isolasi termal yang baik: Atap tanah liat dapat menyediakan isolasi termal yang baik sehingga dapat membantu untuk menjaga suhu ruangan tetap stabil dan menghemat biaya pemanasan dan pendinginan.
5. Tampilan yang indah: Atap tanah liat memiliki tampilan yang indah dan unik yang dapat menambah estetika bangunan.
Secara keseluruhan, atap tanah liat merupakan pilihan yang baik untuk bangunan yang membutuhkan atap yang ramah lingkungan, murah, dan tahan lama. Namun, perlu diingat juga bahwa atap tanah liat memerlukan perawatan dan pemeliharaan yang cukup untuk memastikan kualitas dan keamanannya.
_____________
Punya Kabar Menarik?
Bagikan di LiputanSembilan.com GRATIS! 🚀
Langsung tulis dan kirim tanpa login atau buat akun.
Apakah di sekitar kamu ada prestasi membanggakan, kisah inspiratif, atau acara penting yang jarang terliput media? Atau ingin mempromosikan produk dan jasa secara luas?
💡 LiputanSembilan.com membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengirimkan berita secara GRATIS!
✅ Berita tentang prestasi lokal, kisah unik, atau kejadian penting di komunitas Anda
✅ Promosi barang atau jasa untuk menjangkau lebih banyak orang
📢 Jangan lewatkan kesempatan ini! Kirim berita kamu sekarang dan jadilah bagian dari LiputanSembilan.com!